Jumat, 11 September 2015

Kisah Delon dan Rossi yang menjadi buruh pelabuhan


Adalah Delon, sapaan Onesimus Delon Naisoko seorang anak laki-laki berdarah Kefamenanu ibu kota kabupaten Timor Tengah Utara dan sahabat karibnya Rossi Fatin. Keduanya duduk di bangku kelas VI SDN Tenau Kupang. Alkisah keduanya selalu bersama baik dalam keseharian di rumah sebagai tetangga dan juga di sekolah sebagai teman kelas. 

Keduanya kelihatan gugup dengan kehadiran saya di samping mereka yang mendekati dan berusaha mengetahui aktivitas mereka saat mencoba menawarkan jasanya pada seorang calon penumpang KM. Bukit Siguntang, yang siang itu akan diberangkatkan dari pelabuhan Tenau Kupang tujuan Lewoleba Lembata.

Saya berusaha menghilangkan keluguhan dan gerogi yang terlihat diwajah kedua siswa itu. Dengan perlahan saya melontarkan beberapa pertanyaan yang bertujuan mengakrabkan kami sekaligus dapat mengetahui latar belakang kehidupan keluarga.

Delon terlahir dari kedua orang tua yang telah berangkat ke perantauan sejak setahun yang lalu. Dimana ayahnya merantau ke Bali, sedangkan ibunya ke Marauke. Kini Delon hidup bersama nenek. Keseharian mereka berdua ketika pulang sekolah, selalu diisi dengan membantu kedua orang tua seperti anak-anak pada umumnya.

Namun ada perbedaan dengan yang lainnya, ketika ada jadwal kapal-kapal pelni yang akan bersandar di pelabuhan Tenau Kupang. Hari itu akan menjadi hari ekonomis bagi keduanya, dimana mereka akan mengadu nasib selama kurang lebih 2 jam, bersaing dengan para buruh pelabuhan untuk mendapatkan beberapa rupiah.

Dari pengakuan keduanya, hasil yang diperoleh pada hari-hari tersebut bisa mencapai Rp20.000,00 tergantung ramainya penumpang dan rejekinya masing-masing. Dari hasil tersebut, akan ditabungkan setengah bagian untuk keperluan sekolah, dan sisanya diberikan kepada orang tua. Delon mengungkapkan bahwa hasil yang diberikan kepada neneknya, akan digunakan untuk membeli keperluan makan-minum dalam rumah.

Tentara. Itulah cita-cita kedua siswa ini. Dan keduanya berharap dengan apa yang dilakukannya itu, dapat meringankan beban orang tua, terutama untuk menggapai cita-citanya. Ketika ditanya mengapa ingin menjadi tentara bukan polisi? Delon menjawab biar bisa amankan Tenau yang selalu terkenal dengan kejahatan, karena polisi saja, orang sonde takut.

Ibu Maria yang saat itu sedang menawarkan jasa kedua anak itu, ketika saya tanya mengapa lebih memilih mereka ketimbang buruh pelabuhan mengakui bahwa, buruh pelabuhan dalam menawarkan jasanya selalu tidak dengan cara sopan santun bahkan lebih cenderung memaksa.

Lebih lanjut Ia menyatakan, terkadang tanpa ada kata sepakat langsung dibawanya barang bawaan kita hingga tempat tujuan. Namun sayangnya ketika tiba di sana, kita akan diberi harga yang sangat tidak wajar, dengan kisaran yang mencapai Rp500.000,00, walaupun jaraknya hanya sejauh ruang tunggu menuju ke dalam kapal.

Menurut Delon, Ia beberapa kali membantu ibu-ibu yang kesulitan membawa barang karena menggendong bayinya, dengan tanpa meminta imbalan. Dengan harapan Bunda Maria dan Tuhan Yesus mau mendengarkan doanya untuk dapat menggapai cita-citanya tersebut.

Ketika ditanyakan apakah kegiatan yang dilakukan ini mengganggu aktifitas belajarnya di sekolah? Kata Delon yang lebih aktif dalam diskusi itu "sonde karena kapal biasa maso, saat jam pulang sekolah". Dengan demikian Ia dan temannya lebih leluasa untuk mencari pelanggan.

Keduanya bahkan mengakui jika memiliki beberapa pelanggan tetap, yang sering menjajahkan belanjaannya di atas kapal. 

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya gali dari keduanya, namun stom kapal berbunyi yang menandakan penumpang segerah masuk ke dalam kapal, membuat diskusi kami harus diakhiri. Pada akhir diskusi itu, sayapun tidak lupa memberikan motivasi dan dukungan untuk keduanya agar dapat menggapai cita-citanya, sambil mendoakan agar Tuhan mau memberikan jalan bagi mereka berdua.

0 komentar:

Posting Komentar