Asosiasi Guru Penulis Lembata

Hadiah Buku Pendidikan Matematika Realistik yang diberikan oleh Arie Wibowo, M.Pd guru matematika asal Kalimantas Selatan dalam momen Olimpiade Guru Nasional Tahun 2018 di Hotel D'Max, Praya, Lombok, Nusa Tenggara Barat tanggal 4 - 8 Mei 2018

Perwakilan NTT

Lima perwakilan NTT dalam ajang olimpiade guru nasional tahun 2018 yang terdiri dari guru mata pelajaran Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, dan guru kelas SD bersama para petinggi Kesharlindung Dikdas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Busana Daerah Papua

Bersama perwakilan guru asal Papua dalam ajang olimpiade guru nasional tahun 2018 saat malam penutupan, yang diwarnai dengan kekaragaman busana daerah masing-masing

Display Inovasi Pembelajaran

Menyanggahi pertanyaan para juri pada tahapan display dalam ajang Inovasi Pembelajaran tahun 2017 di Hotel Mercure Harvestland, Kuta, Bali, tanggal 4 - 8 September 2017

Wisata ke Pandawa

Diberikan kesempatan oleh panitia inobel untuk wisata bersama kelompok MIPA. Ini adalah salah satu destinasi wisata di Bali yang saya senangi

Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Mei 2018

Pendidikan menjadi tanggung jawab bersama sebagai tembok penghalang radikalisme


Setiap orangtua selalu menginginkan hasil yang baik dalam perkembangan pendidikan buah hatinya. Bahkan tak tanggung-tanggung mereka mengeluarkan biaya yang bisa terbilang fantastis demi mencapai hasil yang dimaksud. Lantas apakah mereka tahu proses yang dilalui anaknya?

Terkadang kita menganggap jalan pintas lebih pantas, dan mengabaikan proses yang panjang. Walaupun kita sendiri sadar akan hal itu. Kisah mendiang Dita Supriarto (keluarga pelaku bom bunuh diri di Surabaya), yang dituturkan oleh Ahmad Faiz Zainuddin (adik kelas Dita saat SMA 25 tahun yang lalu) dalam akun Facebook menggambarkan betapa pentingnya suatu proses dalam dunia pendidikan.

Seperti yang diungkapkan Subanji (2013) bahwa efek dari suatu pendidikan akan dirasakan pada 10 hingga 20 tahun yang akan datang. Itu artinya yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan sesungguhnya adalah bagaimana pendidik (dalam hal ini guru) mempersiapkan generasinya untuk kelak berada di tengah-tengah masyarakat luas.

Terintegrasinya Literasi dan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dalam kurikulum saat ini, seakan-akan menjadi kunci untuk gembok yang telah lama tertutup rapat setelah hilangnya Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Memang benar saat ini kita sedang menghadapi suatu gejolak yang sangat kuat pengaruhnya untuk memeca belah persatuan bangsa. Lalu mampukah kita membendungnya?

Berbicara soal pendidikan bukan saja menjadi urusan guru, tetapi lebih dari pada itu orangtua lah menjadi pelatak dasar pendidikan anak. Jika diilustrasikan, maka akan sama halnya seperti sebuah bangunan. Apabila fondasi yang didirikan seorang tukang bangunan tidak menyimpang dari gambar yang telah disketsakan, maka niscaya bangunan tersebut akan terlihat indah.

Kasus bullying dikalangan siswa, politik para elit yang mengorbankan masyarakat kecil, korupsi dikalangan para pejabat negara, aksi keji bom bunuh diri oleh para teroris, yang marak terjadi akhir-akhir ini menggambarkan kegagalan dunia pendidikan Indonesia saat ini.

Namun sayang dalam pelaksanaannya, justeru guru (di sekolah) selalu menjadi kambing hitam atas kegagalan proses pendidikan seorang anak. Banyak orangtua lantas tak percaya dengan pendidikan di sekolah dan lebih memilih untuk memberikan les tambahan di luar yang notabene hanya mengarah pada pengetahuan.

Kita cenderung mementingkan pengetahuan dibandingkan moral. Orang lebih dihargai karena kedudukan, titel, atau jabatan, walapun moralnya bisa terbilang jelek. Bahkan banyak jalan pintas segaja dihalalkan hanya demi menggapai penghargaan itu. Kini sudah saatnya kita sadar dan berbenah diri.

Nah disini saya tidak bermaksud untuk menyalahkan peran orangtua ataupun lembaga bimbingan belajar. Namun lebih dari pada itu, bagaimana membangun kerjasama yang lebih baik tanpa harus saling menyalahkan. Literasi dan PPK harus dimulai dari rumah sebagai fondasi pendidikan anak. Sekolah yang merupakan lembaga pendidikan tentunya harus lebih mengarah pada hal-hal yang berkaitan dengan "pendidikan" tanpa mengabaikan pengetahuan. Dan lembaga bimbingan belajar tentunya lebih fokus pada pengetahuan.

Jika semuanya telah bersinergi dengan tanpa mengabaikan campur tangan masyarakat luas dan pemerintah, maka akan berjalan mulus sesuai impian kita bersama yaitu, mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter. @hyrolado

Selasa, 13 Februari 2018

Retret: suatu harapan 'baru'

Sumber: dokumen Sekolah

Jangan heran ketika tidak anda temukan kata ret-ret saat mencari dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ataupun sekedar searching di google. Karena retret merupakan satu kata dan bukan sebuah perulangan.

Dalam KBBI retret diartikan sebagai khalwat (pengasingan diri) mengundurkan diri dari dunia ramai untuk mencari ketenangan batin. Dalam wikipedia.org (salah satu situs ternama) menguraikan bahwa retret memiliki beberapa makna yang berkaitan, dan pada umumnya berupa gagasan untuk sementara waktu menjauhkan diri dari lingkungan kesehariannya.

Sedangkan kegiatan retret dapat dilakukan untuk alasan yang berhubungan dengan kebutuhan spiritual, menghindari stres, menjaga kesehatan, bagian dari gaya hidup, ataupun hal-hal sosial atau ekologis lainnya (wikipedia).

Berdasakan penjelasan di atas, maka SMP Negeri 2 Nubatukan melalui wadah OSIS bekerjasama dengan para guru pendidikan lintas agama secara berkala mengadakan kegiatan tersebut dalam rangka menyongsong Ujian Nasional (UN). Namun ada perbedaan tahun ini, karena kegiatan ini justeru dipadukan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) sekolah.

Para siswa kelas persiapan UN (kelas IX) dibawah dampingan guru diwajibkan untuk menginap di sekolah. Tidak hanya 'sekedar' menghidar dari dunia ramai, di sini siswa diarahkan untuk bermeditasi. Kegiatan tersebut diakhiri dengan ibadat/doa bersama imam/ulama masing-masing.

Di era modern yang instan, dengan gaya hidup serta pergaulan bebas dikalangan remaja, tidak menutup kemungkinan para siswa juga terjerumus dalam dunia gelap. Dengan demikian, retret ini menjadi momen penting bagi mereka untuk merefleksikan kembali hal-hal buruk yang pernah mereka lakukan baik terhadap sesama teman, guru, maupun orangtua.

Lantas makna apa yang dapat diperoleh, khususnya siswa dalam kegiatan tersebut? 'Kebaruan' yang berhubungan dengan kebutuhan spiritual. Itulah yang menjadi tujuan utama. Semoga momentum ini, dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh siswa untuk suatu kebaruan yang tentunya menjadi harapan guru dan juga orangtua. @hyro

Jumat, 12 Mei 2017

Curhat seputar iman


Vonis yang dijatuhi hakim terhadap Basuki Tjaja Purnama alias Ahok dalam kasus penistaan agama telah berhasil menyedot perhatian publik di seluruh tanah air bahkan dunia. Dan beberapa faktor penyebabnya adalah Ahok yang seorang gubernur apalagi gubernur DKI Jakarta yang nota bene sebagai pusat ibu kota negara Republik Indonesia. Faktor lainnya adalah Ahok dimata banyak kalangan dipandang sebagai sosok pemimpin yang jujur, berani dan tegas. Pertanyaan sederhana yang muncul dalam benakku dan mungkin juga pembaca sekalian "apakah dapat terjadi dalam diri seorang biasa seperti saya ataupun anda sekalian jika mengalami kasus atau masalah yang sama?" Jawabannya tentu tidak, sebab anda dan saya bukan siapa-siapa. 

Terlahir dari kaum minoritas menjadikan sesorang akan selalu tertindas dalam setiap persolan, sebab hukum di negara ini bahkan dalam gerejapun selalu tumpul ke atas namun tajam ke bawah. Mengapa gerejapun demikian, apakah dapat dibuktikan? Sepenggal cerita yang ku alami ini akan memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.

Sepenggal Kisah
Tahun 2013 silam, disaat gereja melalui paroki tempat saya berdominsili membuka kesempatan bagi pasangan hidup yang telah memiliki anak sebelum disahkan gereja untuk menerima sakramen perkawinan atau lebih dikenal dengan istilah nikah masal. Dan atas kesepakatan keluarga, kamipun mendaftarkan kakak sulung yang saat itu sedang mengandung anak ke-2 bersama suaminya untuk boleh mendapatkan kesempatan itu. Dan seperti biasa beberapa syarat perlu dilengkapi sebelum ketahapan berikutnya yaitu Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) yang termasuk di dalamnya surat keluasan dari orangtua kedua bela pihak dan silsila (garis keturunan) yang langsung ditanda tangani seorang kepala suku sebagai pemimpin tertinggi dalam sebuah suku. 

Setelah semuanya disiapkan, maka kedua merekapun mendaftarkan diri secara resmi ke paroki sebagai calon penerima sakramen perkawinan tahun itu. Seminggupun berlalu dengan mengikuti KPP sebagai salah satu tahapan yang harus dilalui termasuk ibu hamil sekalipun. Alhasil ketika nama pasangan dibacakan untuk diketahui secara umum melalui mimbar gereja, para anggota suku termasuk di dalamnya kepala suku sontak langsung protes dan berupaya untuk membatalkan pernikahan kakakku yang pelaksanaannya tinggal sehari lagi. Berbagai upayapun dilakukan suku hingga berhasil menemuai pastor paroki pada malam hari menjelang subuh. 

Seperti keputusan yang dilakukan hakim dalam kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok dinilai banyak orang sebagai akibat tekanan dari kaum mayoritas, demikian pun pandangan ku terhadap keputusan yang dibuat pastor paroki malam itu telah berhasil membuat tersenyum anggota suku yang hadir termasuk kepala suku yang telah memberikan restu secara tertulis. Namun tanpa disadari keputusan tersebut, telah berhasil membuat luka yang mendalam bagi keluargaku terutama kakakku yang saat itu telah mengandung tujuh bulan. Mungkin saja jika hal ini dilaporkan ke pihak keuskupan, bisa dimenangkan oleh keluargaku sebab tak ada pertimbangan yang berarti untuk membatalkan pernikahan tersebut gumamku. Tetapi bagiku mengalah adalah jalan terbaik untuk memenangkan diri, dan membiarkan waktu untuk menjawab semua kebenaran itu. 

Pesan yang diperoleh
1000 lilin telah dinyalahkan dimana-mana sebagai tanda berkabung atas matinya kebenaran, demikian pula 1000 kata yang tak dapat terucap olehku saat itu. Cerita di atas memberikan pembelajaran bagi kita semua bahwa baik itu pastor paroki maupun hakim dalam kasus penistaan agam oleh Ahok, juga manusia biasa seperti anda dan saya. Artinya keputusan yang dibuat dapat menciptakan senyuman, namun dapat pula menciptakan tangisan. Tugas kita adalah mendoakan para pemimpin kita agar diberikan rahmat kebijaksanaan. Sudakah anda dan saya melakukan hal itu? Sisi lain pembelajaran yang dapat diperoleh dari kisah ini adalah mengalalah untuk menang, sebab kebenaran yang hakiki hanya dapat diperoleh diakhirat nanti .(hyro61)

Minggu, 30 April 2017

Pesan buatmu yang tak sempat terucap

Sumber: mozaik.inilah.com

Dear
Siswa/i kelas IX SMPN 2 Nubatukan

Segala yang ada dan terjadi merupakan karunia yang Maha Kuasa, dan kita manusia hanya bisa menjalankan apa yang telah dilukiskanNya. Demikianlah kata "perpisahan" merupakan akhibat dari suatu pertemuan, dan itulah hakikatnya. Sadar atau tidak, lukisan yang diberikanNya, telah kita warnai bersama selama kurang lebih satu tahun enam bulan.

Sebagai makluk yang lemah, kita tentunya tidaklah sempurna dihadapanNya. Namun kita selalu berupaya untuk memberikan yang terbaik bagiNya. Demikian juga diriku selaku guru dan temanmu selama ini, mungkin tidak sebaik yang kamu harapkan. Namun itulah yang terbaik yang dapat kupersembahkan buat dirimu sebagai bentuk pelayananku pada yang empunya kehidupan.

Pesan ini harusnya kusampaikan langsung kepadamu semua untuk mengakhiri proses pembelajaran yang selama ini telah terjadi. Namun karena padatnya rangkaian kegiatan yang dibebankan para pengambil kebijakan kepadamu, telah berhasil memaksakanku untuk menuliskan ini untukmu.

Sebagai guru dan teman yang baik, mungkin selama ini dalam proses pembelajaran, ada kata, kalimat ataupun perbuatan dariku yang telah menyakitimu semua,  dari lubuk hati yang paling dalam saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. Terapkanlah hal yang baik yang dapat kamu petik selama ini, dalam situasimu yang baru nanti. Dan lupakan hal yang tidak baik yang pernah kamu lihat ataupun kamu alami selama ini.

Tak terasa, tinggal hitungan jam kalian semua akan menghadapi ujian nasional yang selama ini katamu merupakan hal yang paling menakutkan. Namun seperti yang selalu kuperingatkan padamu semua, bahwa jangan lagi terlintas dalam pikiran kalian untuk mendewakan ujian nasional, apalagi mendewakan matematika. Sebab nilai baik yang tertera di atas kertas, tidaklah mmenjamin bahwa perilaku sesorang pun demikian.

Oleh karena itu, kerjakanlah semua bentuk soal yang diberikan dengan sejujur jujurnya. Karena hanya itulah satu-satunya yang kuharapkan darimu semua. Sebab kuyakin dan percaya bahwa hanya orang jujurlah yang akan meraih kesuksesan kelak. Sebagai akhir kata, salam dan doa dari keluargaku senantiasa mengiringi langkah kehidupanmu semua. Dan semoga berkat Tuhan Lera Wulan Tanah Ekan, serta restu dari Leluhur Lewo Tanah selalu menyertai kalian semua.

Salam sukses dari gurumu, 
Hyronimus Lado

Rabu, 18 Mei 2016

Berhenti belajar setelah menjadi guru

Pemahan miring guru tentang assesmen menggambarkan kelemahan kita sebagai pendidik yang cenderung berhenti belajar setelah menjadi guru. Guru sering menasehati siswanya untuk giat belajar, namun dirinya sendiri tidak demikian. Lalu apa yang harus dituru dari dirinya?

Kemampuan mengajar di kelasnpun sering dianggapnya sudah lebih dari cukup, walaupun masih banyak kelemahan yang muncul saat proses pembelaran. Apalagi ditambah penilaian yang terkesan hanya berpatok pada aspek kognitif saja, dan mengabaikan kedua aspek lainnya. Lebih dari itu, ketidaktuntasan siswa dianggap sebagai kelemahan individu siswa yang bersangkutan. Padahal nilai tersebut, menggambarkan keberhasilan atau kegagalannya seorang guru selama melakukan proses pembelajaran.

Mengejar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan satuan pendidikan, juga menjadi target yang paling diutamakan. Lalu apakah sang penentu KKM mengetahui dengan benar tingkat kompleksitas setiap mata pelajaran? Jawabannya bisa ditebak "mengarang". Akhibanya jurus mendongkrakpun mulai diterapkan dalam dunia pendidikan. Sesungguhnya hal tersebut dilakukan hanya untuk mematikan katakter (jujur) baik dalam diri guru maupun siswa.

Sepertinya hasil sulap yang dilakukan guru setiap tahun, sudah terserap dan dipahami benar oleh siswa ketimbang pembelajaran yang diberikan gurunya. Kini kita telah memunculkan karakter baru yang sangat tidak diharapkan "mental santai" dari diri siswa. Bahkan lebih dari itu, hasil Ujian Nasional (UN) dijadikan patokan utama mutu suatu lembaga pendidikan. Haruskah demikian?


contoh_laporan_PPL_lesson_study
artikel_lesson_study

“mental santai” karekter yang dihasilkan guru saat ini

 DICUEKIN
Kemampuan mengajar guru di kelas sering dianggapnya sudah lebih dari cukup, walaupun masih banyak kelemahan yang muncul saat proses pembelaran. Apalagi ditambah penilaian yang terkesan hanya berpatok pada aspek kognitif saja, dan mengabaikan kedua aspek lainnya. Lebih dari itu, ketidaktuntasan siswa dianggap sebagai kelemahan individu siswa yang bersangkutan. Padahal nilai tersebut, menggambarkan keberhasilan atau kegagalan seorang guru selama melakukan proses pembelajaran.

Mengejar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan satuan pendidikan, juga menjadi target yang paling diutamakan. Lalu apakah sang penentu KKM mengetahui dengan benar tingkat kompleksitas setiap mata pelajaran? Jawabannya bisa ditebak "mengarang". Akhibatnya jurus mendongkrakpun mulai diterapkan dalam dunia pendidikan. Sesungguhnya hal tersebut dilakukan hanya untuk mematikan katakter (jujur) baik dalam diri guru maupun siswa.

Lebih diperparah lagi kaeran hasil sulap yang dilakukan guru setiap tahun, sudah terserap dan dipahami dengan benar oleh siswa ketimbang pembelajaran yang diberikan gurunya. Secara sadar, saat ini kita telah memunculkan karakter baru yang sangat tidak diharapkan "mental santai" dari diri siswa. Bahkan lebih dari itu, hasil Ujian Nasional (UN) dijadikan patokan utama mutu suatu lembaga pendidikan. Haruskah demikian?


Guru yang penuh kreatif dan inovatif adalah guru yang mau untuk terus melakukan reflektif demi memperbaiki proses pembelajaran di kelasnya dan tak pernah merasa  takut ketika siswanya menghadapi ujian nasional. Mari kita refleksikan dan berbenah demi generasi abad 21 yang lebih baik.

Rabu, 30 September 2015

SEANDAINYA WARTAWAN JADI "PINOKIO"


Antonius Da Silva S.Pd
Seorang Guru Di Daerah Terpencil

(Sebuah kegelisahan hati terhadap "oknum wartawan lokal" menjelang hajatan politik)

Menjadi Wartawan adalah impian masa kecilku. Bertanya, meliput, menulis, menganalisa, mengedit, dan mengulasnya menjadi sebuah berita menarik, sungguh merupakan sebuah profesi yang luar biasa. Jika kita melihat dalam perspektif Samuel Bloom, maka wartawan adalah sebuah profesi yang mencerahkan dan mencirikan sebuah cara berpikir kognitif yang sempurna.

Sampai saat ini, saya begitu mengagumi wartawan, terlebih lagi, saat mereka bisa menggengam dan memuat dunia hanya dengan menggoreskan pena pada lembaran-lembaran kertas biasa. Ada beberapa wartawan yang begitu menginspirasi, sehingga akhirnya saya tertarik untuk menulis, tanpa pernah mengingkari bahwa kerapkali, saya juga tak begitu menyukai mereka. Sampai detik ini pun, saya masih tetap mengagumi mereka, tetapi ada semacam kegelisahan dan kekuatiran di benak saya terhadap para wartawan dan kode etiknya, terutama ketika menjelang hajatan politik.

Apakah para wartawan bisa jujur layaknya seorang "Pinokio"? Pertanyaan ini kemudian mendorong saya untuk menulis impian saya tentang mereka tanpa pernah bermaksut untuk menggurui ataupun menyindir.

Wartawan Dalam Wajah Pinokio

Pinokio adalah sebuah cerita yang berasal dari Italia. Kisah ini menceritakan tentang seorang pria tua miskin bernama Geppetto yang sangat merindukan kehadiran seorang anak laki-laki. Dengan ketrampilan memahatnya, dia akhirnya membuat sebuah boneka kayu,yang diberi nama Pinokio. Boneka kayu (Pinokio) itu, lalu diberi nafas kehidupan oleh Peri Biru. Ada satu hal yang menjadi keunikan dari Pinokio ini. Hidungnya akan bertambah panjang jika dia mulai berbicara tentang kebohongan. Setiap kebaikan atau kejujuran yang dilakukanya akan membuat hidungnya kembali normal. Si Pinokio ini akhirnya menjadi manusia sesungguhnya setelah dalam hidupnya selalu melakukan kebaikan yang berlandaskan kejujuran. Pinokio adalah  sebuah cerita dongeng (bohong), yang isinya sarat akan 'fakta' ( kejujuran). 

Saya kemudian mulai berpikir bagaimana jika para wartawan mendapat "berkah" seperti Pinokio ini. Saya yakin dunia yang digambarkan akan menjadi begitu jujur dan apa adanya seperti lembaran kertas-kertas yang mereka tulis. Kenapa mereka harus seperti Pinokio (jujur)? Karena kata-kata mereka bisa menipu, menyakiti, melukai, bahkan bisa membunuh orang yang tak bersalah. Diujung penanya ada kebenaran tapi pena itu juga bisa menyesatkan (kecerobohanya), itulah wartawan. 

Dalam buku diary-nya, seorang teman saya yang kebetulan juga seorang wartawan menulis seperti ini "Teman-temanku wartawan, kita bisa saja menggunakan kebohongan untuk menarik keluar kebenaran bukan sebaliknya menggunakan dalil kebenaran untuk menutupi kebohongan. Bukan juga menjadikan kertas-kertas itu, sebagai media untuk menunjukkan betapa kita begitu hebat dan perkasa sehingga setiap orang akan ketakutan melihat kita". 

Wartawan adalah mata, telinga, hidung, kaki, tangan dan hati dari orang-orang yang mencintai kejujuran dan kebenaran. Mungkin saya keliru mendefenisikannya, tapi itulah anggapan orang-orang yang buta jurnalistik (terutama orang-orang kampung). Kata-kata (tulisan) wartawan itu dianggap seperti sabda yang jujur dan tak terbantahkan. Hukumnya fardu'ain (wajib), sehingga mampu mempengaruhi seluruh opini masyarakat (grassroots) untuk langsung percaya. Tidakkah itu sebuah dosa besar jika apa yang dikatakan (tulis) adalah sebuah kebohongan? 

Pena seorang wartawan itu seperti sebuah pedang bermata dua. Dua sisinya sama-sama dipakai untuk "mengiris". Satu sisi dipakai untuk mengiris kebohongan supaya kebenaran bisa muncul dan sisi yang lainnya dipakai untuk mengiris kebenaran supaya tampak lebih jelas. Dan saya punya sedikit cerita tentang pena itu, yang kadang begitu menyakitkan.

Pada tahun 2013 yang lalu, seorang teman saya mengeluh karena istrinya dikorankan dengan judul besar "Bidan di Desa A Meninggalkan Tugas". Pemberitaan ini membuat pasangan suami-istri stress berkepanjangan. Usut punya usut ternyata istrinya cuma bidan sukarela. Selama satu tahun lebih mengabdi, dia tidak dibayar tapi tetap menjalankan tugasnya. Hari dimana si-wartawan itu datang adalah hari dimana dia harus ke kota kabupaten untuk mendampingi ibunya yang sedang sakit keras. Di tahun yang sama ini juga, seorang kepala sekolah mengeluh karena institusinya dikorankan dengan judul besar "Guru-Guru Di Sekolah A Meninggalkan Tugas". Pencitraan buruk yang digambarkan akhirnya membuat orang-orang menilai miring dan mencibir seisi sekolah. Usut punya usut ternyata hari dimana si-wartawan itu datang adalah hari semua siswa diliburkan karena semua guru mengikuti kegiatan MGMP di tingkat kecamatan.Dan masih banyak kisah pedih lain, yang sama-sama digoreskan oleh pena itu.  Tidakkah pemberitaan ini menggambarkan sebuah kesalahan fatal? 

Saya akhirnya bingung sendiri, "pena" apa yang dia pakai? Ataukah karena ada ruang "klarifikasi" atau "hak jawab" bagi siapa saja yang keberatan dengan isi tulisan itu,maka wartawan bisa seenaknya "menggigit"? Bukankah paku yang sudah dicabut tetap akan memberi bekas abadi pada kayu itu? Bukankah ilmu kedokteran sudah menjelaskan bahwa luka psikis adalah luka yang paling sulit disembuhkan? Ataukah karena alasan bahwa wartawan juga "manusia biasa", sehingga berhak untuk melakukan kesalahan? Tidakkah itu berlebihan? Kenapa tidak melakukan cek dan recek? Cek lagi dan recek lagi untuk memastikan kebenaran itu?

Sekali turun kemudian membuat berita layaknya sebuah "cerita roman",tidakkah itu berbahaya? Saya cuma takut dan kuatir bahwa istilah yang sering saya dengar ditepi jalan "Tak ada ikan kakap,ikan teri pun jadi", diamini hanya supaya bisa tetap "makan". Tidakkah ini bertentangan dengan kode etik jurnalistik? Wartawan dalam wajah Pinokio adalah impian saya supaya para wartawan lebih berhati-hati, lebih mengerti, lebih jujur dan lebih bernurani dalam menggoreskan penanya, hingga suatu saat bisa menjadi "wartawan yang sesungguhnya".

Wartawan Dalam Jaring Politik 

Sebuah kebiasaan yang mentradisi bahwa menjelang hajatan politik seperti pileg, pilbub, pilgub, dan pilpres, adalah bahwa semua media massa, baik itu media cetak ataupun media elekronik turut serta dalam isu pemberitaan. Para politisi, para caleg, para cabub, para cagub dan para capres, kemudian menjadikan mediamassa sebagai alat untuk memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan programnya.

Entah sebuah kekuatan besar darimana, tiba-tiba saja mediamassa itu "terbelah" menjadi  beberapa 'bagian' (kubu-kubu). Idealisme indepedensi para wartawan pun ikut "terbelah" karena terlanjur terikat "kontrak politik". Akibatnya langsung berdampak pada isi pemberitaan yang terkesan saling serang, saling sikut, dan saling jegal menjegal. Para wartawan inipun akhirnya, mulai berat sebelah, dan trik-trik sarkas pun mulai disertakan, seperti gambar yang agak lucu dan mengejek, judul yang profokatif, sampai pada isi berita yang nampak seperti "silet" yang bisa melukai siapa saja yang salah tangkap atau salah perhitungan. Kode etik jurnalistik yang menjadi garis panduan bagi wartawan, berubah menjadi garis samar-samar yang begitu mudah "dipolitisir". Media massa yang dulunya menentang status quo dan benci kekuasaan seakan melempem tak berdaya seolah kehilangan giginya.

Lebih anehnya lagi, entah siapa yang memulai, secara tiba-tiba muncul koran, majalah dan tabloid dadakan. Tugasnya cuma itu-itu saja dan mudah ditebak; menjaga elektabilitas orang yang didukung, menutupi semua keburukanya dan mengontrol isu publik. Loyalitas buta dan prinsip asal bapa senang-pun terpaksa dilakukan walau bertentangan dengan nurani. Coba saja kita lihat hajatan pilpres kemarin. Sungguh lucu, masing-masing stasiun TV memenangkan capres yang berbeda dengan pembuktian yang sama-sama akurat. Pertanyaan-nya, siapa yang berbohong? Andaikan "berkat Pinokio" itu ada, maka orang tidak perlu berdebat ria hanya untuk mencari kebenaran itu. Cukup lihat "hidungnya", maka kebohongan dan kebenaran akan terpampang dengan jelas.

Sialnya, pengaruh inipun merambah sampai pada tingkat "akar-rumput" (masyarakat kecil). Malah jarak atau jurang yang dibuat jauh lebih besar dan bisa menimbulkan masalah hukum. Fakta membuktikan bahwa persoalan politik ini bisa memicu lahirnya konflik-konflik horizontal dan konflik-konflik 'spontanitas' yang bisa berbuntut pada persoalan SARA.
Lebih sialnya lagi, dengan segala kepolosan dan keluguan, masyarakat yang awam politik ini, akhirnya berhasil memilih pemimpin hasil 'iklan' dan 'rayuan' para wartawan yang menyembunyikan dengan rapi keburukanya lewat ulasan berita di media cetak ataupun media elektronik yang begitu indah dan logis. Kenapa harus seperti itu? Tidakkah itu bertentangan dengan prinsip dan kode etik?  Bukankah kebenaran harus diungkapkan secara terang benderang? Apalagi jika itu menyangkut seseorang yang akan memimpin negeri ini? Lagi-lagi oknum wartawan ataupun reporter melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal.

Seandainya para wartawan itu menjadi seperti Pinokio, saya yakin endingnya akan menjadi berbeda. Sekuat apapun presure politik, tetap saja mereka harus bertahan pada prinsip dan kode etiknya. Bertahan layaknya seperti seekor ikan dilaut yang tak pernah menjadi asin hanya karena hidup dilautan yang begitu asin. Idealisme dan prinsip hidup para wartawan sebenarnya menjadi kekuatan besar yang mampu merubah atau membuat tatanan dunia menjadi lebih baik. Seandainya wartawan menjadi pinokio maka dia pasti bisa bertahan pada idealisme, kode etik dan prinsip hidup yang kemudian  memampukanya untuk menentang, menelajangi, memerangi semua kejahatan, kebobrokan dan keegoisan dunia dan pemimpin negri ini. Dan impian tentang wartawan yang selalu berkata (tulis) jujur dan tulus seperti Pinokio adalah harapan setiap orang yang mencintai kebenaran. Itulah impianku tentang wartawan, berlebihankah?

Minggu, 09 Agustus 2015

MENGUAK TABIR DIBALIK KISAH “PENI DAN NOGO”


(Refleksi filosofis atas cerita orang Lamatuka yang pernah dibukukan Gradi Tukan)

Cerita “Peni dan Nogo” merupakan sebuah kisah nyata berasal dari Kampung Lamatuka. Sebuah kampung terpencil di Kabupaten Lembata yang di bangun dari reruntuhan “Tragedi Lepan- Batan” (Peristiwa bencana alam; gempa dashyat *Blero lero* yang disusul tsunami besar *aru bure*, menewaskan hampir sekitar ratusan orang kala itu).

Cerita ini dimulai dengan perjuangan seorang ibu yang selamat dalam tragedi na’as itu. Dengan darah dan keringat, dia membesarkan anak kakak-beradik, Peni dan Nogo. Kedua anak dara itu tumbuh menjadi gadis primadona dengan lakon kharakter yang begitu berbeda. Peni yang lembut, penuh perhatian, sopan dan suka menolong, sementara itu, Nogo yang sedikit agresif, sombong, dan agak angkuh mewakili dua sisi kehidupan berbeda dari rahim yang sama seperti dua sisi pada satu mata uang logam.

Konflik memanas dengan kehadiran Demon, seorang pemuda ganteng bersahaja, yang kemudian terjebak dalam cinta segitiga. Nogo mencintai Demon, tapi Demon lebih mencintai Peni, sedangkan Peni juga mencintai Demon. Seperti dongeng “Bawang Merah dan Bawang Putih”, persaingan merebut hati Demon, membuat Nogo menghalalkan segala cara, termasuk menjebak dan menuduh Peni, saudarinya sebagai seorang “Suanggi” (Suanggi: orang yang dibenci dan diharamkan saat itu, karena memiliki kekuatan ilmu hitam. Biasanya membutuhkan tumbal seperti memakan daging manusia untuk meningkatkan ilmunya).

Nasib Peni pun ditentukan oleh keputusan  Kepala Kampung dan Tua Adat yang begitu gampang dihasut dan diprofokasi oleh “seorang wanita”. Peni akhirnya dibuang dan dikucilkan di sebuah tempat yang jauh dari kampung, Wade atau Berawang? (Polemik dua lokasi yang masing-masing meninggalkan sisa jejak kehidupan Peni selama pembuangan).

Tahun demi tahun berlalu, dan Peni menghabiskan kegetiran hatinya di tempat asing itu (hutan belantara). Ulat dan biji-biji buah lontar sisa  makanan babi hutan, menjadi teman pengisi perut. Dia juga harus berebutan air dengan binatang-binatang hutan untuk memenuhi dahaganya, kadang dia harus mengalah karena tubuhya tak mampu menghalau binatang-binatang liar itu. Semakin hari tubuhnya menjadi kurus kering, seperti sebuah “Torso hidup” (Rangka yang dibaluti kulit semata), dan itu membuatnya sangat menderita. Tetapi penderitaan yang lebih hebat adalah saat dia menyaksikan sendiri pengkhianatan yang dilakukan oleh Nogo, saudari kandungnya. Airmata, menjadi bukti kepedihanya saat itu.

Hingga pada suatu ketika, Demon datang mencari, menemukan dan membawanya pulang ke kampung. Demon jugalah yang nantinya membuktikan bahwa Peni tidak bersalah. Darah Nogo mendidih karena rasa cemburu dan sakit hati. Penghianatan yang dia lakukan justru semakin menumbuhkan cinta yang begitu besar dari Demon pada Peni. Akhirnya, Nogo bunuh diri, dan tebing curam dekat kampung menjadi saksi penghianatanya yang berujung maut.

Cerita Ulangan Tentang Pegkhianatan Masa Lalu

Kalau ditelusuri, sebenarnya cerita “Peni dan Nogo” merupakan sebuah ulangan dari kisah pengkhinatan beberapa ribu atau ratus tahun yang lalu, seperti cerita “Kain dan Habel” atau cerita “Romus dan Romulus”, atau cerita-cerita lainya. Meski alur dan ending cerita sedikit berbeda, tetapi rasa iri, cemburu dan keinginan untuk mendapatkan “sesuatu yang lebih”, menjadi latar yang sama atas munculnya sebuah penghianatan besar. Heranya, “bumbu” pengkhianatan ini menjadi semacam “trend” yang bisa membuat indah kisah manusia. Coba bayangkan, apakah cerita “Samson” yang perkasa menjadi begitu hebat, tanpa pegkhianatan yang dilakukan seorang Dehlila atau apakah hebatnya kisah “Julius Cesar” tanpa penghianatan yang dilakukan oleh seorang Cleopatra, ataukah apa hebatnya cerita kejatuhan “Suharto” tanpa kisah dibalik pengkhianatan orang-orang dekatnya?

Kisah pengkhianatan Nogo terhadap saudarinya, menjadi cermin paling nyata akan salah satu sisi kehidupan manusia saat ini. Ketidakmampuan untuk menahan godaan membuat kita akhinya menjadi seorang “psikopat” murni yang gila akan harta, kuasa dan nafsu. Kasus pembunuhan Yoakim Langodai, kasus pembunuhan Laurensius Wadu, atau berbagai kasus pembunuhan lainya yang terjadi di Kabupaten Lembata saat ini, meskipun belum pasti benar, tapi bisa jadi, persoalan ini dimulai dengan pengkinanatan orang-orang dekat yang memiliki wajah seorang Nogo. Apalagi, ketika persoalanya bersentuhan dengan ranah politik. Pengkhianatan menjadi cara cerdik untuk mencapai tujuan itu. Variabel pertemanan, persahabatan, dan persaudaraan yang dibangun sejak dalam kandungan menjadi begitu tak berharga dan tak bernilai. Tanpa pernah bermaksut menghakimi Leluhur kita ini, tapi cerita dibalik kematian seorang Nogo menjadi “warisan” penting  bagi kita semua, untuk lebih tahu diri, untuk lebih puas dengan apa yang kita miliki dan untuk lebih mencintai “darah” kita, ketimbang mencintai harta, kuasa dan nafsu.

Apa “ending wajib” dari setiap pengkhianatan? Sudah pasti Penyesalan, walaupun buah dari pengkianatan kita, bisa menciptakan sebuah era penuh kemegahan. Seorang bapa di kampung Lamatuka  pernah bilang begini, “Guru…yang paling diingat orang saat dia meninggal adalah pengkhianat. Apalagi kalau orang yang mengkianati itu, adalah orang yang kita sayangi dan kita cintai. Kesedihanya akan dibawah sampai mati”. Siapakah diantara kita yang mau mengingkari pernyataan ini? Cerita dari kampung Lamatuka ini, mungkin tidak mampu menghapus “sisi kiri” kita, tapi paling tidak kita harus tahu dan sadar bahwa setiap pengkianatan yang dilakukan selalu membutuhkan “tumbal” orang-orang yang kita sayangi dan cintai.

Dunia Tanpa Wajah Seorang “Nogo”

Beberapa film holywood yang sempat ditayangkan via stasiun TV swasta seperti “Avatar” karya sutradara James Cameron atau film “Guardians Of Galaxy” karya sutradara James Gunn, mencoba untuk menggambarkan kepada khayalak sebuah dunia lain yang berbeda dari bumi kita. Dunia dimana, orang selalu bisa menerima hidup apa adanya, dunia dimana orang melihat persaingan sebagai cara untuk meningkatkan kualitas hidup, dunia dimana orang-orang melihat sesamanya sebagai saudara (Homo homini socius), dan dunia dimana orang bahu membahu untuk menciptakan sebuah tatanan hidup yang jauh dari praktek-praktek kotor, yang kemudian hancur karena kedatangan kita manusia bumi dengan segala ambisi dan nafsu.

Kerinduan para sutradara itu terhadap sebuah dunia yang berbeda, menjadi alasan yang sama atas kerinduan orang Lamatuka untuk menciptakan sebuah dunia baru tanpa wajah seorang “Nogo” (Manusia yang menjadi srigala bagi sesamanya-homo homini lupus). Kerinduan yang sama ini juga, pernah diungkapkan oleh Plato dan Aristoteles, para Filsuf Besar Yunani dalam konsep “Politeia”, dimana nilai-nilai kemanusiaan dan cinta akan sesama menjadi landasan utama untuk menciptakan sebuah dunia yang indah dan harmoni. Mereka  memimpimkan untuk membangun sebuah tatanan Negara kota dengan Politik Nurani, sehingga seorang pemimpin, akhirnya sadar bahwa dia adalah seorang abdi atau pelayan yang diberi kuasa untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan. Dia yang memimpin harus menjadikan kepentingan dan kesejahteraan warga sebagai hukum tertinggi diatas kepentingan dirinya atau kelompok tertentu (Salus Populi Suprema Lex).

Lantas, apakah dengan begitu kita harus mengingkari sebagian diri kita yang merupakan warisan dari moyang kita sang Adam? Tidak, sekali lagi tidak. Sisi “ID” (Sisi Buruk) kita adalah bagian yang harus kita “tata secara rapi” lalu kita simpan atau kita kubur dalam-dalam di hati kita. Kita tidak harus menjadi malaikat untuk membuat diri kita menjadi lebih baik, tetapi paling tidak cerita orang Lamatuka ini, memberi kita pilihan untuk menjadi seorang “Peni” yang lebih baik. Seorang Peni yang bisa menciptakan kedamaian, seorang Peni yang selalu bertahan dalam tantangan, seorang Peni yang selalu bisa memberi maaf, dan seorang Peni yang selalu bisa memberi kebahagiaan.

Dunia tanpa wajah seorang “Nogo” adalah sebuah dunia tanpa kekerasan, sebuah dunia yang mencintai perbedaan dan perdamaian. Dunia tanpa wajah seorang “Nogo” adalah dunia yang dibangun dengan cinta kasih seperti kata nabi Isa, dunia yang dibangun tanpa banyak memerintah seperti kata MatmaGandhi. Dan dunia impian inilah yang harus kita bangun bersama-sama. Kita memulainya dengan menghargai orangtua kita, mencintai istri atau suami kita apa adanya, mendidik anak-anak dengan kasih dan cinta. Kemudian, kita beranjak untuk membangun sebuah tatanan yang lebih luas dengan mulai menghargai sesama, melihat sesama sebagai bagian dari diri kita, bersyukur atas keberhasilan sesama, menjadikan pekerjaan sebagai sebuah panggilan jiwa, menjadi pemimpin yang bernurani dan menjadikan Tuhan sebagai pedoman dan pegangan hidup kita. Tak bisakah kita menciptakan dunia seperti itu?

Selasa, 04 Agustus 2015

MENYENTUH MIMPI “ANAK GUNUNG”


(Sebuah lukisan Monolog atas perjalanan hidup menjadi guru di daerah terpencil)
oleh: Antonius Da Silva, S.Pd

Hari itu, tujuh tahun yang lalu dengan segala idealisme yang diusung dari kampus, saya coba menelusuri terjalnya Jalan Bengkari (jalan super sulit di kabupaten Lembata).

Tergelincir, jatuh lalu bangun lagi menjadi bumbu wajib yang mewarnai perjalanan awal itu dan hal ini hampir saja meruntuhkan mimpiku untuk menjadi "guru sesungguhnya".

Melewati hembusan angin gunung yang begitu menusuk akhirnya saya bisa mencapai Desa Lamalela, tempat dimana berdirinya SMPN Satu Atap Ilewutung (satu dari sekian sekolah terpencil yang ada di kabupaten Lembata). Sebuah bangunan yang "megah" di tengah desa berdiri kokoh diantara rindangnya pohon kemiri, seolah menyadarkan saya bahwa sebuah keajaiban telah terjadi di tempat ini.

Bayangkan! Sebuah tempat terpencil yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua (Itupun kalau pengemudinya siap jatuh), kondisi tanahnya jelek, airnya sulit, listriknya tidak jelas dan komukasinya mati hidup, bisa membangun sebuah sekolah megah yang bahkan pembangunanya di audit oleh lembaga LSM.

Setelah bertemu dan berbagi cerita dengan para guru dan masyarakat, akhirnya saya tahu bahwa mereka hanya mau membatu anak-anak mereka untuk "menyentuh impianya".
Saya begitu tersentuh, bahkan sampai detik ini ketika sudah mulai ada sedikit perubahan pada desa itu. Sering kami para guru dikritik karena mengaku kalah pada keaadaan itu, tidak disiplin, dan tidak bertanggung jawab pada profesi yang diemban.

Akan tetapi kami tetap bertahan untuk berjalan meskipun terseok-seok untuk menjalani sebuah tugas besar tanpa cap dan meterai enam ribu yakni membantu "anak gunung" menyentuh mimpi mereka.

Tidak semudah membalikan telapak tangan, mungkin kalimat ini sudah "ter-instal mati" pada memori anak-anak gunung ini. Pagi, makan nasi jagung doang; siang, masih menu yang sama (syukur kalau ada sarimi); malam, minum kopi plus makan ubi bakar. Dan ini menjadi rutinitas yang harus diamini untuk meraih mimpi itu.

Melihat mereka, kadang mau menangis terutama saat mereka berebutan cahaya pelita waktu belajar. Kadang juga mau marah pada leluhur tanah ini, kenapa harus membuat anak cucu kalian menderita di tempat ini, ketika pemerintah menerapkan untuk direlokasi. Tapi sudalah, para leluhur itu pasti punya alasan yang mungkin jauh lebih berarti ketimbang rasa simpati kita yang kadang mati seiring waktu.

Saya harus bertahan dan bertahan lagi, karena tugas besar itu butuh guru yang tahan banting, butuh guru yang siap dikritik dan dicerca. Anak-anak itu dan tatapan mata mereka yang penuh harapan itu, begitu menusuk sampai kedalam kalbu seolah berkata "kami harus berlari kemana lagi dan kepada siapa lagi untuk meraih mimpi kami, kalau bukan pada kalian ayah dan ibu guru?"

Sayapun akhirnya terjebak diantara dua pilihan, menjadi guru yang baik untuk anak didik di sekolah atau menjadi tua keluarga yang baik bagi anak dan istri di rumah? Tapi, sekali lagi saya harus menjadi guru besar yang bisa memilih keduanya.

Teman-teman seperjuanganku begitu gigih mengajar, melatih, membina dan mendidik walau cuma menjadi guru honor dengan gaji dibawah standar UMR. Semangat mereka begitu besar bahkan hampir kalah karena masalah tunjangan khusus yang tidak pernah dialami.

Pengabdian mereka pada dunia pendidikan begitu luar biasa meskipun selalu kurang dimata masyarakat setempat. Dan bersama mereka, saya selalu tersenyum dan tertawa mengisi kisah anak-anak gunung itu.

Tahun demi tahun berlalu, dan anak-anak gunung itu telah pergi meninggalkan airmata terimakasih untuk dikenang. Tapi bersama guru lainya, saya harus tetap disini menemani anak-anak gunung berbeda generasi yang punya harapan yang sama.

Cerita tentang semua kekurangan, baik itu air, listrik, komunikasi, makan-minum, sarana prasarana adalah getir yang harus kami kecapi bersama-sama lagi dengan senyum dan tawa.

Tiba-tiba pada suatu hari, anak-anak gunung itu datang. Dengan penuh semangat mereka mencium tangan kami dan bercerita tentang petualangan mereka. Begitu bangga mereka berkisah; "Guru ... anak-anak Ilewutung sekarang, ada yang jadi ibu rumah tangga, ada yang jadi ojek, ada yang jadi guru, ada yang jadi Frater, ada yang jadi suster, ada yang masih kuliah dan ada yang sedang mencari jati diri".

Kemudian mereka pergi lagi sambil berucap, "Terima Kasih Guru!" Saat itu, saya tertegun sejenak, kemudian berujar dalam hati ... "TERIMA KASIH TUHAN, KARENA SUDAH MEMBANTU ANAK-ANAK GUNUNG ITU MENYENTUH mimpinya".

Rabu, 08 Juli 2015

Suara dari lembah Satap Ilewutung


Oleh
Antonius Da Silva, S.Pd.
Guru SMPN Satu Atap Ilewutung

(Sebuah wawasan untuk Pengkritik Guru Terpencil)

Dunia pendidikan kita sudah melewati sebuah masa transisi yang cukup mengharubirukan. Mulai dari R. A. Kartini, Ki Hadjar Dewantoro, pendidikan kita selalu saja penuh konflik. Namun apapun yang terjadi, perlahan namun pasti kualitas pendidikan kita mulai membaik. Ada banyak masalah, dan itu tak dapat kita sangkal. Karenanya, proses pembenahan terhadap pendidikan itu terus berlangsung sampai saat ini.

Salah satu persoalan pendidikan yang cukup pelik adalah masalah guru di daerah terpencli atau lebih tepatnya guru yang mengajar di sekolah-sekolah Satu Atap (SATAP). Akhir-akhir ini, hampir di semua kabupaten, para guru terpencilpun sering menjadi “Topical Subject” karena dinilai sering meninggalkan tugas. Orang pun beramai-ramai mulai “berkicau” negatip. Ada yang menjadi pahlawan dan  hakim dadakan.

Menyikapi  fenomena ini, adalah tidak etis ketika kita menilai secara sepihak tanpa melakukan refleksi balik atas persoalan yang ada. Tulisan ini hadir untuk membuka cara pandang kita terhadap para guru di daerah terpencil.

SEKOLAH SATU ATAP (SATAP); SEBUAH SOLUSI SAMBIL MENIMBULKAN MASALAH BARU.

Semua kita pasti tahu bahwa sekolah SATAP lahir sebagai suatu bentuk pendekatan pelayanan dan usaha pemerintah dalam mencerdaskan anak bangsa. Awalnya pembangunan sekolah-sekolah terpusat pada wilayah kota kecamatan dan kabupaten. Hal ini dimaksut untuk memudahkan para pelajar agar bisa memperoleh akses pendidikan yang baik dan mampu menyerap perkembangan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi).

Tetapi dalam perjalan waktu, jumlah angka putus sekolah bertambah banyak. Setelah dikaji, ternyata masalah financial (keuangan) menjadi penyebap utamanya. Orangtua merasa kewalahan karena mereka harus mengeluarkan banyak uang untuk membayar biaya kos anak, transport, makan-minum dan biaya sekolah. Hal ini, bisa menghancurkan program WAJAR 12 TAHUN yang sering didengung-dengungkan oleh pemerintah. Karena itu dibangunlah sekolah-sekolah SATAP di tempat-tempat yang dianggap terpencil.

Mulanya pembangunan itu, seperti sebuah berkah bagi masyarakat terpencil, namun seiring waktu berlalu, pembangunan sekolah SATAP terkesan seperti sebuah proyek. Dibangun lalu “dibiarkan”. Fakta membuktikan bahwa hampir semua sekolah SATAP yang dibangun mengalami kekurangan dalam banyak hal, mulai dari kurangnya tenaga pendidik sampai pada kurangnya sarana belajar siswa.

Bayangkan, sebuah SMP SATAP yang jumlah mata pelajarannya sekitar 14 mapel diajar oleh guru sekitar 3-5 orang. Apakah ini pantas dan efektif? Akibatnya, berdampak langsung pada buruknya persentase kelulusan siswa. Prinsip kuno “ tak ada rotan, akarpun jadi”, seakan menjadi litani wajib. Guru dipaksa menjadi “Penipu Intelektual” karena mengajar tidak sesuai basicnya.

Heranya, pemerintah seakan lepas tangan, mungkin prinsipnya “biar mengalir seperti  air”, padahal di kota kecamatan atau kabupaten, ada sekolah yang mengalami penumpukkan guru. Lebih herannya lagi, jarang sekali sekolah SATAP ini dikunjungi, tapi ketika ada masalah yang terjadi disana, merekalah yang pertama menghakimi tanpa mencerna duduk persoalan.

Perlu dipahami bahwa umumnya sekolah-sekolah SATAP dibangun di tempat terpencil yang ada sekolah imbasnya (SD Pendukung). Di tempat terpencil seperti ini para guru akan berbenturan dengan berbagai  “kekurangan” (ketiadaan). Mulai dari kurang air, kurang listrik, kurang sinyal atau komunikasi, dan kurang pemondokan. Belum lagi ditambah harga barang yang super mahal (mungkin hitunganya nilai dolar).

Para guru generasi “Hitec” dipaksa untuk hidup di era tahun 45. Apakah mereka bisa  langsung menerimanya? Menerima pendidikan yang baik dikota Propinsi / kota besar lainya kemudian menjadi yang terbaik disana lalu ditempatkan di tempat terpencil. Apakah mereka begitu mudah menerimanya? Semua itu butuh proses dan kita tidak sedang hidup dalam dunia simsalabim.

Para guru ini bukanlah pentolan guru SM3T (Sarjana mendidik terdepan, tertinggal, terpencil) yang dipersiapkan berbulan-bulan dan digariskan untuk menjadi guru terpencil. Percaya atau tidak, bahkan jika para guru yang lahir di tempat terpencil, diminta untuk mengajar disekolah SATAP yang kebetulan adalah tempat lahirnya, maka dia akan menolak dengan 1001 alasan. Itulah sebabnya, Sekolah SATAP menjadi solusi sambil menimbulkan masalah baru.

SEKOLAH SATU ATAP(SATAP) ; PEMBEKUAN ILMU UNTUK PARA GURU

Pendidikan itu sebenarnya ruang bagi pengetahuan. Dia dinamis, berkembang, berproses dan bermetamorfosis sampai pada wujud yang paling sempurna. Karena itu, kita tidak bisa puas dengan apa yang ada. Orang yang paling dituntut untuk selalu merefresh pengetahuannya adalah guru, karena langsung bersentuhan dengan pendidikan manusia.

Kalau anda menjadi guru di daerah terpencil, saya yakin pengetahuan anda tentang Tuak (minuman dari koli / kelapa), perburuan babi hutan dan rusa, urusan adat menjadi luar biasa. Ini bukan ironi, tetapi masyarakat memang tidak tertarik ketika anda berdiskusi soal pendidikan, politik, ekomomi, ataupun doal sosial budaya. Mereka tertarik ketika anda berbicara tentang “noda” public figure seperti GURU. Saya yakin jika tidak terbiasa dengan situasi ini, anda bisa stress dan perlahan pengetahuan anda menjadi  “beku”. Karena itu, para guru berupaya sendiri untuk memperkaya pengetahuan mereka.

Lebih parahnya lagi, pelatihan-pelatihan atau diklat-diklat yang diadakan ditingkat kecamatan atau kabupaten jarang mengikutsertakan guru-guru di daerah terpencil. Ketika ditanya, kenapa kami tidak dilibatkan? Jawabannya sederhana, kami sudah kirim suratnya, mungkin  tidak sampai (Barangkali sekolah SATAP ini ada di Amerika), dan kejadian ini terjadi berulang-ulang. Maka lengkaplah sudah, pengetahuan anda persis seperti  “batu”. Saya sendiri merasa heran luar biasa bercampur rasa kecewa. Mungkinkah ada kasta- kasta dalam dunia pendidikan? Label guru terpencil seperti label anak tiri. Pengetahuannya ditindas habis-habisan. Tetapi siapa peduli?

Hemat penulis, mengapa pemerintah melalui Dinas Pendidikan Pemuda atau Olahraga tidak membuat sebuah “Education Center”  ( pusat pendidikan) supaya semua guru terkususnya guru-guru terpencil bisa mendapatkan akses mengenai informasi pendidikan apa saja secara cepat tanpa harus perlu mengisi “buku tamu”. Ataukah memasukan semua kegiatan kerja yang langsung bersinggungan dengan guru-guru ke dalam kalender pendidikan supaya informasi mengenai pelatihan atau bimtek atau kegiatan apa saja sudah diketahui sebelumnya oleh semua guru?

SEKOLAH SATU ATAP (SATAP );PERLU MENDAPAT KEBIJAKAN KHUSUS.

Sekolah SATAP itu sebenarnya sekolah khusus, karena kondisinya butuh perhatian khusus. Oleh sebab itu sebaiknya, sekolah-sekolah ini perlu mendapat kebijakan khusus. Mengapa? Umumnya sekolah-sekolah SATAP hanya terdiri dari 3 rombongan belajar (kalau lebih termasuk luar biasa), dengan jumlah siswa mungkin rata-rata  dibawah 50 orang atau bisa juga lebih.

Normalnya, beban kerja seorang guru itu 24 jam, itu artinya ketika jam mengajarnya kurang, dia harus mencari tambahan jam mengajar untuk memenuhi kuota beban kerjanya. Bayangkan, kalau semua guru SATAP harus turun mengajar ke sekolah di pesisir atau di perkotaan hanya untuk menggenapi jumlah jam mengajarnya, apa jadinya sekolah SATAP?

Persoalannya, syarat utama seorang guru disertifikasi adalah memenuhi beban mengajar minimal 24 jam atau lebih. Jadi semua guru SATAP langsung tereliminasi di awal seleksi.
Belum lagi, tunjangan khusus yang diperuntukan untuk guru terpencilpun penuh intrik nepotisme dan koncoisme. Tidak semua guru yang mengajar di tempat terpencil mendapatkan tunjangan itu, akibatnya sangat berpengaruh pada kinerja kerja guru. Anehnya sekolah-sekolah yang tidak termasuk terpencil justru mendapat tunjangan itu.

Hemat saya, pemerintah melalui Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga perlu mengambil sikap. Misalnya dengan memberi rekomendasi khusus sebagai prasyarat dalam pemenuhan seleksi sertifikasi, atau dengan merekomendasikan semua guru terpencil untuk mendapat tunjangan itu. Jika hal ini tidak segera disikapi, maka akan menjadi borok yang mencederai pendidikan kita.


KEPEKAAN PEMIMPIN DAN TOKOH MASYARAKAT TERPENCIL YANG CENDERUNG SEMBRONO

“Lain Padang Lain Ilalang, Lain Dulu Lain Sekarang”, mungkin peribahasa itu yang paling tepat untuk melukiskan situasi terkini tentang kehidupan masyarakat kita di kampung yang katanya berbudaya dan beretika. Seiring zaman masyarakatnya mulai cerdas untuk mengkritik para guru tetapi sembrono persis seperti anak anjing yang mulai belajar menggigit, menggigit apa saja tanpa pernah berpikir terlebih dahulu.

Guru tidak masuk sekolah dibilang guru malas, guru memberi tugas PR dibilang guru cari gampang, guru suruh siswa bawa air kesekolah dibilang guru mental enak, guru menampar siswa di penjara dan diumumkan sebagai napi, heranya ketika anak-anak mereka lulus dengan nilai yang bagus mereka tidak pernah berkomentar apa-apa. Semua hal ini terjadi di wilayah pedesaan yang dulunya sangat menghargai seorang guru.

Sebenarnya kalau dikaji dengan cermat maka persoalan yang muncul adalah arogansi segelintir orang yang merasa hebat dan pintar hanya karena kebetulan turun ke kota kecamatan atau kabupaten. Secara kasat mata mereka dianggap cukup berpengetahuan. Mereka juga cukup berpengaruh, walaupun sebatas ukuran Desa.

Sayangnya pemahaman mereka tentang masyarakat desa sebagai MITRA sekolah, jatuh bangun (mungkin pikirnya MITRA Tiara di Larantuka), orang Jawa bilang hantam kromo alias asal bunyi. Mungkin juga karena ada keluarga mereka yang bekerja sebagai anggota Dewan atau  karena sering minum soreh dengan salah satu anggota Dewan mereka mulai tidak tahu etika.

Sebagai mitra kita punya aturan main. Dalam pola struktur, Desa dan Sekolah dihubungkan oleh garis Koordinasi putus-putus, itu artinya kita tidak bisa saling mengintervensi satu dengan yang lain. Sekolah juga punya wadah bagi masyarakat untuk kita bisa saling berbagi, namanya Komite Sekolah. Jika ada persoalan, seharusnya Desa (kades dan masyarakat), bersama Komite, bersama para Tomas (tokoh masyarakat) plus Tokoh Adat bertemu sekolah (dewan guru) untuk membahas masalah yang ada.

Pertanyaanya, sudah berapakali Desa, para Tomas, Tokoh Adat dan Komite bertemu dengan dewan Guru? Berapa kali? Benar bahwa, dalam perjalanan waktu, ada guru yang keluar dari relnya, tapi anda atau siapa saja tidak punya hak untuk menghakiminya. Siapa Anda? Apakah Kristus harus datang lagi hanya untuk mengatakan pada anda “ Jangan melihat selumbar dimata orang, tapi ambilah balok dimatamu?” Bukankah masalah di Desa kita seperti air, lisrik, jalan, kemiskinan dan moral, belum teratasi sampai saat ini?  

Kalau mau jadi pahlawan, berpikirlah untuk mendatangkan lampu sehen/ solares supaya anak-anak kita tidak berebutan cahaya pelita saat belajar; kalau mau jadi pahlawan buatlah pemondokan bagi guru dengan hati bukan paksaan, kalau mau jadi pahlawan belihlah buku- buku bermutu bagi anak-anak kita; kalau mau jadi pahlawan bayarlah uang SPP supaya guru-guru honor kita tidak kelaparan; dan kalau mau jadi pahlawan carilah guru sesuai minat anda ketika pemerintah hanya mampu memberi sedikit guru.

Lalu sampai sejauh ini, apa yang sudah anda buat? Menghakimi Guru? Kepekaan sosial kita memang perlu untuk perbaikan bukan untuk menghancurkan. Andai Filsuf Juergen Harbenmas ada, dia akan menyesali teori dekonstruksinya yang jadi salah kaprah.

AKHIR KATA

“ Menjadi Guru bukan sekedar sebuah profesi semata tapi sebuah panggilan hidup”, kalimat ini sudah terpatri ketika setiap orang memutuskan menjadi guru. Guru itu bukan malaikat, tetapi berusaha sebaik mungkin untuk memberi  yang terbaik. Anda atau siapa saja tidak akan pernah mengerti tentang lika-liku hidup guru terpencil sampai anda sendiri menjadi guru di daerah terpencil. Sebagai penutup dari tulisan ini, saya ingin mengisahkan sebuah cerita.

Dikisahkan bahwa, pada suatu hari, Kaisar Hirohito (Kaisar Agung Jepang) dan keluarganya sedang makan di sebuah restoran. Ketika sedang makan, masuklah para pengusaha sukses, saudagar kaya, jendral, gubernur ke dalam restaurant itu. Ketika melihat Sang Kaisar, mereka semua segera membungkukkan badan untuk memberi hormat pada Kaisar Agung. Beberapa jam kemudian, masuklah seorang Guru kampung kedalam restaurant itu. Melihat sang Guru masuk, secara serta merta Sang Kaisar Agung bersama keluarganya berdiri lalu membungkukkan badannya untuk memberi hormat pada Guru kampung itu. BAGI SANG KAISAR, GURU KAMPUNG ITU ADALAH MATAHARI SEJATI, PEMBAWA CAHAYA PENGETAHUAN UNTUK MEMERANGI KEBODOHAN “ANDA” .

Minggu, 05 Juli 2015

Kendala utama pendidikan matematika (berdasarkan hasil refleksi diri)


Terdapat tiga aspek yang dinilai dalam pembelajaran matematika. Ketiga aspek itu adalah pemahaman konsep, penalaran dan komunikasi, serta pemecahan masalah. Aspek-aspek tersebut bisa dinilai dengan menggunakan penilaian tertulis, penilaian kinerja, penilaian produk, penilaian proyek, maupun penilaian portofolio.

Adapun kriteria dari pemahaman konsep seperti: 1) menyatakan ulang sebuah konsep, 2) mengklasifikasian objek-objek menurut sifat-sifat tertentu, 3) memberi contoh dan non contoh dari konsep, 4) menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis, 5) mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep, 6) menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu, dan 7) mengaplikasikan konsep dan algoritma dalam pemecahan masalah.

Beberapa kriteria untuk penalaran dan komunikasi antara lain: 1) menyajikan pernyataan matematika secara lisan, tertulis, gambar, dan diagram, 2) mengajukan dugaan, 3) melakukan manipulasi matematika, 4) menarik kesimpulan, menyusun bukti, memberikan alasan atau bukti terhadap kebenaran solusi, 5) menarik kesimpulan dari pernyataan, 6) memeriksa kesahihan dari argumen, dan 7) menemukan pola atau sifat dari gejala matematis untuk membuat generalisasi.

Sedangkan kriteria untuk pemecahan masalah meliputi:
1) menunjukkan pemahaman masalah, 2) mengorganisasikan data dan memilih informasi yang relevan dalam pemecahan masalah, 3) menyajikan masalah secara matematik dalam berbagai bentuk, 4) memilih pendekatan dan metode pemecahan masalah secara tepat, 5) mengembangkan strategi pemecahan masalah, 6) membuat dan menafsirkan model matematika dari suatu masalah yang tidak rutin.

Namun di lapangan yang ditemukan, justru sebaliknya. Kita sebagai guru lebih mengutamakan pada pemahaman prosedural yang dapat mengakibatkan seseorang hanya mampu menyelesaikan suatu masalah hanya berdasarkan pada contoh yang telah diberikan sebelumnya. Perlu kita akui bahwa, mecahkan suatu masalah matematika masih menjadi kendala utama baik bagi siswa maupun para guru matematika khususnya di wilayah NTT.

Sebagai contoh, berdasarkan pengalaman saya sendiri. Pada hari kemarin, sabtu, 4 Juli 2015, saya disodori sebuah soal yang membuat saya susah tidur. Walaupun butuh waktu yang cukup lama (2 hari), akhirnya sayapun dapat menyelesaikannya. File berikut adalah problem dan salah satu alternatif pemecahannya unduh di sini. Semoga bermanfaat.

Akhirnya saya mengajak, mari kita saling mengisi. Karena belajar itu sepanjang hayat, tidak hanya hari ini saja.

Selasa, 09 Juni 2015

Seleksi masuk PTN melalui SBMPTN


Masuk Perguruan Tinggi Negeri, merupakan impian kebanyakan siswa lulusan SMA/MA/K. Namun sayangnya, banyak juga yang gagal dalam seleksi SNPTN, SBMPTN, dan sejenisnya, hingga akhirnya memilih perguruan tinggi swasta. Tetapi ada juga yang terus mencoba hingga sukses.

Banyak calon mahasiswa baru, pagi tadi telah mengikuti seleksi SBMPTN yang diselenggarakan di beberapa perguruan tinggi yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Tentunya semua mereka berharap, agar dapat lolos dalam seleksi kali ini.

Tetapi sayangnya, masa peralihan untuk menjadi calon mahasiswa baru, maupun setelah menjadi mahasiswa baru sering menjadi kendala utama. Hal ini sering dikeluhkan para dosen yang mengasuh mata kuliah dasar pada awal semester. Padahal banyak dari mereka yang terpaksa harus membayar guru les, ataupun ikut bimbingan belajar, demi kematangan masuk PT.

Soal-soal yang ditemukan dalam SBMPTN, maupun SNPTM, seringkali dianggap mereka sebagai sesuatu hal yang benar-benar asing. Padahal jika dicermati dengan baik, soal-soal tersebut tidak keluar dari konsep yang telah dipelajari di tingkat SMA/MA/MK.

Berikut ini beberapa jenis soal matematika yang telah diujikan pagi tadi, dan dikhawatirkan oleh para guru jika soal-soal tersebut tidak dapat diselesaikan oleh kebanyakan calon mahasiswa baru, khususnya di wilayah timur Indonesia. Namun sebelumnya, mohon dikoreksi. Bila ada kejanggalan, masukan dan sarannya sangat diharapkan. Semoga dapat bermanfaat, dan menghilangkan rasa kekhawatiran itu. Untuk mengunduhnya, klik tautan berikut soal dan pembahasan sbmptn tahun 2015

Senin, 01 Juni 2015

Kisah guru inspiratif terpopuler


Pada suatu waktu, terdapat seorang guru yang bijak. Banyak murid yang datang dari tempat jauh, untuk mendengarkan petuah bijaknya. Pada suatu hari, seperti biasa, para murid berkumpul untuk mendengarkan pelajaran dari sang guru.

Banyak murid mulai datang memenuhi ruang pengajaran. Mereka datang dan duduk dengan tenang dan rapi, memandang ke depan, siap untuk mendengar apa yang dikatakan oleh  sang guru.

Akhirnya sang guru pun datang, lalu duduk di depan para murid-muridnya. Sang guru membawa sebuah toples besar, disampingnya terdapat setumpuk batu kehitaman seukuran genggaman tangan. Tanpa bicara sepatah kata pun, Sang guru mengambil batu-batu tersebut satu persatu, lalu memasukkannya hati-hati ke dalam toples kaca. Ketika toples tersebut sudah penuh dengan batu hitam tadi, sang Guru berbalik kepada para murid, lalu bertanya.

"Apakah toplesnya sudah penuh?"
"Ya guru," jawab para murid, "Benar, toples itu sudah penuh".

Tanpa berkata apa-apa, sang guru mulai memasukkan kerikil-kerikil bulat berwarna merah ke dalam toples itu.Kerikil-kerikil itu cukup kecil sehingga jatuh di sela-sela batu hitam besar tadi. Setelah semua kerikil masuk kedalam toples, sang guru berbalik kepada para murid, lalu bertanya.

"Apakah toplesnya sudah penuh?"
"Ya guru," jawab para murid, "Benar, toples itu sudah penuh".

Masih tanpa berkata apa-apa lagi, kini sang guru mengambil satu wadah pasir halus, lalu memasukkannya ke dalam toples. Dengan mudah pasir-pasir tersebut pun masuk memenuhi sela-sela kerikil merah dan batu hitam. Setelah masuk semua, kini sang guru berbalik kepada para murid, lalu bertanya lagi.

"Apakah toplesnya sudah penuh?"

Sekarang para murid tak terlalu percaya diri menjawab pertanyaan gurunya. Namun terlihat bahwa pasir tersebut jelas memenuhi sela-sela kerikil di dalam toples, membuatnya terlihat sudah penuh. Kali ini hanya sedikit yang mengangguk, lalu menjawab,

"Ya guru," jawab beberapa murid, "Benar, toples itu sudah penuh".

Tetap tanpa berkata apa-apa lagi, sang guru berbalik mengambil sebuah tempayan berisi air, lalu menuangkannya dengan ahti-hati ke dalam toples besar tersebut. Ketika air sudah mencapai bibir toples, kini sang guru berbalik kepada para murid, lalu bertanya lagi.
"Apakah toplesnya sudah penuh?"

Kali ini kebanyakan murid memilih diam, namun ada dua hingga tiga yang memberanikan diri menjawab,
"Ya guru," jawab sedikit murid tersebut, "Benar, toples itu sudah penuh".

Tetap tanpa berkata apa-apa lagi, sang guru mengambil satu kantong berisi garam halus. Ditaburkannya sedikit-sedikit dan hati-hati dari atas permukaan air, garam pun larut, lalu ditambahkan lagi sedikit, demikian seterusnya hingga seluruh garam tersebut habis larut dalam air. Kini sang guru menghadap kepada par amurid, dan sekali lagi bertanya, "Apakah toplesnya sudah penuh?"

Kali ini semua murid benar-bnar diam. Hingga akhirnya seorang murid yang berani menjawab, "Ya guru, toples itu sekarang sudah penuh".

Sang guru menjawab, "Ya benar, toples ini sekarang sudah penuh".
Sang guru kemudian melanjutkan perkatannya,

"Sebuah cerita selalu memiliki banyak makna, dan setiap dari kalian telah memahami banyak hal dari demonstrasi ini. Diskusikan dengan tenang sesama kalian, apa hikmah yang kalian punya. Berapa banyak hikmah berbeda yang dapat kalian temukan dan kalian ambil darinya."

Para murd pun memandang sang guru, dan ke arah toples yang kini berisi dengan berbagai warna, ada hitam, ada merah, ada pasir, air, dan garam. Lalu dengan tenang mereka mendiskusikan dengan murid lainnya. Setelah beberapa menit kemudian sang guru mengangkat tangannya, seluruh ruangan pun diam. Sang guru lalu berkata,
"Selalu ingatlah bahwa tak pernah ada hanya satu interpretasi dari segalanya. Kalian telah mengambil semua hikmah dan pesan dari cerita, dan setiap hikmah, sama pentingnya dengan yang lain.

Lalu tanpa berkata-kata lagi, sang guru pun bangkit dan meninggalkan ruangan.

Kisah guru inspiratif diatas diterjemahkan dari
http://www.rogerdarlington.me.uk/stories.html

Sabtu, 23 Mei 2015

Pandangan dan pemahaman siswa tentang logaritma

^3log 18 + ^3log 81 - ^3log 2 adalah sebuah soal matematika dimuat pada status salah satu teman facebook saya, yang berinisial Zhariiqeen Nona Rastater. Status tersebut diupdate pada hari ini, jumad tanggal 22 Mei 2015 sekitar 10.00 WIB. Tiga sanggahan dari teman facebook yang bersangkutan, cukup menggugah kita para pendidik matematika. Ada seorang yang berinisial Fredick J’Fan menyatakan bahwa “kita bukan guru matematika”. Namun jawaban dari dua temannya yang lain cukup mengejutkan. Boy Naghtater menyatakan bahwa “jawabannya 6 bu guru” dan Rohk Speaker Sgb menyatakan bahwa “sama dengan 1089”.

Dari beberapa sanggahan di atas membuat saya cukup tergugah untuk ikut ambil bagian. Di salah satu pihak, saya terganggu dengan pernyataan “kita bukan guru matematika”. Pernyataan ini jika dianalisa secara mendalam, mau menunjukkan kepada kita sebagai pendidik (pendidik matematika) bahwa, matematika dalam benak si dia (pembuat pernyataan) sebagai satu bidang ilmu yang tidak perlu dipelajarinya, jika tidak ada maknanya. Mengapa demikian? Coba bayangkan jika ada seorang murid bertanya seperti ini, “untuk apa belajar logaritma pak/ibu?” Apa jawaban anda sebagai seorang pendidik matematika misalnya?

Sebagai pendidik matematika, kita cukup terganggu dengan hal ini. Pasti dalam benak kita berpikir, masalah apa dalam dunia nyata (real word) yang dapat dikaitakan dengan logaritma. Sebenarnya secara tidak sadar kita telah dimanjakan di era digital ini. Berbagai alat bantu telah diciptakan untuk mempermudah pekerjaan manusia, terutama dalam hal berhitung seperti kalkulator, komputer, bahkan aplikasi-aplikasi yang terbilang memanjakan. Dengan hadirnya alat bantu hitung tersebut, membuat kita seakan lupa bagaimana proses pembuatannya. Tentunya tidak mudah untuk seorang programer merancang bahasa pemrograman yang dapat menuntun alat atau aplikasi-aplikasi tersebut, memahami apa yang diperitahkan oleh sang pemakai.

Dengan munculnya penggunaan logaritma, perkalian ataupun perpangkatan yang besar menjadi hal yang sederhana. Dalam kehidupan nyata, logaritma sangat diperlukan bagi ilmu pengetahuan. Penggunaan logaritma yang paling jelas adalah pada penghitungan skala Richter untuk gempa bumi dan desibel. Logaritma juga diaplikasikan dalam penghitungan frekuensi musik. Penggunaan lain fungsi logaritma adalah dalam bidang biologi, untuk mengukur laju pertumbuhan penduduk, antropologi, dan keuangan untuk menghitung bunga majemuk.

Berdasarkan jawaban yang diberikan Boy dan Rohk saya kemudian meminta alasan sebagai penjelasan dari jawaban mereka. Namun sayang Rohk tidak menanggapinya, hanya Boy cukup memberikan respon yang baik. Berikut di tuliskan kembali jawaban dari Boy yang menunjukkan bahwa ia benar memahami konsep logaritma.
karena ^xlog a + ^xlog a = ^xlog (a.b) dan ^xlog a - ^xlog a = ^xlog (a/b) maka,
= ^3log 18 + ^3log 81 - ^3log 2
= ^3log [(18×81)/2]
= ^3log 729 → 3^n = 729
          3^n = 3^6
               n = 6
Berikut ini adalah file artikel_logaritma yang memberikan uraian tentang, beberapa konsep dasar berkaitan dengan logaritma, contoh soal dan pembahasan, serta latihan mandiri yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan pemahaman pembaca sekalian

Sabtu, 09 Mei 2015

SALAHKAH KALAU GURU BELAJAR DARI SISWA?


Oleh: RACHMAN FIRDAUS, S,Pd Guru Pada SMPN 1 Nagawutung – Lembata 

Hampir satu jam pelajaran seorang guru menghabiskan waktunya untuk menyampaikan materi pelajaran kepada anak didiknya. Tentu saja materi yang ia sampaikan adalah materi yang telah ia persiapkan pada malam harinya. Sebagian besar siswa sama sekali tidak merasa tertarik dengan materi pelajaran yang disampaikannya. Karena mereka merasa bahwa apa yang disampaikan sang guru sama persis dengan apa yang ada didalam buku yang telah mereka pelajari dirumah. Oleh karena itulah mereka merasa gelisah selama mendengarkan penjelasan guru. Diantara mereka ada yang asyik membaca buku, mengobrol dan ada juga yang mengantuk.

Memperhatikan gejala yang tidak mengenakan itu, guru segera bereaksi : “anak-anak tolong perhatikan! Materi yang bapak sampaikan ini adalah materi yang sangat penting untuk kalian kuasai. Nanti soal-soal ulangan tidak akan jauh dari apa yang bapak sampaikan. Oleh karena itu, tolong perhatikan apa yang bapak sampaikan!” anak-anak diam sebentar, yang sedang mengobrol segera menghentikan obrolannya, yang sedang membaca melipat buku bacaannya, demikian juga yang sedang mengantuk melepas kantuknya. Sang guru segera melanjutkan pembelajarannya, bertutur menyampaikan informasi.

Suara sedikit melemah, karena kehabisan energi, sehingga siswa yang duduk dibangku bagian belakang tidak dapat menangkap apa yang diuraikan guru. Ini semua semakin membuat bosan siswa. Mereka kembali dengan aktivitas semula: mengobrol, membaca, dan mengantuk. “membosankan!" gerutu seorang siswa yang duduk dibelakang.

Hari ini memang membosankan, baik bagi guru maupun bagi siswa. Guru menganggap anak didiknya bandel-bandel. Ia merasa disepelehkan oleh siswa yang tidak mau  mendengarkan penjelasannya. Demikian juga siswa, mereka merasa guru tidak mampu mengajar, karena ia hanya menyampaikan informasi yang sebetulnya sudah merasa mereka kuasai. Oleh sebab itu, ketika bel berbunyi tanda pelajaran berakhir, baik guru maupun siswa seakan-akan keluar dari mimpi buruk yang menegangkan. Siswapun bersorak kegirangan menyambut bunyi bel, sementara guru keluar dari kelas dengan langkah gotal karena kecapaian.

Kita sering melihat bahkan mungkin merasakan peristiwa semacam itu. Bagi seorang guru, peristiwa itu sering dianggap sebagai peristiwa yang menjengkelkan, sehingga ia menganggap kalau kelas tersebut adalah kelas yang bandel, kelas yang tidak bisa diurus dan lain sebagainya.

Empat Hal Yang Menjadi Kekeliruan Guru Dalam Proses Pembelajaran

Berdasar kisah diatas, ada empat hal yang menjadi kekeliruan guru dalam proses pembelajaran. Kekeliruan tersebut antara lain sebagai berikut :

Pertama, ketika mengajar guru tidak berusaha mencari informasi, apakah materi yang diajarkan sudah dipahami siswa atau belum. Kurangnya perhatian siswa seperti dalam peristiwa belajar mengajar di atas, jelas disebabkan karena siswa sudah memahami informasi yang disampaikan guru, sehingga mereka menganggap materi itu tidak penting lagi.

Kedua, dalam proses belajar mengajar guru tidak berusaha mengajak siswa berpikir. Komunikasi terjadi satu arah, yaitu dari guru ke siswa. Guru menganggap bahwa siswa menguasai materi pelajaran lebih penting dibandingkan dengan mengembangkan kemampuan berpikir.

Ketiga guru tidak berusaha mencari umpan balik mengapa siswa tidak mau mendengarkan penjelasannya.

Keempat, guru menganggap bahwa ia adalah orang yang paling mampu dan menguasai pelajaran dibandingkan dengan siswa. Siswa dianggap sebagai “tong kosong” yang harus didisi dengan sesuatu yang dianggapnya penting.

Keempat hal itu, merupakan kekeliruan guru dalam mengajar. Mengapa demikian? Mari kita analisis keempat hal diatas.

Guru tidak berusaha untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Seorang yang profesional dalam bidangnya, sebelum ia melakukan tindakan akan didahului dengan langkah diagnosis, sehingga langkah ini merupakan bagian dari langkah profesionalnya.

Kemudian bagaimana dengan guru seperti cerita di atas? Tampaknya ia tidak melakukan langkah diagnosis  tentang keadaan siswa, sehingga tidak mengetahui apakah siswa sudah membaca buku yang ia baca. Jangan-jangan siswa lebih paham dari gurunya tentang materi pelajaran yang akan diajarkan, karena selain siswa membaca buku yang menjadi rujukan guru, siswa pun membaca buku lain yang relevan.

Guru tidak pernah mengajak siswa berpikir. Dalam pembelajaran, bukan hanya menyampaikan materi pelajaran akan tetapi melatih kemampuan siswa untuk berpikir, menggunakan struktur kognitifnya secara penuh dan terarah. Materi pelajaran mestinya digunakan sebagai alat untuk melatih kemampuan berpikir bukan tujuan. Mengajar yang hanya menyampaikan informasi akan membuat siswa kehilangan motivasi dan konsentrasinya. Mengajar adalah mengajak siswa berpikir, sehingga melalui kemampuan berpikir akan terbentuk siswa yang cerdas dan mampu memecahkan setiap persoalan yang dihadapinya.

Guru tidak berusaha memperoleh umpan balik. Proses pembelajaran adalah proses yang bertujuan. Oleh sebab itu, apa yang dilakukan oleh seorang guru seharusnya mengarah pada pencapaian tujuan. Apa bedanya seorang guru dengan seorang penjual obat?  Ya, perbedaannya terletak pada tujuan yang ingin dicapai. Walau keduanya sama-sama bicara , tapi bicaranya penjual obat berbeda dengan bicaranya guru. Apa yang keluar dari mulut penjual obat, tidak lebih dari keinginannya untuk menarik perhatian orang, sedangkan apa yang keluar dari mulut seorang guru selalu diarahkan untuk mencapai tujuan belajar yakni perubahan tingkah laku.

Oleh karena itu dalam setiap proses mengajar guru mendapatkan umpan balik, apakah tujuan yang ingin dicapai sudah dikuasai oleh siswa atau belum, Apakah proses atau gaya bicara guru dapat dimengerti atau tidak, hal ini sangat diperlukan untuk proses perbaikan mengajar yang telah dilakukannya.

Guru menganggap bahwa ia adalah orang yang paling mampu dan menguasai pelajaran. Dewasa ini berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi informasi setiap orang bisa memperoleh pengetahuan lewat berbagai media. Dengan demikian kalau sekarang ini ada guru yang menganggap dirinya paling pintar, paling menguasai sesuatu, itu sangat keliru. Bisa terjadi dewasa ini siswa lebih menguasai materi pelajaran dibandingkan dengan gurunya. Coba kita bayangkan siswa yang dirumahnya gemar membaca koran, majalah, buku-buku, banyak mempelajari pengetahuan lewat internet, mendapatkan informasi lewat media televisi, dan lain sebagainya, maka siswa yang demikian akan lebih hebat dari gurunya yang tidak pernah membaca koran, tidak mengikuti perkembangan dunia, tidak pernah berkomunikasi lewat internet karena tidak memiliki fasilitas untuk itu dan lain sebagainya.

Jadi dengan demikian dalam era informasi sekarang ini seharusnya telah terjadi perubahan peran guru. Guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber belajar (learning resources), akan tetapi lebih berperan sebagai pengelola pembelajaran (manager of instruction). Dalam posisi semacam ini bisa terjadi guru dan siswa saling membelajarkan. Salahkah kalau guru belajar dari siswa???

Selasa, 05 Mei 2015

4 Jenis Manusia Diukur dari Kualitas Pembicaraan


Oleh : RACHMAN FIRDAUS, S.Pd
Guru Pada SMPN 1 Nagawutung – Lembata

Dalam sebuah kitab ada keterangan menarik. Disebutkan ada empat jenis manusia diukur dari kualitas pembicaraannya.

Pertama, orang yang berkualitas tinggi. Kalau dia berbicara, isinya sarat dengan hikmah, ide, gagasan, solusi, ilmu, dzikir, dan sebagainya. Orang seperti ini pembicaraannya bermanfaat bagi dirinya sendiri, juga bagi orang lain yang mendengarkan. Jika dia diajak berbicara sekalipun ngobrol, ujungnya adalah manfaat.

Ketika disodorkan padanya keluhan tentang krisis, dengan tangkas dia menjawab, "Krisis adalah peluang bagi kita untuk mengevaluasi kekurangan yang ada. Dengan krisis, siapa tahu kita akan lebih kreatif? Kita bisa mencari celah-celah peluang inovasi. Pokoknya jangan putus asa, semangat terus!" Siapa saja yang biasa berbicara tentang solusi, gagasan, hikmah, dan hal-hal serupa itu, insya Allah dia adalah manusia yang berkualitas.

Kedua, orang yang biasa-biasa saja. Ciri orang seperti ini adalah selalu sibuk menceritakan peristiwa. Melihat ada kereta api terguling, dia berkomentar ribut sekali. Seolah dirinya yang kelindes kereta. Ketika bertemu seorang artis, terus dicerita-ceritakan tiada henti. Pokoknya ada apa saja dikomentari. Dia seperti juru bicara yang wajib berkomentar kapan pun ada peristiwa. Tidak peduli peristiwa layak dia komentari atau tidak.

Ini tipe manusia tukang cerita peristiwa. Prinsip yang dia pegang: "Pokoknya bunyi!" Tidak ada masalah dengan peristiwa. Jika melalui itu semua kita bisa memungut hikmah yang sebaik-baiknya, insya Allah peristiwa bermanfaat. Namun, jika dari peristiwa-peristiwa itu tidak ada yang dituju kecuali menunggu sampai mulut lelah sendiri, ini tentu kesia-siaan.

Ketiga, orang rendahan. Cirinya kalau berbicara isinya hanya mengeluh, mencela, atau menghina. Apa saja bisa jadi bahan keluhan. "Aduuuh ini pinggang, kenapa jadi sakit begini. Hari ini kayak-nya banyak masalah, nih!" Ketika kepadanya disodorkan makanan, jurus keluhannya segera berhamburan. "Makanan kok dingin begini? Coba kalau ada sambel, tentu lebih nikmat. Aduuuh, kerupuk ini, kenapa kecil-kecil begini?" Terus saja makanan dikeluhkan, walau kenyataannya semua akhirnya habis juga.

Mengeluh dan mencela, itu hari-hari orang rendahan. Seolah tiada hari berlalu tanpa keluh-kesah. Ketika turun hujan, hujan segera dicaci. "Ohh, hujan melulu, di mana-mana becek. Jemuran nggak kering-kering." Ketika di jalanan macet, mengeluh. Ketika ada lampu merah, mengeluh. Ketika ada polisi, mengeluh. Ketika ada orang meminta-minta, mengeluh. Dan seterusnya. Seolah tiada hari berlalu tanpa keluh-kesah. Alangkah menderita hidup orang yang dipenjara oleh keluh-kesah. Dia tidak bisa membedakan mana nikmat dan mana musibah. Seluruh lembar hidupnya dimaknai sebagai kesusahan, sehingga layak dikeluhkan.

Keempat, orang yang dangkal. Adalah mereka yang semua pembicaraannya tidak keluar dari menyebut-nyebut kehebatan dirinya, jasa-jasanya, kebaikan-kebaikannya. Padahal hidup ini adalah pengabdian untuk Allah. Mengapa harus kita membanggakan apa yang Allah titipkan pada kita?

Ada orang pakai cincin segera berkomentar, "Oh, itu sih mirip cincin saya." Ada orang beli mobil baru, "Nah, ini seperti yang di garasi saya itu." Ada kucing berbulu tebal melompat, "Kucing ini gondrong. Oh yaa, kucing gondrong itu mirip singa. Hai, tau nggak? Saya sudah pernah ke Singapura, lho. Hebat sekali kota Singapura. Hanya orang yang hebat saja bisa pergi ke sana." Orang-orang dangkal ini akan terus berbicara tiada henti. Tak lupa dia selalu menyelipkan kata-kata kesombongan dan membanggakan diri.

Orang-orang dangkal tiada bosan mengekspose diri, menyebut jasa, kebaikan, dan prestasinya. Dia selalu ingin tampak menonjol dan mendominasi. Jika ada orang lain yang secara wajar tampak lebih baik, hatinya teriris-iris, tidak rela, dan sangat berharap orang itu akan segera celaka. Inilah ilmu gelas kosong. Gelas kosong, maunya diisi terus. Orang yang kosong dari harga diri, inginnya minta dihargai terus. Kita harus berhati-hati dalam berbicara. Harus kita sadari bahwa berbicara itu dibatasi oleh etika-etika. Hendaklah kita ada di atas rel yang benar. Jangan sampai kita jatuh dalam apa-apa yang Allah larang.

Dalam berbicara kita jangan bergunjing (ghibah). Bergunjing adalah perbuatan yang ringan, bahkan bagi sebagian orang mungkin dianggap mengasyikkan. Namun, jika dilakukan dengan sengaja, apalagi dengan kesadaran penuh dan tekad menggebu, bergunjing bisa menjadi dosa besar.

Kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai keinginan kita. Tapi kita bisa memaksa diri kita untuk melakukan yang terbaik menyikapi sikap orang lain. Banyak bicara tidak selalu buruk, yang buruk adalah banyak berbicara kebatilan. Boleh-boleh saja kita produktif berbicara, tapi harus proporsional. Jika kita berbicara hal yang benar dan memang harus banyak, tentu kita lakukan hal itu. Pembicaraan seringkali bergeser dari rel kebaikan ketika kita tidak proporsional.

Alangkah ironi jika orang-orang yang ahli agama, namun tidak menjaga lisan. Dia banyak menasihati umat dengan perilaku-perilaku yang baik, tapi saat yang sama dia tidak melakukan hal itu. Jika orang-orang preman berkata kasar, jorok, dan tak mengenai tata krama, orang masih maklum. Namun, jika orang-orang alim yang melakukannya, tentu ini adalah bencana serius.

Satu langkah konkret untuk memulai upaya menjaga lisan adalah dengan mulai mengurangi jumlah kata-kata. Makin sedikit bicara, makin tipis peluang kesalahan. Sebaliknya makin banyak bicara, peluang tergelincir lidah semakin lebar. Jika lidah kita telah meluncur tanpa kendali, kehormatan kita seketika akan runtuh. Berbahagialah bagi siapa yang bisa berkata dengan akhlak tinggi. Selalu berkata baik. Jika tidak, cukup diam saja!

Saudaraku, sadarilah bahwa lidah ini adalah amanah. Tiap-tiap kata yang terucap darinya kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Jadikan ucapan-ucapan kita adalah modal untuk mengundang keridhaan Allah. Jangan jadikan kata-kata itu sebagai sebab datangnya murka dan kebencian-Nya.

Sebaik-baik ilmu adalah yang bisa membuat hati kita bercahaya. Karenanya, kita wajib menuntut ilmu sekuat-kuatnya yang membuat hati kita menjadi bersih, sehingga ilmu-ilmu yang lain (yang telah ada dalam diri kita) menjadi bermamfaat. Bila mendapat air yang kita timba dari sumur tampak keruh, kita akan mencari tawas (kaporit) untuk menjernihkannya. Demikian pun dalam mencari ilmu. Kita harus mencari ilmu yang bisa menjadi "tawas"-nya supaya kalau hati sudah bening, ilmu-ilmu lain yang kita kaji bisa diserap seraya membawa manfaat. Mengapa demikian? Sebab dalam mengkaji ilmu apapun kalau kita sebagai penampungnya dalam keadaan kotor dan keruh, maka tidak bisa tidak ilmu yang didapatkan hanya akan menjadi alat pemuas nafsu belaka. Sibuk mengkaji ilmu fikih, hanya akan membuat kita ingin menang sendiri, gemar menyalahkan pendapat orang lain, sekaligus aniaya dan suka menyakiti hati sesama. Demikian juga bila mendalami ilmu ma'rifat. Sekiranya dalam keadan hati busuk, jangan heran kalau hanya membuat diri kita takabur, merasa diri paling shalih, dan menganggap orang lain sesat.

Motivasi Hidup

Oleh : RACHMAN FIRDAUS, S.Pd
Guru Pada SMPN 1 Nagawutung – Lembata

Kebahagiaan hakiki bagaikan senandung kebebasan tetapi bukan kebebasan itu sendiri. Kebahagiaan sejati ibarat sesuatu yang tengah terjebak dalam sebuah ikatan yang berupaya untuk mengembalikan sayap-sayapnya tetapi tak mampu melingkari luasnya cakrawala

Sang Pencipta memberikan kita potensi untuk dikembangkan, secara positif dan semaksimal mungkin. Jadi, jangan mengizinkan keadaan apapun memenjarakan pikiran kita. Mulailah Memikirkan sebuah kemenangan dari pada sebuah Kekalahan.

Sebuah pandangan dari mata seorang wanita membuat sang lelaki paling bahagia didunia, namun satu kata dari sepasang bibir seorang lelaki akan membuat seorang wanita menjadi kaya atau miskin.

Kebodohan mengajarkan manusia untuk mendaki jalan yang akan menghantarnya menuju pendewasaan diri. Demikian juga cinta dan kasih sayang akan membangkitkan jiwa manusia dari ranjang duka lara.

Tak sesekali bunga akan kembali kepelukan kehidupan, kecuali lewat kematian. Demikian pula cinta tidak akan bersemi kecuali setelah perpisahan.

Inilah saat dimana kemabukan hidup telah memisahkan diri dari kesadaran. Inilah percikan api pertama yang menyinari persemayaman hati yang paling dalam. Inilah catatan mitos pertama yang dipetik dari dawai hati manusia. Inilah perjalanan sekilas sang waktu yang tak dapat dilipat oleh jiwa dalam lembar sejarah manapun, dan membukakan pandangan-pandangannya diwaktu malam serta menyibak tirai hati nurani.

Siapapun yang memahami perempuan, mengagumi kecerdasannya, atau bahkan mengungkap misteri kesunyian dirinya adalah laki-laki sejati yang bangun dari sebuah mimpi indah.

Hidup yang tidak diselimuti cinta bagaikan batang pohon yang tidak menyimpan kembang dan buah. Seperti cinta yang tidak dihiasi keindahan tak ubahnya bunga yang tak menebarkan wewangian atau buah yang tak mengerami bebijian. Hidup, cinta dan keindahan adalah tiga wujud dalam satu hakikat yang berdenyut dalam keserasian tunggal dan tidak pernah dapat dirubah, apalagi dipisahkan.

Seiring dengan kedewasaan yang menjenterai diriku. Cintapun bersemi dan kemudian menjelma menjadi penguasa mutlak. Kupenuhi segala hasratnya dengan hasratnya dengan untaian kasih sayang yang bersumber dari kedalaman hatiku. Cinta mengundangku keperaduannya dan senantiasa mentasbihkannya dalam petilasan hatiku yang paling dalam. Disaat itulah cinta betul-betul mendekapku erat-erat.

Bertahanlah dalam luka dengan cara yang terpuji, niscaya Tuhan akan menyiapkan keindahan yang lebih layak.

Semua manusia memiliki hak, kita juga berhak mendapatkan apa yang kita inginkan, selagi itu positif dan tidak merugikan banyak orang.

Kalau ingin maju jangan tengok ke belakang, arah belakang kita jadikan sebagai motivasi, penuntun dan pengubah untuk menjadi yg lebih baik.

Jangan menyerah atas impianmu. Impian memberimu tujuan hidup. Ingatlah, bahwa sukses bukan kunci utama kebahagiaan. Semangat!

Andaikan kita sanggup melihat bahwa kemalangan yang telah mengalahkan kita dalam hidup, adalah kekuatan yang menerangi pelita hati kita dan membangkitkan gelora sukma dari ruang cemoohan menuju singgasana kemuliaan, maka percayalah. Kita akan merasa puas dengan apa yang kita miliki saat ini dan akan menganggapnya sebagai harta pusaka yang membuat kita semakin bijak dan dewasa dalam menjalani aktivitas hidup dan kehidupan.

Saat engkau telah mengerti sebuah persoalan dengan baik, hadapilah persoalan itu dengan berpikir dan berjiwa besar walau harus dengan menempuh jalan berliku, karena itulah jalan yang akan membawamu keluar dari persimpangan jalan berlubang.

Air mata dan ratapan layak untuk dialami oleh setiap manusia yang berdiri tegak di depan singgasana kehidupan dan kemudian meninggalkannya tanpa menyimpan setitik keringat yang menetes dari alisnya, telapak tangannya, atau setetes darah yang menitik dari kelopak hatinya.

Seorang bijak yang memegang teguh keimanannya berpapasan dengan sejoli muda yang berjalan saling berdekapan dalam buaian kemabukan cinta, serentak ia melemparkan tatapannya kelangit dan berbisik "sungguh ini adalah panorama yang sangat nista". betapa nistanya segala apa yang bersemayam di bawah kilau mentari.

Dalam bentangan proses menuju pendewasaan diri, setahap demi setahap pikiran meningkat dari eksperimen hidup dan kehidupan dengan berbagai teori ilmiah intelektual menuju ketingkat ruh spiritual hingga akhirnya menghadap kehadirat Tuhan dalam jiwa yang sempurna.

Kurasakan diriku teramat jauh dan asing dengan keriuhan orang-orang ketika aku tengah bergerombol bersama mereka. Namun kurasakan diriku teramat dekat ketika mereka semua telah berada jauh dariku.

Dalam hidup ini, Tuhan telah bangkitkan jiwa kita laksana pancaran cahaya yang berkilau benderang. Jiwa menggeliat kian merona indah bila kita telah mampu mengungkap misteri hidup dan kehidupan kita.

Pandangan dapat dijadikan senjata ampuh bagi kita untuk menaburkan riak-riak cinta pada semua aspek kehidupan karena pandangan pertama adalah penyingkap keabadian masa depan.

Setiap kesuksesan itu indah. Keindahan itu anugerah. Anugerah itu??????????

Hakikat dari sebuah Kebahagiaan itu adalah ketika kita mampu membuat orang merasa sempurna, BUKAN menjadikan ketidaksempurnaan orang lain sebagai senjata tuk melumpuhkan kebahagiaannya dan membuatmu merasa lebih sempurna.

Manfaatkan masa sehatmu sebelum datang sakitmu. Manfaatkan masa kayamu sebelum datang miskinmu. Manfaatkan waktumu semasa hidup sebelum ajal menjemput.

Bahagianya hidup ini karna "KEBERSAMAAN". Kebersamaan itu indah karena "CINTA". Cinta itu bersemi karna "KASIH SAYANG". Kasih sayang itu ada karena saling "MENGERTI DAN MEMAHAMI". Saling mengerti dan memahami itu adalah wujud dari "SALING MENDENGAR". Saling "MENDENGAR" adalah kunci dari kebahagiaan hidup bersama dengan orang lain. Upayakan untuk saling "MENDENGAR" dalam menjalani aktivitas hidup menuju manusia yang berkualitas dalam hidup dan kehidupan.

Ketika kita tidak mampu membuat orang lain tersenyum, setidaknya kita jangan sampai membuatnya menangis.

Kesempatan terbaik itu tidak datang dua kali. Kesempatan itu datang saat kita masih ragu tuk menentukan pilihan. Setiap aktivitas hidup yang kita lakukan, pasti ada resiko yang akan kita hadapi nantinya.

Orang yang berani adalah mereka yang ikhlas mengambil kesempatan tanpa ada keraguan dan siap menerima konsekuensi dari tindakan tersebut.

HIDUP tak selalu sesuai dengan KEINGINAN kita. Selalu ada MASALAH, namun masalah membawa PENGALAMAN dan pengalaman membawa kepada KEBIJAKSANAAN, jika kita MAMPU memberikan MAKNA yang TEPAT

Mengeluh tentang penderitaan masa lalu adalah cara yg pasti utk mendatangkan satu lagi penderitaan. Dan bangkitlah! Jalani hidupmu dengan semangat yang baru. Jadikan penderitaan itu sebagai refleksi hidup.

Hakikat dari sebuah Kebahagiaan itu adalah ketika kita mampu membuat orang merasa sempurna BUKAN menjadikan ketidaksempurnaan orang lain sebagai senjata untuk melumpuhkan kebahagiaannya dan membuatmu merasa lebih sempurna.

Semakin kita berdiam diri semakin kita diremehkan orang lain. Disaat itulah tabungan derajat kita semakin meningkat pada saatnya nanti