Rabu, 08 Juli 2015

Suara dari lembah Satap Ilewutung


Oleh
Antonius Da Silva, S.Pd.
Guru SMPN Satu Atap Ilewutung

(Sebuah wawasan untuk Pengkritik Guru Terpencil)

Dunia pendidikan kita sudah melewati sebuah masa transisi yang cukup mengharubirukan. Mulai dari R. A. Kartini, Ki Hadjar Dewantoro, pendidikan kita selalu saja penuh konflik. Namun apapun yang terjadi, perlahan namun pasti kualitas pendidikan kita mulai membaik. Ada banyak masalah, dan itu tak dapat kita sangkal. Karenanya, proses pembenahan terhadap pendidikan itu terus berlangsung sampai saat ini.

Salah satu persoalan pendidikan yang cukup pelik adalah masalah guru di daerah terpencli atau lebih tepatnya guru yang mengajar di sekolah-sekolah Satu Atap (SATAP). Akhir-akhir ini, hampir di semua kabupaten, para guru terpencilpun sering menjadi “Topical Subject” karena dinilai sering meninggalkan tugas. Orang pun beramai-ramai mulai “berkicau” negatip. Ada yang menjadi pahlawan dan  hakim dadakan.

Menyikapi  fenomena ini, adalah tidak etis ketika kita menilai secara sepihak tanpa melakukan refleksi balik atas persoalan yang ada. Tulisan ini hadir untuk membuka cara pandang kita terhadap para guru di daerah terpencil.

SEKOLAH SATU ATAP (SATAP); SEBUAH SOLUSI SAMBIL MENIMBULKAN MASALAH BARU.

Semua kita pasti tahu bahwa sekolah SATAP lahir sebagai suatu bentuk pendekatan pelayanan dan usaha pemerintah dalam mencerdaskan anak bangsa. Awalnya pembangunan sekolah-sekolah terpusat pada wilayah kota kecamatan dan kabupaten. Hal ini dimaksut untuk memudahkan para pelajar agar bisa memperoleh akses pendidikan yang baik dan mampu menyerap perkembangan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi).

Tetapi dalam perjalan waktu, jumlah angka putus sekolah bertambah banyak. Setelah dikaji, ternyata masalah financial (keuangan) menjadi penyebap utamanya. Orangtua merasa kewalahan karena mereka harus mengeluarkan banyak uang untuk membayar biaya kos anak, transport, makan-minum dan biaya sekolah. Hal ini, bisa menghancurkan program WAJAR 12 TAHUN yang sering didengung-dengungkan oleh pemerintah. Karena itu dibangunlah sekolah-sekolah SATAP di tempat-tempat yang dianggap terpencil.

Mulanya pembangunan itu, seperti sebuah berkah bagi masyarakat terpencil, namun seiring waktu berlalu, pembangunan sekolah SATAP terkesan seperti sebuah proyek. Dibangun lalu “dibiarkan”. Fakta membuktikan bahwa hampir semua sekolah SATAP yang dibangun mengalami kekurangan dalam banyak hal, mulai dari kurangnya tenaga pendidik sampai pada kurangnya sarana belajar siswa.

Bayangkan, sebuah SMP SATAP yang jumlah mata pelajarannya sekitar 14 mapel diajar oleh guru sekitar 3-5 orang. Apakah ini pantas dan efektif? Akibatnya, berdampak langsung pada buruknya persentase kelulusan siswa. Prinsip kuno “ tak ada rotan, akarpun jadi”, seakan menjadi litani wajib. Guru dipaksa menjadi “Penipu Intelektual” karena mengajar tidak sesuai basicnya.

Heranya, pemerintah seakan lepas tangan, mungkin prinsipnya “biar mengalir seperti  air”, padahal di kota kecamatan atau kabupaten, ada sekolah yang mengalami penumpukkan guru. Lebih herannya lagi, jarang sekali sekolah SATAP ini dikunjungi, tapi ketika ada masalah yang terjadi disana, merekalah yang pertama menghakimi tanpa mencerna duduk persoalan.

Perlu dipahami bahwa umumnya sekolah-sekolah SATAP dibangun di tempat terpencil yang ada sekolah imbasnya (SD Pendukung). Di tempat terpencil seperti ini para guru akan berbenturan dengan berbagai  “kekurangan” (ketiadaan). Mulai dari kurang air, kurang listrik, kurang sinyal atau komunikasi, dan kurang pemondokan. Belum lagi ditambah harga barang yang super mahal (mungkin hitunganya nilai dolar).

Para guru generasi “Hitec” dipaksa untuk hidup di era tahun 45. Apakah mereka bisa  langsung menerimanya? Menerima pendidikan yang baik dikota Propinsi / kota besar lainya kemudian menjadi yang terbaik disana lalu ditempatkan di tempat terpencil. Apakah mereka begitu mudah menerimanya? Semua itu butuh proses dan kita tidak sedang hidup dalam dunia simsalabim.

Para guru ini bukanlah pentolan guru SM3T (Sarjana mendidik terdepan, tertinggal, terpencil) yang dipersiapkan berbulan-bulan dan digariskan untuk menjadi guru terpencil. Percaya atau tidak, bahkan jika para guru yang lahir di tempat terpencil, diminta untuk mengajar disekolah SATAP yang kebetulan adalah tempat lahirnya, maka dia akan menolak dengan 1001 alasan. Itulah sebabnya, Sekolah SATAP menjadi solusi sambil menimbulkan masalah baru.

SEKOLAH SATU ATAP(SATAP) ; PEMBEKUAN ILMU UNTUK PARA GURU

Pendidikan itu sebenarnya ruang bagi pengetahuan. Dia dinamis, berkembang, berproses dan bermetamorfosis sampai pada wujud yang paling sempurna. Karena itu, kita tidak bisa puas dengan apa yang ada. Orang yang paling dituntut untuk selalu merefresh pengetahuannya adalah guru, karena langsung bersentuhan dengan pendidikan manusia.

Kalau anda menjadi guru di daerah terpencil, saya yakin pengetahuan anda tentang Tuak (minuman dari koli / kelapa), perburuan babi hutan dan rusa, urusan adat menjadi luar biasa. Ini bukan ironi, tetapi masyarakat memang tidak tertarik ketika anda berdiskusi soal pendidikan, politik, ekomomi, ataupun doal sosial budaya. Mereka tertarik ketika anda berbicara tentang “noda” public figure seperti GURU. Saya yakin jika tidak terbiasa dengan situasi ini, anda bisa stress dan perlahan pengetahuan anda menjadi  “beku”. Karena itu, para guru berupaya sendiri untuk memperkaya pengetahuan mereka.

Lebih parahnya lagi, pelatihan-pelatihan atau diklat-diklat yang diadakan ditingkat kecamatan atau kabupaten jarang mengikutsertakan guru-guru di daerah terpencil. Ketika ditanya, kenapa kami tidak dilibatkan? Jawabannya sederhana, kami sudah kirim suratnya, mungkin  tidak sampai (Barangkali sekolah SATAP ini ada di Amerika), dan kejadian ini terjadi berulang-ulang. Maka lengkaplah sudah, pengetahuan anda persis seperti  “batu”. Saya sendiri merasa heran luar biasa bercampur rasa kecewa. Mungkinkah ada kasta- kasta dalam dunia pendidikan? Label guru terpencil seperti label anak tiri. Pengetahuannya ditindas habis-habisan. Tetapi siapa peduli?

Hemat penulis, mengapa pemerintah melalui Dinas Pendidikan Pemuda atau Olahraga tidak membuat sebuah “Education Center”  ( pusat pendidikan) supaya semua guru terkususnya guru-guru terpencil bisa mendapatkan akses mengenai informasi pendidikan apa saja secara cepat tanpa harus perlu mengisi “buku tamu”. Ataukah memasukan semua kegiatan kerja yang langsung bersinggungan dengan guru-guru ke dalam kalender pendidikan supaya informasi mengenai pelatihan atau bimtek atau kegiatan apa saja sudah diketahui sebelumnya oleh semua guru?

SEKOLAH SATU ATAP (SATAP );PERLU MENDAPAT KEBIJAKAN KHUSUS.

Sekolah SATAP itu sebenarnya sekolah khusus, karena kondisinya butuh perhatian khusus. Oleh sebab itu sebaiknya, sekolah-sekolah ini perlu mendapat kebijakan khusus. Mengapa? Umumnya sekolah-sekolah SATAP hanya terdiri dari 3 rombongan belajar (kalau lebih termasuk luar biasa), dengan jumlah siswa mungkin rata-rata  dibawah 50 orang atau bisa juga lebih.

Normalnya, beban kerja seorang guru itu 24 jam, itu artinya ketika jam mengajarnya kurang, dia harus mencari tambahan jam mengajar untuk memenuhi kuota beban kerjanya. Bayangkan, kalau semua guru SATAP harus turun mengajar ke sekolah di pesisir atau di perkotaan hanya untuk menggenapi jumlah jam mengajarnya, apa jadinya sekolah SATAP?

Persoalannya, syarat utama seorang guru disertifikasi adalah memenuhi beban mengajar minimal 24 jam atau lebih. Jadi semua guru SATAP langsung tereliminasi di awal seleksi.
Belum lagi, tunjangan khusus yang diperuntukan untuk guru terpencilpun penuh intrik nepotisme dan koncoisme. Tidak semua guru yang mengajar di tempat terpencil mendapatkan tunjangan itu, akibatnya sangat berpengaruh pada kinerja kerja guru. Anehnya sekolah-sekolah yang tidak termasuk terpencil justru mendapat tunjangan itu.

Hemat saya, pemerintah melalui Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga perlu mengambil sikap. Misalnya dengan memberi rekomendasi khusus sebagai prasyarat dalam pemenuhan seleksi sertifikasi, atau dengan merekomendasikan semua guru terpencil untuk mendapat tunjangan itu. Jika hal ini tidak segera disikapi, maka akan menjadi borok yang mencederai pendidikan kita.


KEPEKAAN PEMIMPIN DAN TOKOH MASYARAKAT TERPENCIL YANG CENDERUNG SEMBRONO

“Lain Padang Lain Ilalang, Lain Dulu Lain Sekarang”, mungkin peribahasa itu yang paling tepat untuk melukiskan situasi terkini tentang kehidupan masyarakat kita di kampung yang katanya berbudaya dan beretika. Seiring zaman masyarakatnya mulai cerdas untuk mengkritik para guru tetapi sembrono persis seperti anak anjing yang mulai belajar menggigit, menggigit apa saja tanpa pernah berpikir terlebih dahulu.

Guru tidak masuk sekolah dibilang guru malas, guru memberi tugas PR dibilang guru cari gampang, guru suruh siswa bawa air kesekolah dibilang guru mental enak, guru menampar siswa di penjara dan diumumkan sebagai napi, heranya ketika anak-anak mereka lulus dengan nilai yang bagus mereka tidak pernah berkomentar apa-apa. Semua hal ini terjadi di wilayah pedesaan yang dulunya sangat menghargai seorang guru.

Sebenarnya kalau dikaji dengan cermat maka persoalan yang muncul adalah arogansi segelintir orang yang merasa hebat dan pintar hanya karena kebetulan turun ke kota kecamatan atau kabupaten. Secara kasat mata mereka dianggap cukup berpengetahuan. Mereka juga cukup berpengaruh, walaupun sebatas ukuran Desa.

Sayangnya pemahaman mereka tentang masyarakat desa sebagai MITRA sekolah, jatuh bangun (mungkin pikirnya MITRA Tiara di Larantuka), orang Jawa bilang hantam kromo alias asal bunyi. Mungkin juga karena ada keluarga mereka yang bekerja sebagai anggota Dewan atau  karena sering minum soreh dengan salah satu anggota Dewan mereka mulai tidak tahu etika.

Sebagai mitra kita punya aturan main. Dalam pola struktur, Desa dan Sekolah dihubungkan oleh garis Koordinasi putus-putus, itu artinya kita tidak bisa saling mengintervensi satu dengan yang lain. Sekolah juga punya wadah bagi masyarakat untuk kita bisa saling berbagi, namanya Komite Sekolah. Jika ada persoalan, seharusnya Desa (kades dan masyarakat), bersama Komite, bersama para Tomas (tokoh masyarakat) plus Tokoh Adat bertemu sekolah (dewan guru) untuk membahas masalah yang ada.

Pertanyaanya, sudah berapakali Desa, para Tomas, Tokoh Adat dan Komite bertemu dengan dewan Guru? Berapa kali? Benar bahwa, dalam perjalanan waktu, ada guru yang keluar dari relnya, tapi anda atau siapa saja tidak punya hak untuk menghakiminya. Siapa Anda? Apakah Kristus harus datang lagi hanya untuk mengatakan pada anda “ Jangan melihat selumbar dimata orang, tapi ambilah balok dimatamu?” Bukankah masalah di Desa kita seperti air, lisrik, jalan, kemiskinan dan moral, belum teratasi sampai saat ini?  

Kalau mau jadi pahlawan, berpikirlah untuk mendatangkan lampu sehen/ solares supaya anak-anak kita tidak berebutan cahaya pelita saat belajar; kalau mau jadi pahlawan buatlah pemondokan bagi guru dengan hati bukan paksaan, kalau mau jadi pahlawan belihlah buku- buku bermutu bagi anak-anak kita; kalau mau jadi pahlawan bayarlah uang SPP supaya guru-guru honor kita tidak kelaparan; dan kalau mau jadi pahlawan carilah guru sesuai minat anda ketika pemerintah hanya mampu memberi sedikit guru.

Lalu sampai sejauh ini, apa yang sudah anda buat? Menghakimi Guru? Kepekaan sosial kita memang perlu untuk perbaikan bukan untuk menghancurkan. Andai Filsuf Juergen Harbenmas ada, dia akan menyesali teori dekonstruksinya yang jadi salah kaprah.

AKHIR KATA

“ Menjadi Guru bukan sekedar sebuah profesi semata tapi sebuah panggilan hidup”, kalimat ini sudah terpatri ketika setiap orang memutuskan menjadi guru. Guru itu bukan malaikat, tetapi berusaha sebaik mungkin untuk memberi  yang terbaik. Anda atau siapa saja tidak akan pernah mengerti tentang lika-liku hidup guru terpencil sampai anda sendiri menjadi guru di daerah terpencil. Sebagai penutup dari tulisan ini, saya ingin mengisahkan sebuah cerita.

Dikisahkan bahwa, pada suatu hari, Kaisar Hirohito (Kaisar Agung Jepang) dan keluarganya sedang makan di sebuah restoran. Ketika sedang makan, masuklah para pengusaha sukses, saudagar kaya, jendral, gubernur ke dalam restaurant itu. Ketika melihat Sang Kaisar, mereka semua segera membungkukkan badan untuk memberi hormat pada Kaisar Agung. Beberapa jam kemudian, masuklah seorang Guru kampung kedalam restaurant itu. Melihat sang Guru masuk, secara serta merta Sang Kaisar Agung bersama keluarganya berdiri lalu membungkukkan badannya untuk memberi hormat pada Guru kampung itu. BAGI SANG KAISAR, GURU KAMPUNG ITU ADALAH MATAHARI SEJATI, PEMBAWA CAHAYA PENGETAHUAN UNTUK MEMERANGI KEBODOHAN “ANDA” .

0 komentar:

Posting Komentar