Minggu, 09 Agustus 2015

MENGUAK TABIR DIBALIK KISAH “PENI DAN NOGO”


(Refleksi filosofis atas cerita orang Lamatuka yang pernah dibukukan Gradi Tukan)

Cerita “Peni dan Nogo” merupakan sebuah kisah nyata berasal dari Kampung Lamatuka. Sebuah kampung terpencil di Kabupaten Lembata yang di bangun dari reruntuhan “Tragedi Lepan- Batan” (Peristiwa bencana alam; gempa dashyat *Blero lero* yang disusul tsunami besar *aru bure*, menewaskan hampir sekitar ratusan orang kala itu).

Cerita ini dimulai dengan perjuangan seorang ibu yang selamat dalam tragedi na’as itu. Dengan darah dan keringat, dia membesarkan anak kakak-beradik, Peni dan Nogo. Kedua anak dara itu tumbuh menjadi gadis primadona dengan lakon kharakter yang begitu berbeda. Peni yang lembut, penuh perhatian, sopan dan suka menolong, sementara itu, Nogo yang sedikit agresif, sombong, dan agak angkuh mewakili dua sisi kehidupan berbeda dari rahim yang sama seperti dua sisi pada satu mata uang logam.

Konflik memanas dengan kehadiran Demon, seorang pemuda ganteng bersahaja, yang kemudian terjebak dalam cinta segitiga. Nogo mencintai Demon, tapi Demon lebih mencintai Peni, sedangkan Peni juga mencintai Demon. Seperti dongeng “Bawang Merah dan Bawang Putih”, persaingan merebut hati Demon, membuat Nogo menghalalkan segala cara, termasuk menjebak dan menuduh Peni, saudarinya sebagai seorang “Suanggi” (Suanggi: orang yang dibenci dan diharamkan saat itu, karena memiliki kekuatan ilmu hitam. Biasanya membutuhkan tumbal seperti memakan daging manusia untuk meningkatkan ilmunya).

Nasib Peni pun ditentukan oleh keputusan  Kepala Kampung dan Tua Adat yang begitu gampang dihasut dan diprofokasi oleh “seorang wanita”. Peni akhirnya dibuang dan dikucilkan di sebuah tempat yang jauh dari kampung, Wade atau Berawang? (Polemik dua lokasi yang masing-masing meninggalkan sisa jejak kehidupan Peni selama pembuangan).

Tahun demi tahun berlalu, dan Peni menghabiskan kegetiran hatinya di tempat asing itu (hutan belantara). Ulat dan biji-biji buah lontar sisa  makanan babi hutan, menjadi teman pengisi perut. Dia juga harus berebutan air dengan binatang-binatang hutan untuk memenuhi dahaganya, kadang dia harus mengalah karena tubuhya tak mampu menghalau binatang-binatang liar itu. Semakin hari tubuhnya menjadi kurus kering, seperti sebuah “Torso hidup” (Rangka yang dibaluti kulit semata), dan itu membuatnya sangat menderita. Tetapi penderitaan yang lebih hebat adalah saat dia menyaksikan sendiri pengkhianatan yang dilakukan oleh Nogo, saudari kandungnya. Airmata, menjadi bukti kepedihanya saat itu.

Hingga pada suatu ketika, Demon datang mencari, menemukan dan membawanya pulang ke kampung. Demon jugalah yang nantinya membuktikan bahwa Peni tidak bersalah. Darah Nogo mendidih karena rasa cemburu dan sakit hati. Penghianatan yang dia lakukan justru semakin menumbuhkan cinta yang begitu besar dari Demon pada Peni. Akhirnya, Nogo bunuh diri, dan tebing curam dekat kampung menjadi saksi penghianatanya yang berujung maut.

Cerita Ulangan Tentang Pegkhianatan Masa Lalu

Kalau ditelusuri, sebenarnya cerita “Peni dan Nogo” merupakan sebuah ulangan dari kisah pengkhinatan beberapa ribu atau ratus tahun yang lalu, seperti cerita “Kain dan Habel” atau cerita “Romus dan Romulus”, atau cerita-cerita lainya. Meski alur dan ending cerita sedikit berbeda, tetapi rasa iri, cemburu dan keinginan untuk mendapatkan “sesuatu yang lebih”, menjadi latar yang sama atas munculnya sebuah penghianatan besar. Heranya, “bumbu” pengkhianatan ini menjadi semacam “trend” yang bisa membuat indah kisah manusia. Coba bayangkan, apakah cerita “Samson” yang perkasa menjadi begitu hebat, tanpa pegkhianatan yang dilakukan seorang Dehlila atau apakah hebatnya kisah “Julius Cesar” tanpa penghianatan yang dilakukan oleh seorang Cleopatra, ataukah apa hebatnya cerita kejatuhan “Suharto” tanpa kisah dibalik pengkhianatan orang-orang dekatnya?

Kisah pengkhianatan Nogo terhadap saudarinya, menjadi cermin paling nyata akan salah satu sisi kehidupan manusia saat ini. Ketidakmampuan untuk menahan godaan membuat kita akhinya menjadi seorang “psikopat” murni yang gila akan harta, kuasa dan nafsu. Kasus pembunuhan Yoakim Langodai, kasus pembunuhan Laurensius Wadu, atau berbagai kasus pembunuhan lainya yang terjadi di Kabupaten Lembata saat ini, meskipun belum pasti benar, tapi bisa jadi, persoalan ini dimulai dengan pengkinanatan orang-orang dekat yang memiliki wajah seorang Nogo. Apalagi, ketika persoalanya bersentuhan dengan ranah politik. Pengkhianatan menjadi cara cerdik untuk mencapai tujuan itu. Variabel pertemanan, persahabatan, dan persaudaraan yang dibangun sejak dalam kandungan menjadi begitu tak berharga dan tak bernilai. Tanpa pernah bermaksut menghakimi Leluhur kita ini, tapi cerita dibalik kematian seorang Nogo menjadi “warisan” penting  bagi kita semua, untuk lebih tahu diri, untuk lebih puas dengan apa yang kita miliki dan untuk lebih mencintai “darah” kita, ketimbang mencintai harta, kuasa dan nafsu.

Apa “ending wajib” dari setiap pengkhianatan? Sudah pasti Penyesalan, walaupun buah dari pengkianatan kita, bisa menciptakan sebuah era penuh kemegahan. Seorang bapa di kampung Lamatuka  pernah bilang begini, “Guru…yang paling diingat orang saat dia meninggal adalah pengkhianat. Apalagi kalau orang yang mengkianati itu, adalah orang yang kita sayangi dan kita cintai. Kesedihanya akan dibawah sampai mati”. Siapakah diantara kita yang mau mengingkari pernyataan ini? Cerita dari kampung Lamatuka ini, mungkin tidak mampu menghapus “sisi kiri” kita, tapi paling tidak kita harus tahu dan sadar bahwa setiap pengkianatan yang dilakukan selalu membutuhkan “tumbal” orang-orang yang kita sayangi dan cintai.

Dunia Tanpa Wajah Seorang “Nogo”

Beberapa film holywood yang sempat ditayangkan via stasiun TV swasta seperti “Avatar” karya sutradara James Cameron atau film “Guardians Of Galaxy” karya sutradara James Gunn, mencoba untuk menggambarkan kepada khayalak sebuah dunia lain yang berbeda dari bumi kita. Dunia dimana, orang selalu bisa menerima hidup apa adanya, dunia dimana orang melihat persaingan sebagai cara untuk meningkatkan kualitas hidup, dunia dimana orang-orang melihat sesamanya sebagai saudara (Homo homini socius), dan dunia dimana orang bahu membahu untuk menciptakan sebuah tatanan hidup yang jauh dari praktek-praktek kotor, yang kemudian hancur karena kedatangan kita manusia bumi dengan segala ambisi dan nafsu.

Kerinduan para sutradara itu terhadap sebuah dunia yang berbeda, menjadi alasan yang sama atas kerinduan orang Lamatuka untuk menciptakan sebuah dunia baru tanpa wajah seorang “Nogo” (Manusia yang menjadi srigala bagi sesamanya-homo homini lupus). Kerinduan yang sama ini juga, pernah diungkapkan oleh Plato dan Aristoteles, para Filsuf Besar Yunani dalam konsep “Politeia”, dimana nilai-nilai kemanusiaan dan cinta akan sesama menjadi landasan utama untuk menciptakan sebuah dunia yang indah dan harmoni. Mereka  memimpimkan untuk membangun sebuah tatanan Negara kota dengan Politik Nurani, sehingga seorang pemimpin, akhirnya sadar bahwa dia adalah seorang abdi atau pelayan yang diberi kuasa untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan. Dia yang memimpin harus menjadikan kepentingan dan kesejahteraan warga sebagai hukum tertinggi diatas kepentingan dirinya atau kelompok tertentu (Salus Populi Suprema Lex).

Lantas, apakah dengan begitu kita harus mengingkari sebagian diri kita yang merupakan warisan dari moyang kita sang Adam? Tidak, sekali lagi tidak. Sisi “ID” (Sisi Buruk) kita adalah bagian yang harus kita “tata secara rapi” lalu kita simpan atau kita kubur dalam-dalam di hati kita. Kita tidak harus menjadi malaikat untuk membuat diri kita menjadi lebih baik, tetapi paling tidak cerita orang Lamatuka ini, memberi kita pilihan untuk menjadi seorang “Peni” yang lebih baik. Seorang Peni yang bisa menciptakan kedamaian, seorang Peni yang selalu bertahan dalam tantangan, seorang Peni yang selalu bisa memberi maaf, dan seorang Peni yang selalu bisa memberi kebahagiaan.

Dunia tanpa wajah seorang “Nogo” adalah sebuah dunia tanpa kekerasan, sebuah dunia yang mencintai perbedaan dan perdamaian. Dunia tanpa wajah seorang “Nogo” adalah dunia yang dibangun dengan cinta kasih seperti kata nabi Isa, dunia yang dibangun tanpa banyak memerintah seperti kata MatmaGandhi. Dan dunia impian inilah yang harus kita bangun bersama-sama. Kita memulainya dengan menghargai orangtua kita, mencintai istri atau suami kita apa adanya, mendidik anak-anak dengan kasih dan cinta. Kemudian, kita beranjak untuk membangun sebuah tatanan yang lebih luas dengan mulai menghargai sesama, melihat sesama sebagai bagian dari diri kita, bersyukur atas keberhasilan sesama, menjadikan pekerjaan sebagai sebuah panggilan jiwa, menjadi pemimpin yang bernurani dan menjadikan Tuhan sebagai pedoman dan pegangan hidup kita. Tak bisakah kita menciptakan dunia seperti itu?

0 komentar:

Posting Komentar