Sabtu, 15 Agustus 2015

HUT PRAMUKA KE-54 GUGUS PAEHATI




NAPAKTILAS PRAMUKA GUGUS PAEHATI

“Pramuka adalah persaudaraan, persahabatan, dan kesetiakawanan. Dalam pramuka kita akan belajar untuk saling peduli, saling menolong, menjadikan alam sebagai ibu kita”. Demikian kata Melkior Toran, A.Ma.Pd selaku Majelis Pembina Gugus (Mabigus) Paehati (Persatuan Sehati) dalam apel pembukaan kegiatan pramuka. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari dengan menjadikan Hidalabi (sebuah desa terpencil di Kabupaten Lembata) sebagai bumi perkemahan.

Kegiatan ini melibatkan sekolah-sekolah yang berada di gugus Paehati antara lain, SMPN Satap Ilewutung, SDI Ilowutung, SDK Nuba Lamatuka, dan SDK Lamatuka, juga adalah sekolah-sekolah yang menjadi bagian dari Siaga dan Penggalang. Semuanya terlibat aktif. Hal ini menciptakan tali-persaudaraan yang begitu hangat.

Kaka Stefanus Pito Dalo selaku koordinator pembina siaga merasa bahwa kegiatan pramuka sangat penting untuk membentuk kemandirian anak. “pramuka adalah kekuatan yang harus dimanfaatkan untuk membentuk karakter siaga dan pengggalang menjadi pribadi yang mandiri”. Spirit ini, begitu antusias ditanggapi oleh para siaga dan penggalang dengan menyanyikan yel-yel pramuka.

Para siaga dan penggalang kemudian dipisahkan ke dalam tujuh kelompok dengan didampingi kakak-kakak pembina antara lain; kakak Katarina Liban, kakak Antonia Bura, kakak Antonia Uak, kakak Agustina Loman, kakak Helena Abon, kakak Niko Lowai, kakak Don Bosko Tobe, kakak Jemy Leumara, kakak Hyronimus Lado, kakak Ferdi Keor, kakak Kanisius Tome, kakak Stefanus Pito Dalo, kakak Gaspar Laga, kakak Edigius Kedawu, kakak Gabriel Gawi, kakak Antonius Da Silva. Mereka dengan tulus dan tegas mendampingi para siaga dan penggalang.

Aneka kegiatan seperti; hiking, mencari jejak, membaca tanda, menterjemahkan kode, menyanyikan yel-yel pramuka, menjadi penyemangat. Terlebih lagi masyarakat setempat turut serta dalam kegiatan pramuka kali ini dengan menyumbangkan makanan dan minuman sebagai bekal perjalanan Lintas Alam ke Wae Bla’ang.

Sesudah menempati kelompok masing-masing, kegiatan selanjutnya adalah mencari jejak. Kegiatan ini menjadikan Wae Bla’ang sebagai tujuan dari para siaga dan penggalang. Dalam konteks masyarakat setempat “Wae” yang artinya “Air”, dan “Bla’ang” yang artinya “Besar” adalah suatu tempat unik berupa aliran sungai yang berada di tengah hutan. Untuk mencapai tempat ini, para siaga dan penggalang harus melewati hutan, mendaki, dan menurun terjalnya bukit, dengan jarak kurang lebih 4,5 km dari bumi perkemahan Hidalabi.

Sebelum tiba di Wae Bla’ang, para siaga dan penggalang harus melewati “duang” suatu tempat yang dikeramatkan masyarakat setempat. Duang yang dalam konteks orang-orang setempat artinya “hutan yang penuhi pohon-pohon besar” ini dipenuhi hutan enau. Konon dikisahkan bahwa ada seorang leluhur (Bapak Alo namanya), yang pertama kali datang, tinggal, dan kemudian meninggal di sana. Rohnya akan murka, jika kita datang atau melewati tempat itu dengan tujuan atau niat yang jahat. Oleh karena itu, kita harus menyucikan niat kita sebelum melewati area itu dengan cara diperciki air (yang ada di tempat itu) oleh salah seorang penduduk setempat.

Selama perjalanan itu, para pembina memberi motivasi dan menjelaskan tentang cara-cara yang harus dilakukan untuk menemukan “kotak rahasia”. Kotak rahasia merupakan sebuah permainan mencari harta karun yang menuntut kreativitas dan kekritisan para siaga dan penggalang.

Tak terasa para siaga dan penggalang menghabiskan waktu kurang lebih 4 jam untuk tiba di lokasi. Sungguh sebuah pemandangan mempesona mata, karena di tengah hutan kelapa terdapat sungai yang mengalir, menjadikan tempat ini indah untuk melepaskan kepenatan. Wajah-wajah puas dan kebahagiaan begitu nampak. Para siaga dan penggalang kemudian diberi kesempatan untuk menikmati indahnya alam Wae Bla’ang.

Para pembina begitu bersemangat untuk menunjukkan tekad bahwa mereka juga bagian dari Praja Muda Karana. Mencari kayu api, menyusuri sungai untuk menangkap ikan, udang, kepiting, dan katak (sebagai lauk untuk santapan siang), bakar ubi dan pisang, semuanya mereka lakukan dengan penuh semangat.

Tampak jelas bahwa para siaga, para penggalang dan pembina menyatu dalam satu raga, satu roh, dan satu cinta yakni pramuka. Menjadi bagian dari pramuka ternyata mengubah dan menciptakan sebuah persatuan dari sekian banyak perbedaan. Dan Wae Bla’ang menjadi saksi atas semua itu.

MALAM API UNGGUN

Cerita indah seorang siaga atau penggalang tak akan lengkap tanpa malam api unggun. Mengapa? “karena api unggun adalah simbol semangat para siaga dan penggalang yang akan membakar segala keburukan masa lalu mereka, dan membentuk kepribadian yang lebih baik” demikian kata Gaspar Laga selaku koordinator pembina penggalang.

Api unggun itu Pancasila. Api unggun itu Dasa Darma yang akan memberi kekuatan sekaligus menjadi pedoman hidup bagi Praja Muda Karana untuk bisa mengabdi pada tanah air dan bangsa. Dalam pesan singkatnya sebagai salah satu Mabigus, Yohanes Pito Lenny mengatakan bahwa “pramuka adalah pemersatu. Pramuka adalah sebuah rantai yang mengikat kita dengan cinta persaudaraan. Jagalah dan simpanlah itu dalam hati kita masing-masing”.

Kegiatan malam api unggun ini menjadi begitu hikmad ketika kakak Jemy Leumara membacakan puisi buah karyanya “aku siaga, kamu penggalang, semangat cinta tanah air kami, jangan kau tanyakan, panasnya akan membakar, setiap niat yang akan menghalang, jangankan kamu, dia atau pun mereka”. Itulah sepenggal puisi yang begitu menyentuh setiap hati malam itu. Malam yang penuh cinta akan kenangan persaudaraan yang diwujudkan dalam nyanyian-nyanyian indah para Praja Muda Karana. Kami pramuka gugus paehati mencintai alam yang adalah ibu kami, mencintai sesama yang adalah saudara kami.

HUT PRAMUKA KE-54 GUGUS PAEHATI

Berkat kerja keras dan buah kesabaran Gaspar Laga selaku koordinator pembina penggalang yang juga menangani khusus para pasukan pengibar bendera, apel HUT Pramuka ke-54 gugus Paehati tahun ini di Hidalabi memberi warna yang berbeda. Dibawa pimpinan Ako (sapaan Mikhael Naran) salah satu penggalang yang kini duduk di kelas 9 SMPN Satap Ilewutung, begitu tegap dan rapih seoalah-olah kita sedang mengikuti upacara apel bendera di istana negara.

Dengan diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dipimpin langsung oleh kakak Tina (sapaan Agustina Loma) salah satu guru SDI Ilowutung, bendera dengan ukuran panjang 2,5 m dan lebar 1,4 m dikibarkan dengan sempurnah di atas tiang bambu oleh pasukan pengibar bendera yang berdampingan langsung dengan bendera Pramuka. Selain siaga dan penggalang, peserta apel bendera juga dihadiri oleh masyarakat setempat. Yang hadir saat itu berjumlah sekitar 30 orang, terdiri dari anak yang belum berusia sekolah, orang dewasa dan juga lansia.

Dalam sambutannya selaku pembina pada upacara apel bendera memperingati HUT Pramuka ke-54 tanggal 14 Agustus 2015 kali ini, Melki Toran mengajak para peserta terutama para siaga dan penggalang untuk belajar hidup dari cermin. Lebih lanjut Ia mengatakan cermin adalah diri kita, dan banyangan dalam cermin adalah jiwa kita. Sebab cermin selalu memberikan bayangan apa adanya, walaupun pada dasarnya bayangan dalam cermin terkesan terbalik (kiri menjadi kanan dan sebaliknya). Oleh karena itu, cermin perlu dijaga agar tidak retak, sebab cermin yang retak akan menujukkan bayangan yang tidak sempurnah.

Selepas upacara tersebut, semua peserta termasuk masyarakat yang hadir saat itu saling berjabatan tangan dan membagi senyuman. Dipenghujung sebelum perpisahan, semua yang hadir saat itu diajak untuk makan dan minum bersama oleh Melki Toran selaku Mabigus yang juga merupakan salah satu putera dusun itu. Ini suatu budaya yang masih dijaga dengan baik sejak dahulu kala. Tetapi jangan bertanya “dari mana anggarannya?”, sebab semuanya lokal. Mulai dari kebaku (kacang hutan), jagung titi, daging (hasil buruan masyarakat setempat), dan dilengkapi dengan tuak (aren hasil sadapan dari pohon lontar). Semua disuguhkan dengan tulus oleh masyarakat setempat. Terimakasih Hidalabi, terimaksih untuk kebersamaan ini.

0 komentar:

Posting Komentar