Senin, 27 April 2015

Siswa SDI Tapobaran Keracunan Saat Mengikuti Ujian


SISWA SDI DAN WARGA TAPOBARAN KERACUNAN

Lewoleba, mediantt.com – Ada penyakit aneh yang sepertinya sedang mewabah di Desa Tapobaran, Kecamatan Lebatukan. Selasa (22/4/2015), ketika sedang mengikuti ujian akhir, 10 dari 14 iswa dan 3 guru Sekolah Dasar Inpres (SDI) harus dilarikan ke RSUD Lewoleba, karena terserang penyakit yang belum diketahui penyebabnya. Mereka muntah-muntah saat sedang mengikuti ujian. Tak hanya siswa, pada Kamis (23/4), 12 orang warga Tapobaran juga dilarikan ke RSUD Lewoleba dengan gejala sakit yang sama. Pihak Puskesmas Hadakewa dinilai lamban memberikan respons.

Salah stau guru SDI Tapobaran, Petrus Gole, kepada mediantt.com, Kamis (23/4), mengatakan, pada Rabu (22/4) sekitar pukul 09.00 Wita, ketika sedang berlangsungnya ujian sekolah, ada 10 siswa kelas VI dari 14 siswa peserta ujian akhir dan 3 orang guru mengeluh lemas, pusing, panas tinggi dan muntah-muntah. Paahal, pada ujian hari itu, makanan yang disiapkan pihak sekolah belum juga disentuh. Mereka makan dari rumah masing-masing.

“Saya itu ada mengawas ujian di desa lain, tapi begitu mendengar kabar ini langsung menuju RSUD Lewoleba melihat kondisi anak-anak dan beberapa guru yang juga sakit,” katanya.

Sementara Cristina Mole salah satu orang tua wali murid yang anaknya juga menjadi korban, kepada media ini di RSUD Lewoleba menuturkan, anak kami ke sekolah dalam keadaan sehat. Setelah sarapan pagi, kata dia, lalu ke sekolah tanpa ada tanda atau kelainan yang terlihat.

“Tiba-tiba kami dikejutkan dengan kabar anak kami muntah-mintah dan kami tidak tahu sakit apa. Kami orang tua siapkan makan di rumah kepsek. Ini pelajaran pertama jadi belum makan.

Kami langsung kabari kepala desa, dan segera menyampaikan ke Pskesmas namun hingga jam 3 baru pihak Puskesmas turun 2 orang tenaga medis ke lapangan. Malam baru kami diantar ke bagian IGD RSUD Lewoleba untuk mendapat perawatan intensif,” katanya.

Sekretaris Kecamatan Lebatukan, Petrus Peka, ketika dikonfirmasi mengatakan, pihaknya baru mengetahui ada kejadian tersebut jam tiga sore. Dan langsung meminta pihak Puskesmas mengirim tenaga medis ke lapangan.

Kepala UPTD PPO Kecamatan Lebatukan, Marselinus Lenggari yang dijumpai di RSUD Lewoleba, mengatakan, “Saat kejadian saya ada monitor di Desa Ile Wutung. Kadis PPO Lembata juga sudah kunjung para pasien ini dan kami sudah sampaikan secara lisan bahwa anak-anak ini sakit sehingga belum bisa mengikuti ujian lanjutan,” katanya.

Direktur RSUD Lewoleba melalui dr Bernad Yosep ketika dikonfirmasi mengatakan, para siswa dan guru ini kemungkinan keracunan. “Tapi kita sedang mendalami penyakit yang mereka derita sehingga bisa diketahui secara pasti,” katanya.

Menurut dr Bernard, pihak RSUD mendengar keluhan pasien dan mengatasi dengan memberi pengobatan. “Tim P2PL dari dinas kesehatan sedang mendalami penyakit apa yang tiba-tiba menyerang waerga desa Tapobaran terutama para siswa itu,” ujarnya.

Sekretaris Daerah (Ssekda) Lembata, Drs Petrus Toda Atawolo mengunjungi para pasien yang telah dipindahkan dari IGD ke ruang anak. Sekda meminta orang tua dan para guru agar tetap tenang dan tidak panik. “Sekarang sudah ditangani pihak medis, jadi serahkan semua kepada mereka dan yakin anak-anak kita ini akan sembuh,” kata Atawolo.

Ia juga mengatakan, pemerintah sudah mengutus tim dari dinas kesehatan untuk turun lapangan mencari tahu secara detail penyakit atau virus apa yang diderita anak-anak dan para guru ini.

“Untuk ujian nanti, setelah anak-anak sembuh baru ikut ujian susulan. Kita utamakan kesehatan mereka. Saya juga akan panggil pihak Puskesms untuk didengar penjelasannya,” katanya.

Keracunan Makanan

Secara terpisah, PLT Kepala Dinas kesehatan Lembata, Lukas Witak, ketika dikonfirmasi menjelaskan, siswa SDI dan warga Tapobaran itu lemas dan muntah-muntah karena keracunan makanan.

Ia mengatakan, Puskesmas Hadakewa dinilai lamban merespons kejadian ini karena baru tahu ada kasus itu pada pukul 14.00 Wita. Karena itu, keterlambatan mendapatkan informasi inilah yang membuat pihak puskesmas baru mengirim tenaga medis ke tempat kejadian pukul 15.00 Wita. “Jadi bukan karena mereka lambat bergerak tapi karena mereka tidak di laporkan perihal ke jadian tersebut. Saya sendiri malah lebih terlambat baru dapat informasi tersebut,.karena saya baru dikabari pukul 15.30 Wita. Dengan informasi itu saya gerakan kendaraan untuk menjemput para penderita langsung ke RSUD Lewoleba,” jelas Witak.

Ia menuturkan, masa inkubasi amuba itu 8 sampe 17 jam, jadi hasil P2LP turun lapangan menyimpulkan mereka keracunan makanan yang mereka makan pada hari sebelumnya. Sementara 12 orang warga desa yang juga dilarikan ke RSUD karena gejala yang sama karena mereka juga turut mencicipi makanan yang disiapkan bagi para peserta ujian, para guru dan pengawas.

Camat Lebatukan, Roly Betekeng, menjelaskan, memang ada sedikit keanehan sebab makanan yang sama, dimasak di tempat yang sama, namun disajikan pada meja yang berbeda. “Iitu kejadian hanya menimpa pada meja para guru, wali kelas yang makan bersama para siswa, namun hasil pemeriksaan secara medis menyatakan mereka keracunan makan. Semua kemungkinan bisa terjadi, namun kita harap hasil P2PL ke laboraturium segera keluar sehingga kita bisa tahu secara pasti apakah para siswa, guru dan beberapa orang warga benar keracunan atau ada wabah atau penyakit lain,” tegasnya.

Ia menambahkan, pada Jumat (24/4), 6 orang pasien sudah boleh pulang ke rumah, jadi masih 19 orang yang masih dirawat nntensif di RSUD Lewoleba. (steni/jdz)

Sumber: www.mediantt.com atau klik di sini

0 komentar:

Posting Komentar