Asosiasi Guru Penulis Lembata

Hadiah Buku Pendidikan Matematika Realistik yang diberikan oleh Arie Wibowo, M.Pd guru matematika asal Kalimantas Selatan dalam momen Olimpiade Guru Nasional Tahun 2018 di Hotel D'Max, Praya, Lombok, Nusa Tenggara Barat tanggal 4 - 8 Mei 2018

Perwakilan NTT

Lima perwakilan NTT dalam ajang olimpiade guru nasional tahun 2018 yang terdiri dari guru mata pelajaran Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, dan guru kelas SD bersama para petinggi Kesharlindung Dikdas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Busana Daerah Papua

Bersama perwakilan guru asal Papua dalam ajang olimpiade guru nasional tahun 2018 saat malam penutupan, yang diwarnai dengan kekaragaman busana daerah masing-masing

Display Inovasi Pembelajaran

Menyanggahi pertanyaan para juri pada tahapan display dalam ajang Inovasi Pembelajaran tahun 2017 di Hotel Mercure Harvestland, Kuta, Bali, tanggal 4 - 8 September 2017

Wisata ke Pandawa

Diberikan kesempatan oleh panitia inobel untuk wisata bersama kelompok MIPA. Ini adalah salah satu destinasi wisata di Bali yang saya senangi

Jumat, 21 Januari 2022

Desain Pembelajaran Berorientasi AKM

Seremonial Pembukaan oleh Kepala Dinas Pendidikan Lembata

Mungkin akan muncul di benak para pembaca sekalian, mengapa harus AKM? Bukankah AKM itu hanya pemetaan mutu? Ya, demikian dugaan saya ketika para pembaca melihat sepintas judul dari tulisan ini. Namun tidak dapat dipungkiri jika masih ada banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang dapat saja dimunculkan ketika mulai membaca tulisan ini.

Perlu kita ketahui bersama bahwa pendidikan di Indonesia saat ini memang masih dalam tahapan pengembangan, dimana pengembangannya selalu mengarah pada penyempurnaan, bukan memulai sesuatu yang baru ya. Apalagi punya pandangan miring bahwa setiap ganti menteri pendidikan, ganti kurikulum. Bukankah melakukan hal yang sama secara berulang-ulang dan berharap hasil yang berbeda adalah gila menurut Albert Einstein.

Demikianlah pandangan yang sama dari ke-6 pimpinan satuan pendidikan tingkat SMP yang tergabung dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Kecamatan Lebatukan. Semula dengan pola menggabungkan para guru melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) masing-masing untuk “merancang” rencana pembelajaran, namun kali ini agak agak sedikit berbeda karena didahului dengan berbagi pengalaman pembelajaran pada semester sebelumnya, atau lebih dikenal dengan istilah refleksi atau Mulai Dari Diri dalam alur MERRDEKA pada program pendidikan guru penggerak.

Dalam berbagi pengalaman yang dilakukan bersama para pengawas sekolah, yang juga turut diundang dalam MKKS dan MGMP tersebut ternyata lebih banyak bersifat curhat yang mengacu pada paradigma lama yaitu menghabiskan materi pembelajaran, siswa sebagai subjek yang harus disalahkan, modul adalah satu-satunya sumber pembelajaran yang cocok di daerah 3T, praktik tidak dapat dilakukan dan minimnya waktu. Pada intinya pandemi covid19 adalah faktor penyebabnya.

Kenyataan sudah jelas bahwa Ujian Nasional (UN) sudah ditiadakan dan diganti dengan Asesmen Nasional (AN), yang mana hanya diambil sampel siswa seperti dalam pengisian angket Pemetaan Mutu Pendidikan (PMP) sebagai Evaluasi Diri Sekolah (EDS) yang selama mungkin sudah terbaca oleh menteri, jika hal itu hanya dilakukan oleh operator sekolah berdasarkan Internet Protocol (IP) Address yang tampil. Sehingga hasilnya selalu berbentuk segi-8 sempurna yang menggambarkan pemenuhan atas 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang ditetapkan.

Padahal jika dilihat hasil EDS dan kenyataan di lapangan itu berbanding terbalik. Dimana tujuannya untuk melihat mutu pendidikan di setiap satuan pendidikan mulai dari kompetensi guru, hingga pada pengelolaan keuangan. Namun karena selalu diabaikan, maka tidak heran jika mutu pendidikan kita selalu berada di tempat dan tidak menunjukkan adanya peningkatan. Ko saya jadi tukang kritis ya? Ya sudah, mari kita kembali ke kegiatan MKKS dan MGMP ya!

Berdasarkan pengalaman yang dibagikan teman-teman dalam MGMP, maka selaku Duta Rumah Belajar Nusa Tenggara Timur (DRB NTT) tahun 2021, dan juga pengajar praktik program guru penggerak yang diundang sebagai pemateri saat itu, tentunya harus ada sesuatu yang dapat menggugah atau setidaknya menginspirasi agar adanya perubahan seperti yang diharapkan ke-6 pimpinan di sana. Selain yang diharapkan para pimpinan, tentunya tidak terlewatkan untuk mensosialisasikan rumah belajar. Seperti kata rekan-rekan DRB, apa pun pelatihannya kemasannya harus memuat sosialisasi rumah belajar. Oleh karenanya dalam kegiatan ini atribut rumah belajar menjadi pilihan saya selaku DRB NTT 2021.   

Saya awali dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggugah atau dikenal dengan pertanyaan pemantik seperti dalam program pendidikan guru penggerak antara lain; bukankah setiap tantangan harus dihadapi, bukankah hasil AKM yang dinilai adalah guru, bukankah kita sudah berada pada zaman modern, bukankah kita punya budaya dan sumber daya alam yang kaya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti menggugah dan membangkitkan semangat baru bagi 60an guru yang hadir saat itu.

Seperti mengalami pembaharuan, atau diinstall ulang dalam ilmu komputer menurut salah satu Calon Guru Penggerak (CGP) dampingan saya. Mereka kemudian memiliki komitmen yang kuat untuk memulai sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Itulah yang terjadi di hari pertama. Pada paruh waktu pertama di hari kedua, saya menyajikan teori sekaligus pengalaman saya dalam mendesain pembelajaran yang tentunya berorientasi Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) sesuai permintaan panitia pelaksana.

Desain pembelajaran yang berorientasi AKM harus memenuhi tiga komponen utama yaitu, konten, proses kognitif dan konteks yang bermuara pada kecakapan yang paling mendasar, yang harus dimiliki seseorang untuk berkontribusi dalam lingkungan masyarakat yaitu literasi dan numerasi. Dimana sesuai pengalaman saya dalam pembelajaran matematika yang mengangkat konteks dari sosial budaya tentang kasus penyebaran covid19. Sedangkan proses kognitif pada bidang literasi tentang menginterpretasikan sebuah gambar grafik yang adalah kontennya, dan penalaran pada bidang numerasi dimana dijelaskan secara saintifik mengapa kita harus melakukan phisical distancing.

Pada paruh waktu kedua, mereka diminta untuk mendesain sebuah perencanaan pembelajaran yang tentunya kontennya disesuaikan dengan permendikbud nomor 37 tahun 2018 tentang Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran kurikulum 2013 pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah, dan Surat Edaran (SE) mendikbud nomor 14 tahun 2019 tentang penyederhanaan perencanaan pembelajaran. Dimana didahului dengan pemilihan KD yang tentunya disesuaikan dengan karakteristik siswa berdasarkan pengalaman yang telah dibagikan sebelumnya.

Setelah menentukan KD, langkah selanjutnya adalah memikirkan atau mencari konteks dari berbagai sumber yang cocok untuk diangkat dalam pembelajaran yang tentunya disesuaikan dengan karakteristik dan budaya masyarakat setempat. Setelah menentukan konteks, langkah selanjutnya adalah memilih model-model pembelajaran yang langkah-langkahnya cocok dengan konteks yang dipilih dan tentunya sesuai yang disarankan dari kemdikbud ristek selama masa pandemi seperti; discovery learning, inquiry learning, problem-based learning, dan project-based learning.

Rencana pembelajaran yang didesain memuat 3 komponen utama sesuai SE yaitu; tujuan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran sesuai model yang dipilih dan yang terpenting adalah asesmen. Hingga menjelang waktu usai sesuai yang terjadwal, rata-rata masing-masing MGMP telah menyelesaikan rencana pembelajaran. Namun asesmen sepertinya hanya sekedar sebagai pelengkap dan masih menitikberatkan pada aspek pengetahuan yang dapat dilakukan melalui assessment of learning, dan mengabaikan aspek sikap dan keterampilan pada assessment as learning dan assessment for learning.

Berdasarkan evaluasi dari capaian yang telah diperoleh masing-masing MGMP, maka pada penghujung hari kedua kita membuat komitmen untuk menambah waktu dihari ketiga mengenai asesmen. Dan pada satu jam pertama dihari ketiga menjadi penentuan pemahaman mereka mengenai assessment as learning dan assessment for learning. Sehingga satu jam berikutnya digunakan untuk mendesain asesmen sesuai tujuan pembelajaran masing-masing yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan, atau lebih sering dikenal dengan afektif, kognitif, dan psikomotorik. Berikut rancangan pembelajaran yang dihasilkan kelompok MGMP Pendidikan Agama Katolik yang akan berperan dalam peer teaching.

Sebelum berakhir, ada kesempatan peer teaching berdasarkan undian yang telah disiapkan oleh MKKS, sehingga semua kelompok MGMP memiliki peluang yang sama. Benar saja, mereka kelihatan begitu percaya diri ketika undian jatuh pada kelompoknya. Dengan sesegera mungkin perwakilan dari masing-masing anggota kelompok MGMP tampil sebagai guru, dan yang lainnya menempatkan diri sebagai siswa tanpa memandang jabatan dan usia. Berikut adalah penampilan yang luar biasa dari kelompok MGMP Pendidikan Agama Katolik yang diperankan oleh Kasimirus Tepi, S.Ag guru dari SMP Negeri 5 Lebatukan. Berikut video yang menggambarkan kegiatan peer teaching yang dimaksud. Mohon maaf jika masih belajar menggunakan gimbal ya. 


Sebagai akhir dari kegiatan ini, saya diberikan kesempatan untuk memberikan masukan dan juga kesimpulan yang mana saya manfaatkan untuk menggugah mereka, bahwa dunia pendidikan saat ini sudah mengalami perubahan yang sangat pesat dengan menayangkan dua slide power poin. Slide pertama berisi tentang perkembangan revolusi industri mulai dari 1.0 hingga society 5.0 yang turut mempengaruhi dunia pendidikan saat ini. Dan slide kedua berisi apa yang dilakukan seorang guru untuk menghadapi perubahan saat ini dengan istilah MaRKiRid sebagai akronim dari Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif, dan Berpihak pada murid.