Asosiasi Guru Penulis Lembata

Hadiah Buku Pendidikan Matematika Realistik yang diberikan oleh Arie Wibowo, M.Pd guru matematika asal Kalimantas Selatan dalam momen Olimpiade Guru Nasional Tahun 2018 di Hotel D'Max, Praya, Lombok, Nusa Tenggara Barat tanggal 4 - 8 Mei 2018

Perwakilan NTT

Lima perwakilan NTT dalam ajang olimpiade guru nasional tahun 2018 yang terdiri dari guru mata pelajaran Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, dan guru kelas SD bersama para petinggi Kesharlindung Dikdas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Busana Daerah Papua

Bersama perwakilan guru asal Papua dalam ajang olimpiade guru nasional tahun 2018 saat malam penutupan, yang diwarnai dengan kekaragaman busana daerah masing-masing

Display Inovasi Pembelajaran

Menyanggahi pertanyaan para juri pada tahapan display dalam ajang Inovasi Pembelajaran tahun 2017 di Hotel Mercure Harvestland, Kuta, Bali, tanggal 4 - 8 September 2017

Wisata ke Pandawa

Diberikan kesempatan oleh panitia inobel untuk wisata bersama kelompok MIPA. Ini adalah salah satu destinasi wisata di Bali yang saya senangi

Tampilkan postingan dengan label kisah inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah inspiratif. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Mei 2018

Kisah Inspiratif Sang Natali


Suara tangis seorang bayi di malam itu, 25 Desember 1976, bertepatan dengan kelahiran sang Juru Selamat (Yesus Kristus), yang belakangan diketahui adalah anak sulung berjenis kelamin wanita yang baru saja lahir dari sebuah pasangan keluarga sederhana.

Jauh dikeheningan malam karena ditinggal penduduk setempat yang sedang merayakan malam Natal (yang letaknya puluhan kilometer dari dusun Ilowutung), serta ketiadaan tenaga medis, memaksakan sang ayah untuk berperan ganda demi keselamatan nyawa darah dagingnya.

Natali itulah nama yang dibubuhi sang ayah untuk bayi mungil itu. Natali tumbuh dalam kesederhanaan seperti keluarga-keluarga lain di dusun itu. Dengan seiring berjalannya waktu jumlah anggota keluarga Natali semakin besar setelah hadir keempat adiknya yang lain.

Terlahir dari keluarga kurang mampu, terkadang memaksakan seseorang hanya berpasarah pada kenyataan pahit hidupnya. Dilain sisi justeru ada orang yang sukses karena terlahir dari keaadaan demikian, seperti yang dialami adik-adik Natali (but not Natali).

Seperti biasa sebagai seorang gadis kampung, Natali hanya bisa mengeyam pendidikan SD. Ketika tamat SD, Natali dan para gadis lainnya lantas menjadi pekerja rumahan (memasak,mencuci, bersih-bersih rumah) sambil menunggu siapa jodoh yang kirimkan Tuhan untuknya.

Gading gajah yang merupakan mahar dalam budaya suku Lamaholot menjadi impian semua orangtua yang memiliki anak gadis, tak terkecuali orang tua Natali. Itulah kenyataan yang harus dihadapi seorang gadis kampung seperti Natali sebagai bentuk kepatuhannya terhadap orangtua.

Hati kecil Natali benar-benar memberontak. Gadis berparas cantik ini lantas memutuskan untuk merantau karena tak sanggup menghadapi kenyataan hidupnya itu. Atas restu kedua orang tuanya, dan bermodalkan keberanian, ia kemudian berangkat ke Negeri Jiran (Malaysia).

Hanya satu tujuan Natali, ia tak ingin adik-adiknya mengalami  hal seperti yang ia sendiri alami. “Mereka harus sekolah, minimal tamat SMA”, katanya. Itulah modal Natali untuk meyakinkan kedua orangtuanya. Itulah yang dipikiran Natali kecil, yang bisa menjangkau pikiran orang dewasa.

Salib adalah Jalan

Setiap jalan pasti dibukakan Tuhan bagi orang yang selalu berusaha. Itulah yang ada dalam pikiran Natali. Dan benar seperti janji Natali kepada kedua orang tuanya. Setelah mendapatkan pekerjaan yang layak, kehidupan keluarga di kampung halaman seperti mengalami suatu perubahan besar.

Keempat adiknya lantas bisa mengenyam pendidikan hingga ke tingkat SMP waktu itu (tahun 90-an), atas hasil kerja kerasnya sebagai TKW. Sayang salah satu dari keempatnya (anak ke-2) harus putus sekolah karena harus merawat kedua orangtuanya yang kebetulan sakit secara bersamaan saat itu.

Sang ayah yang sakitnya berkepanjangan benar-benar menjadi salib berat tersendiri untuk Natali waktu itu. Tapi syukurlah, karena atas kehendak Tuhan ayah Natali kembali sehat, setelah 6 bulan terbaring di rumah sakit, dan istirahat total 3 tahun untuk masa pemulihan.

Salib yang dialami keluarga ini justru menjadi jalan terbuka bagi mereka. Tak disangka putra tunggal yang merupakan anak ke-3 keluarga itu mampu melanjutkan pendidikan hingga ke tingkat yang lebih tinggi setelah lolos dalam suatu seleksi masuk perguruan tinggi.

Tuhan benar-benar baik. Selepas wisuda, sang putra tunggal langsung dipinang dalam seleksi angkatan laut republik indonesia. Ia lantas lolos dan kini bekerja sebagai seorang militer. Mungkin terasa biasa bagi kalangan tertentu, tetapi ini benar-benar mujizat bagi orang-orang pinggiran seperti keluarga Natali.

Anak ke-4 yang memilih jurusan kesehatan semasa kuliahnya, kini sedang bekerja di salah satu rumah sakit. Dan si bungsu yang berjiwa seni, kini sedang menjalankan masa-masa akhir studinya pada jurusan sendratasik (seni, drama, tari dan musik) di salah satu perguruan tinggi.

Kembali ke Sang Khalik

Kisah kesuksesan yang mampu mengubah hidup keluarga sederhana itu, tidak terlepas dari peran penting sang Natali yang dianggap sebagai pahlawan keluarga. Tetapi yang namanya hidup, tidak hanya bahagia saja yang dialami, kedua sisi antara bahagia dan sedih pasti selalu seimbang (life balance).

Keputusannya untuk tidak berkeluarga (memiliki suami), terbukti mampu mengantarkan kesuksesan adik-adiknya. Tetapi siapa sangka, Rabu, 18 April 2018, tepat pukul 01.55 dini hari waktu setempat adalah hari terakhir Natali berada ditengah keluarganya.

Seperti tersambar petir disiang bolong, semua kaum keluarga, kerabat, sahabat, dan kenalan seolah-olah tak percaya dengan berita kematian Natali. Kurang lebih baru setahun kembali dari perantauan, dan memilih untuk beristirahat bersama kedua orangtuanya.

Tak diduga ternyata demi kebahagiaan keluarga, Natali menyembunyikan suatu penyakit mematikan (kanker) dalam dirinya. Yang belakangan berdasarkan informasi yang diperoleh pihak keluarga dari sahabat kenalan Natali, penyakit yang dideritanya sudah berada pada stadium 4 (posisi terakhir) ketika kembali ke kampung halaman.

Itulah Natali, pahlawan keluarga yang lahir bertepatan dengan peringatan kelahiran Juru Selamat di sebuah dusun terpencil. Ia lebih memilih untuk mengorbankan segalanya, termasuk nyawanya sendiri demi kebahagiaan keluarga yang ia cintai.

“Terimakasih kaka, sudah menjadi pahlawan dan teladan buat keluarga kita. Jasamu akan selalu dikenang”. Itulah kata-kata yang terlontar dari adik-adik Natali saat mengantarkan jenazah kakanya menuju ke pemakaman.

Hari ini, genap 40 hari kepergian Natali dari tengah-tengah keluarga, dan kerabat. Tetapi kisah Natali ini mampu memberikan kita pelajaran hidup yakni "jangan pernah menyerah dengan kenyataan hidup ini, jika ingin mengubahnya lebih baik". @hyrolado

Selasa, 13 Februari 2018

Kesempatan yang kedua: suatu kisah inspirasi


Melihat kenyataan pahit kehidupannya saat itu (tahun 2011 silam), membuatku tersentuh dan ingin melakukan sesuatu. Tetapi aku tahu hal itu tidak mudah dan butuh proses, gumamku. Sementara aku hanya seorang pendatang baru (dimutasi), walaupun aku pernah menjadi bagian dari kehidupan mereka dimasa kecil dulu.

Herman Yoseph, itu namanya. Seorang pemuda pedalaman ilowutung yang dipaksa melanjutkan pendidikan untuk memenuhi syarat dibukanya suatu sekolah baru (minimal 10 siswa). Sementara adik bungsunya saat itu sudah duduk di kelas X salah satu SMA di ibu kota kabupaten Lembata.

Ya, SMPN Satap Ilowutung. Itulah nama sekolah yang dibangun pemerintah pada pertengahan tahun 2007 lalu, sebagai wujud pendekatan pelayanan. Herman sendiri bersama si sulung (kakaknya) menjadi bagian dari pembangunan sekolah tersebut (buruh bangunan).

Kehidupan yang jauh dari keramaian dan kebisingan kota, memaksakan mereka hanya berpasrah pada keadaan. Untung orangtuaku ikut pindah waktu itu. Jika tidak mungkin aku pasti mengalami nasib yang sama seperti mereka, bisikku dalam hati.

Hukum Adat
Memiliki postur tubuh yang besar, membuat Herman sulit diatasi guru-gurunya. Memang sudah kurang lebih lima tahun menjadi gelandangan di kampung setelah tamat sekolah dasar. Ia juga sering terlibat dalam kasus-kasus perkelahian antar kampung.

Dua kali terlibat kasus pemukulan guru, dan jauh dari sentuhan hukum menjadikan dirinya seolah-olah raja di antara yang lainnya termasuk para guru. Walaupun tidak sampai babak belur ke-2 orang guru yang menjadi sasarannya dalam waktu berbeda, tetapi tetap saja ia dipandang sebagai siswa yang bandel.

Para guru tidak mampu berbuat apa-apa, walaupun hanya sekedar skors sebagai konsekuensi atas tindakan Herman. Lantas hukuman apa yang diberikan pihak sekolah untuk si Herman, sementara kejadiannya di luar jam sekolah?. Ya, hanya hukum adat jawabannya. Ia diadili secara adat oleh para tetua kampung melibatkan pemeritah desa dan tokoh pendidik.

Sebagai pihak yang salah maka Herman bersama keluarga diwajibkan memberikan sejumlah barang adat sebagai denda atas perbuatannya. Mungkin terdengar asing untuk proses penyelesaiannya di era modern seperti ini, tetapi itu kenyataan sebagai kampung yang masih jauh dari sentuhan hukum.

Kalau bukan sekarang kapan lagi? 
Mendengar kisah-kisahnya, juga pernah diundang menghadiri proses penyelesaian salah satu kasus si Herman, membuat diriku tertarik untuk mencoba memberikan solusi demi masa depannya lebih baik.

Sebagai guru di sekolah, Herman ku memperlakukan layak seperti teman-teman yang lain. Namun sebaliknya saat di lingkungan rumah, ia ku jadikan teman. Seperti kata pepatah 'mengembek lah seperti kambing saat kamu berada dalam kandang kambing'. Itu lah yang ku lakukan.

Hampir setiap malam aku bertamu ke rumahnya. Kebetulan ayah Herman seorang penyadap tuak (aren) yang handal. Aku pun turut dalam pergaulan anak-anak muda yang juga adalah sahabat-sahabat Herman di kampung. Jago dalam voley ball, membuat Herman memiliki banyak teman

Tak jarang, aku pun sering mabuk-mabukan bersama mereka. Ya, hal itu terjadi karena budaya nya memang demikian. Yang disuguhkan kepada seorang tamu bukan kopi, teh, atau pun minuman segar lainnya, selain tuak, atau arak. Sebagai orang berpendidikan, tentunya itu keliru. Maka tak jarang namaku menjadi sorotan masyarakat setempat bahkan di kalangan guru. Hingga lintas kecamatan.

Al hasil, aku mendapatkan tempat di hati mereka. Sehingga momen-momen itu pun, dimanfaatkan untuk meberikan pandangan bahkan tak jarang memberikan nasehat. Ternyata usaha ku membuahkan hasil yang menurut ku sudah maksimal. Namun sayang rutinitas mabuk-mabukan sepertinya menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Niat dan tantangan
Sepanjang pergaulan kami, aku tak pernah menyangka jika si Herman bahkan punya niat untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, mengingat faktor usia. Yang lebih mengherankan lagi, ia ingin melanjutkan ke SMA seminari (sekolah menjadi imam katolik).

Hal itu, diutarakan di hadapan orangtu dan juga kepala sekolah yang turut diundang dalam jamuan makan malam yang disediakan orangtuanya beberapa waktu sebelum Ujian Nasional. Aku yang sudah dianggap sebagai kakak dan juga saudara, dimintai pendapat. Sontak diriku gembira, namun sepertinya belum yakin dengan niatnya ini.

Tanggapan pun datang dari berbagai pihak, lantaran sikap si Herman yang dianggap tak layak mengenyam pendidikan di sana. Berita ini bahkan sudah tiba ke pastor paroki sebagai pemimpin iman umat di wilayahnya.

Benar saja ketika aku diminta Herman dan orangtuanya untuk mendampinginya dalam proses permohonan izin ke paroki. Saat Herman diminta menyebutkan nama, sang pastor pun diam tak melanjutkan tulisannya. Ia menurunkan kacamatanya, memandang Herman dengan cermat. Memang selama ini, hanya namanya yang terdengar tanpa melihat orangnya.

Herman tertunduk malu. Sang pastor pun bertanya, 'apakah benar, kamu pelaku kasus pemukulan guru?'. Dengan segan ia menjawab, ya. Sang pastor lantas tegas dalam pernyataannya, 'kamu tidak layak!'. Seperti disambar petir, wajahku langsung memerah. Sang pastor pun mengalihkan perhatiannya ke aku, ketika tanpa disadari keluar sebuah kalimat dari mulutku. 'Tetapi paling tidak ia diberikan kesempatan. Mungkin di sana, ia lebih baik'.

'Kamu siapanya Herman?', tanya sang pastor. 'Aku kakaknya', jawabku simpel. Lantas pastor melanjutkan pertanyaan, 'apakah kamu bersedia bertanggung jawab, jika kelak terjadi kasus serupa di sana?'. Tanpa berpikir panjang, aku menyatakan kesediaanku demi si Herman.

Pastor pun melanjutkan surat permohonan izin tersebut, dengan menyertai kasus yang pernah dilakukan Herman. Sementara aku diminta untuk membuat surat pernyataan sikap, atas apa yang telah disepakati bersama.

Hari-hari terus berlalu, dan banyak di antara mereka (siswa) yang melamar ke SMA Seminari tak mampu melewatinya dan terpaksa kembali. Namun tanpa disadari, 7 tahun sudah si Herman yang kini lebih akrab disapa Frater Herman (panggilan bagi seorang calon imam katolik) sedang menjalani pendidikan di Seminari Tinggi (setingkat perguruan tinggi). Ia selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi keluarga kecilku, jika liburan tiba.

Harapanku, kisah ini dapat dibaca sang Frater. Dan semoga panggilan suci ini, mampu dijawabinya. @hyro