Asosiasi Guru Penulis Lembata

Hadiah Buku Pendidikan Matematika Realistik yang diberikan oleh Arie Wibowo, M.Pd guru matematika asal Kalimantas Selatan dalam momen Olimpiade Guru Nasional Tahun 2018 di Hotel D'Max, Praya, Lombok, Nusa Tenggara Barat tanggal 4 - 8 Mei 2018

Perwakilan NTT

Lima perwakilan NTT dalam ajang olimpiade guru nasional tahun 2018 yang terdiri dari guru mata pelajaran Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, dan guru kelas SD bersama para petinggi Kesharlindung Dikdas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Busana Daerah Papua

Bersama perwakilan guru asal Papua dalam ajang olimpiade guru nasional tahun 2018 saat malam penutupan, yang diwarnai dengan kekaragaman busana daerah masing-masing

Display Inovasi Pembelajaran

Menyanggahi pertanyaan para juri pada tahapan display dalam ajang Inovasi Pembelajaran tahun 2017 di Hotel Mercure Harvestland, Kuta, Bali, tanggal 4 - 8 September 2017

Wisata ke Pandawa

Diberikan kesempatan oleh panitia inobel untuk wisata bersama kelompok MIPA. Ini adalah salah satu destinasi wisata di Bali yang saya senangi

Kamis, 02 Maret 2017

Contoh Laporan Pengembangan Diri

“SATU GURU SATU INOVASI (SAGUSANOV)” 
 IKATAN GURU INDONESIA (IGI)  
05 SAMPAI DENGAN 26 FEBRUARI 2017

Latar Belakang
Pengguna Smart phone berbasisAndroid saat ini sudah sangat familiar hampir seluruh lapisan generasi manusia. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, bahkan bayi sekalipun jika diperlihatkan dengan layar Smart phone berbasisAndroid sudah tampak tertarik padanya. Penggunaan Smart phoneberbasis Android juga sudah menjadi hal biasa bagi anak-anak pra sekolah sampai perguruan tinggi. Anak-anak yang nalurinya suka bermain dalam era digital saat ini sudah beralih pada permainan yang ada hubungannya dengan Smart phoneberbasis Android, baik digunakan untuk permainan maupun untuk berkomunikasi dengan teman sejawat menggunakan media sosial. Sebagai akibatnya guru yang mengajarkan mereka merasa kesulitan untuk memahami perkembangannya jika tidak memasuki dunia mereka. Untuk dapat memahami karakter dan perilaku, serta untuk dapat mengaktifkan siswa dalam belajar maka guru perlu memahami perkembangan dunia digital saat ini.

Perubahan dunia anak-anak sebagai peserta didik saat ini harus dibarengi dengan kemajuan guru dalam memanfaatkan IT Smart phone berbasis Android (ponsel, gadget, tab, dll.). Sebagai fasilitator pembelajaran dalam dunia pendidikan baik di dalam kelas maupun di luar kelas, guru seharusnya turut serta membantu meminimalisir dampak negatif dari Smart phone berbasis Android. Salah satunya dengan menyajikan/membuat aplikasi Smart phone berbasis Android yang bersifat edukatif seperti materi pembelajaran, permainan interaktif edukatif, ataupun mesin pencari khusus untuk kalangan pelajar. Aplikasi tersebut juga dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran di kelas.
Banyaknya guru dan siswa yang mempunyai Smart phone berbasisAndroid, sehingga membuat satu aplikasi berbasis Android dengan konten pendidikan akan memberikan manfaat bagi Dunia Pendidikan Kita. Disamping itu juga keharusan bagi guru menyiapkan PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) mulai gol III/b berupa Hasil Penelitan, Karya Ilmiah ataupun Karya Inovatif. Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, maka perlu adanya usaha dari guru untuk meningkatkan kompetensinya dalam bidang informasi dan teknologi (IT) atau yang lebih dikenal dengan digital. Usaha yang dapat dilakukan adalah melalui pelatihan-pelatihan, baik yang dilakukan secara mandiri oleh guru maupun yang dilakukan oleh pemerintah. Salah satu usaha mandiri guru aktif mengikuti kegiatan pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan Ikatan Guru Indonesia (IGI) diantaranya melalui workshop Satu Guru Satu Inovasi (SAGUSANOV).
  
   
Nama Kegiatan
Kegiatan workshop peningkatan kompetensi  guru ini dinamakan Workshop Online Satu Guru Satu Inovasi (SAGUSANOV) Kelas Telegram Sagusanov 7. SAGUSANOV merupakan gerakan untuk membuat karya inovasi di bidang pembelajaran berbasis android. Melalui workshop SAGUSANOV, guru dilatih membuat aplikasi materi pembelajaran berbasis android.

Maksud dan Tujuan Kegiatan
 Adapun tujuan workshop online “Satu Guru Satu Inovasi (SAGUSANOV)” sebagai berikut.
  1. Guru memahami proses migrasi materi pembelajaran berbasis hardcopy atau softcopy ke bentuk teknologi Smart phone berbasisAndroid.
  2. Mengajak guru untuk memberikan materi pembelajaran yang menarik dengan memanfaatkan Smart phoneberbasis Android.
  3.  Unsur PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Sub Unsur : Melaksanakan Karya Inovatif. Poin a. Membuat alat pelajaran (Kategori kompleks ). Angka Kredit = 2
Dampak Kegiatan 
 Dampak dari kegiatan workshop online “Satu Guru Satu Inovasi (SAGUSANOV)” bagi pesertanya adalah :
  1.  Meningkatkan kemampuan guru dalam pemanfaatan teknologi informasi terutama Smart phoneberbasis Android dalam komunikasi media sosial (telegram) dan kegiatan pembelajaran.
    2.      Meningkatkan kemampuan guru dalam membuat media pembelajaran berbasis android berupa materi pembelajaran dan soal-soal interaktif.
    3.      Membantu mengimbangi konten-konten negatif dengan membuat konten-konten positif (edukatif) dalam aplikasi Smart phoneberbasis Android.
Penyelenggara Kegiatan
Penyelenggara kegiatan workshop online “Satu Guru Satu Inovasi (SAGUSANOV)” adalah Ikatan Guru Indonesia (IGI).  Ikatan Guru Indonesia (IGI) adalah organisai guru yang diinisiasi sejak tahun 2000 dengan nama Klub Guru Indonesia dan secara resmi berbadan hukum pada tanggal 26 November 2009 dan disahkan oleh Kementerian Hukum dan HAM dengan Surat Keputusan Nomor AHU-125.AH.01.06 Tahun 2009. Kepengurusan baru IGI 2016-2021 juga telah terdaftar di kementerian hukum dan ham dengan surat keputusan nomor AHU-0000308.A.H.01.08.Tahun 2016 dengan Ketua Umum Muhammad Ramli Rahim dari Sulsel dan Sekjen Mampuono dari Jawa Tengah.
Pola Penyelenggaraan Kegiatan
Pola penyelenggaraan kegiatan adalah 32 JP secara online (moda daring), dengan materi sebagai berikut:
No
Materi
Waktu
1.
Instal Intel XDK
4 JP
2.
Membuat Engine
6 JP
3.
Terhubung dengan Hyperlink
4 JP
4.
Heading, Paragraph & Images
4 JP
5.
Mempercantik Tampilan
5 JP
6.
Soal Evaluasi Belajar
4 JP
7.
Make APK, Capture Screen & Upload ke Youtube
5 JP
Pelaksanaan workshop online “Satu Guru Satu Inovasi (SAGUSANOV)”ini dilaksanakan melalui kelas telegram SAGUSANOV sesuai waktu yang telah ditentukan penyelenggara. Materi workshop dibagikan melalui chanel group telegram SAGUSANOV dalam bentuk PDF, gambar, aplikasi dll. Proses diskusi dan pelaporan hasil karya peserta dilakukan melalui  group telegram SAGUSANOV Indonesia dan SAGUSANOV 7. Peserta yang telah menyelesaikan tugas seluruh materi “Satu Guru Satu Inovasi (SAGUSANOV)” berhak mendapat sertifikat.

Waktu dan Tempat Penyelenggaraan Kegiatan 
              Pelaksanaan workshop online “Satu Guru Satu Inovasi (SAGUSANOV)” dilaksanakan pada tanggal 05 sd 26 Februari 2017 dengan waktu dan tempat fleksibel, menyesuaikan kondisi peserta namun terbatas sampai tanggal pelaksasanaan kegiatan yang telah ditetapkan penyelenggara tersebut.

Nama-nama Pelatih/Narasumber
              Pelatih utama workshop online“Satu Guru Satu Inovasi (SAGUSANOV)” adalah Abdul Kholiq, S.Kom. dan berberapa narasumber SAGUSANOV sebagai administrator antara lain: Fathur Rahman, Rusdi Mustapa, Tri Goesema Putra, Abdul Mujid dan Gusik Inux. 

Hasil Karya
Hasil dari workshop online“Satu Guru Satu Inovasi (SAGUSANOV)” ini, penyusun sebagai peserta mampu membuat aplikasi Smart phone berbasisAndroid materi pembelajaran IPS Kelas 3 Sekolah Dasar dengan tema Pekerjaan di Sekitar Kita. Fitur dalam aplikasi dapat dilihat video yang telah di upload ke youtube dengan alamat http://youtu.be/KxDw-WBJC2csebagai berikut. 

Aplikasi tersebut beisi konten identitas materi pembelajaran, Deskripsi materi pembelajaran, soal evaluasi interaktif (Pilihan Ganda dan TTS), referensi dan profil penyusun. Aplikasi tersebut masih bersifat terbatas pada satu tema saja dengan 2 Kompetensi Dasar, namun kedepannya akan dikembangkan untuk satu mata pelajaran persemester serta lebih banyak latihan soal interaktif.

Sumber:www.oktoriyadi.ml

Selasa, 17 Januari 2017

Download Smadav Pro + SN


Selamat siang sahabat ilowutung.blogspot.co.id
Selamat berjumpa kembali setelah lama menghilang dari dunia blogger.
Kali ini, blog ilowutung menyajikan bagaimana menjadikan SMADAV 2017 11.1 yang barusan dirilis pada 15 January 2017. Tanpa basa-basi mari saya ajak anda untuk sebelum melakukan registrasi silahkan dowload dulu aplikasi smadav 2017 11.1 di sini, klik kiri pada salah satu dari kedua tombol dowload seperti gambar di bawah ini (disarankan menggunakan IDM).

Atau yang sudah memiliki smadav versi sebelumnya dapat melalakukan update melalui menu protect dan klik kiri pada cek update seperti yang saya lingkari dengan tinta berwarna merah pada gambar berikut.
Silahkan menunggu beberapa saat hingga unduhannya selesai dan lakukan proses installasi seperti biasanya. Jika sudah selesai install silahkan buka menu manage, pada menu general setting isikan Nama : DavidJR210102 dan Key: 085700731641 dan klik pada register seperti pada gambar berikut.

Maka pada sudut kanan atas yang sebelumnya adalah Buy berubah menjadi Pro. Jika sudah selesai centang pada aktifkan Smadav-Turbo untuk mempercepat proses scanning. Selamat menikmati, semoga bermanfaat

Rabu, 18 Mei 2016

Berhenti belajar setelah menjadi guru

Pemahan miring guru tentang assesmen menggambarkan kelemahan kita sebagai pendidik yang cenderung berhenti belajar setelah menjadi guru. Guru sering menasehati siswanya untuk giat belajar, namun dirinya sendiri tidak demikian. Lalu apa yang harus dituru dari dirinya?

Kemampuan mengajar di kelasnpun sering dianggapnya sudah lebih dari cukup, walaupun masih banyak kelemahan yang muncul saat proses pembelaran. Apalagi ditambah penilaian yang terkesan hanya berpatok pada aspek kognitif saja, dan mengabaikan kedua aspek lainnya. Lebih dari itu, ketidaktuntasan siswa dianggap sebagai kelemahan individu siswa yang bersangkutan. Padahal nilai tersebut, menggambarkan keberhasilan atau kegagalannya seorang guru selama melakukan proses pembelajaran.

Mengejar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan satuan pendidikan, juga menjadi target yang paling diutamakan. Lalu apakah sang penentu KKM mengetahui dengan benar tingkat kompleksitas setiap mata pelajaran? Jawabannya bisa ditebak "mengarang". Akhibanya jurus mendongkrakpun mulai diterapkan dalam dunia pendidikan. Sesungguhnya hal tersebut dilakukan hanya untuk mematikan katakter (jujur) baik dalam diri guru maupun siswa.

Sepertinya hasil sulap yang dilakukan guru setiap tahun, sudah terserap dan dipahami benar oleh siswa ketimbang pembelajaran yang diberikan gurunya. Kini kita telah memunculkan karakter baru yang sangat tidak diharapkan "mental santai" dari diri siswa. Bahkan lebih dari itu, hasil Ujian Nasional (UN) dijadikan patokan utama mutu suatu lembaga pendidikan. Haruskah demikian?


contoh_laporan_PPL_lesson_study
artikel_lesson_study

“mental santai” karekter yang dihasilkan guru saat ini

 DICUEKIN
Kemampuan mengajar guru di kelas sering dianggapnya sudah lebih dari cukup, walaupun masih banyak kelemahan yang muncul saat proses pembelaran. Apalagi ditambah penilaian yang terkesan hanya berpatok pada aspek kognitif saja, dan mengabaikan kedua aspek lainnya. Lebih dari itu, ketidaktuntasan siswa dianggap sebagai kelemahan individu siswa yang bersangkutan. Padahal nilai tersebut, menggambarkan keberhasilan atau kegagalan seorang guru selama melakukan proses pembelajaran.

Mengejar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan satuan pendidikan, juga menjadi target yang paling diutamakan. Lalu apakah sang penentu KKM mengetahui dengan benar tingkat kompleksitas setiap mata pelajaran? Jawabannya bisa ditebak "mengarang". Akhibatnya jurus mendongkrakpun mulai diterapkan dalam dunia pendidikan. Sesungguhnya hal tersebut dilakukan hanya untuk mematikan katakter (jujur) baik dalam diri guru maupun siswa.

Lebih diperparah lagi kaeran hasil sulap yang dilakukan guru setiap tahun, sudah terserap dan dipahami dengan benar oleh siswa ketimbang pembelajaran yang diberikan gurunya. Secara sadar, saat ini kita telah memunculkan karakter baru yang sangat tidak diharapkan "mental santai" dari diri siswa. Bahkan lebih dari itu, hasil Ujian Nasional (UN) dijadikan patokan utama mutu suatu lembaga pendidikan. Haruskah demikian?


Guru yang penuh kreatif dan inovatif adalah guru yang mau untuk terus melakukan reflektif demi memperbaiki proses pembelajaran di kelasnya dan tak pernah merasa  takut ketika siswanya menghadapi ujian nasional. Mari kita refleksikan dan berbenah demi generasi abad 21 yang lebih baik.

Kamis, 31 Maret 2016

Antara menguji dan diuji


Program percepatan kuliah bagi guru yang belum memiliki kualifikasi pendidikan S1 yang diselenggarakan oleh Universitas Nusa Cendana Kupang bekerjasama dengan pemerintah kabupaten Lembata menurut pemikiran kerdil saya sangatlah membantu. Sebab tidak ada kata terlambat bagi semua orang yang mau terus belajar, walapun wajah tampaknya lelah karena harus mengerjakan tugas dan pada akhirnya harus diuji pula.

Sayapun turut merasakan betapa berbanding terbaliknya situasi dimana yang biasanya memberikan tugas, memberikan ujian, kini harus diberi tugas dan diuji. Tetapi saya percaya hal itu hanya bagian kecil pengeluhan orang-orang yang disebut kaum intelek ini. Dalam hati kecil saya berbisik "seandainya ada universitas di Lembata selain UT, mungkin para guru saya tidaklah mengalami hal demikian". Kini kuliah perdanapun telah berjalan pada awal bulan Maret lalu, menandakan para guruku kembali menyandang status "mahasiswa".

Walaupun umur sudah senja, tetapi semangatnya seakan menyadarkan saya sebagai mantan murid yang juga rekan kerjanya kini, untuk turut ambil bagian demi mengurangi kerutan yang semakin hari semakin bertambah jumlahnya diwajah lusuhnya kini.

File-file ini merupakan tugas diskusi, presentasi, dan tugas mandiri dari beberapa topik matematika SD yang dibahas dalam perkuliahan semester ini. Telah saya bahas secara keseluruhan, dan semoga dapat membantu. Selamat belajar

ARITMETIKA
PERBANDINGAN
STATISTIK
KPK&FPB
BILANGAN


Kritik dan saran disampaikan melalui kontak yang tertera pada catatan kaki setiap file. Terimakasih

Kamis, 15 Oktober 2015

Surat Untuk Para Elitku



Sehat-Gratis. Kata-kata itu terdengar begitu indah, bahkan menjadi pujaan para kaum jelata. Dalam hal pelayanan publik, sehat-gratis memang menjadi incaran semua orang. Tetapi apakah kata gratis seimbang dengan pelayanan? Mungkin pertanyaan ini lumrah bagi semua orang yang biasa memanfaatkan jasa publik yang katanya gratis ini. Tetapi tidak bagi kaum ibu-ibu hamil siang ini di RSUD Lewoleba.

Kelihatan ngantuk, lesuh, lapar, bahkan bosan mewarnai sederetan wajah penuh harap untuk mendapatkan pelayanan USG siang ini. Waktu sudah menunjukkan pkl.13.00 wita, tapi tidak kelihatan seorang dokter yang muncul. Ada keluarga di rumah yang bahkan panik hingga menelpon pasien (ibu-ibu hamil) yang belum kunjung kembali.

Saya bahkan merasa iba terhadap ibu-ibu yang datangnya jauh dari Kedang. Menurut kisah mereka, demi mendapatkan USG ini mereka bahkan berangkat sejak subuh pkl.02.00 wita, dan berharap dapat kembali nanti pada pkl.15.00 wita siang ini. Tetapi sepertinya harapan ini sirna. Lebih parah lagi ada yang bahkan datangnya sejak senin hanya untuk mendapatkan pelayanan di hari selasa, atau kamis sesuai jadwal USG RSUD Lewoleba namun mengalami nasib serupa.

Jika kita telusuri visi, misi, motto, dan falsafahnya yang tertuang dalam surat tak bernomor tertanggal 12 Maret 2012 yang ditempelkan pada hampir semua unit-unit di RSUD ini, mungkin akan sangat disayangkan bagi orang-orang yang paham. Tetapi tidak bagi mereka yang hanya mengikuti irama seperti kuda yang telah dikekang.

Entah itu hanya pajangan, atau hiasan belaka. Tetapi keluhan ibu-ibu siang ini hampir semuanya dibilang sama. Para pelayan kesehatan (perawat) yang katanya profesional itu bisa dibilang galak dalam pelayanan. Bagaimana mungkin mendiagnosa seseorang sama seperti menginterogasi tanyaku dalam hati.

"CERDAS" dalam pelayanan adalah motto yang merupakan singkatan dari Cepat, Empati, Rasional, Disiplin, Adil, Senyum. Sayang sekali tidak disesuaikan dalam prakteknya. Memang latar belakang sering menjadi alasan utama. Tetapi apa kita tidak bisa keluar dari budaya yang tidak perlu dipertahankan ini?

Akhir kata, saya meminjam kata kata yang sudah populer kedengarannya "Sehat Itu Mahal", Ok. Tetapi jangan "mahalkan" sehat itu hanya untuk orang-orang kecil.

Rabu, 30 September 2015

SEANDAINYA WARTAWAN JADI "PINOKIO"


Antonius Da Silva S.Pd
Seorang Guru Di Daerah Terpencil

(Sebuah kegelisahan hati terhadap "oknum wartawan lokal" menjelang hajatan politik)

Menjadi Wartawan adalah impian masa kecilku. Bertanya, meliput, menulis, menganalisa, mengedit, dan mengulasnya menjadi sebuah berita menarik, sungguh merupakan sebuah profesi yang luar biasa. Jika kita melihat dalam perspektif Samuel Bloom, maka wartawan adalah sebuah profesi yang mencerahkan dan mencirikan sebuah cara berpikir kognitif yang sempurna.

Sampai saat ini, saya begitu mengagumi wartawan, terlebih lagi, saat mereka bisa menggengam dan memuat dunia hanya dengan menggoreskan pena pada lembaran-lembaran kertas biasa. Ada beberapa wartawan yang begitu menginspirasi, sehingga akhirnya saya tertarik untuk menulis, tanpa pernah mengingkari bahwa kerapkali, saya juga tak begitu menyukai mereka. Sampai detik ini pun, saya masih tetap mengagumi mereka, tetapi ada semacam kegelisahan dan kekuatiran di benak saya terhadap para wartawan dan kode etiknya, terutama ketika menjelang hajatan politik.

Apakah para wartawan bisa jujur layaknya seorang "Pinokio"? Pertanyaan ini kemudian mendorong saya untuk menulis impian saya tentang mereka tanpa pernah bermaksut untuk menggurui ataupun menyindir.

Wartawan Dalam Wajah Pinokio

Pinokio adalah sebuah cerita yang berasal dari Italia. Kisah ini menceritakan tentang seorang pria tua miskin bernama Geppetto yang sangat merindukan kehadiran seorang anak laki-laki. Dengan ketrampilan memahatnya, dia akhirnya membuat sebuah boneka kayu,yang diberi nama Pinokio. Boneka kayu (Pinokio) itu, lalu diberi nafas kehidupan oleh Peri Biru. Ada satu hal yang menjadi keunikan dari Pinokio ini. Hidungnya akan bertambah panjang jika dia mulai berbicara tentang kebohongan. Setiap kebaikan atau kejujuran yang dilakukanya akan membuat hidungnya kembali normal. Si Pinokio ini akhirnya menjadi manusia sesungguhnya setelah dalam hidupnya selalu melakukan kebaikan yang berlandaskan kejujuran. Pinokio adalah  sebuah cerita dongeng (bohong), yang isinya sarat akan 'fakta' ( kejujuran). 

Saya kemudian mulai berpikir bagaimana jika para wartawan mendapat "berkah" seperti Pinokio ini. Saya yakin dunia yang digambarkan akan menjadi begitu jujur dan apa adanya seperti lembaran kertas-kertas yang mereka tulis. Kenapa mereka harus seperti Pinokio (jujur)? Karena kata-kata mereka bisa menipu, menyakiti, melukai, bahkan bisa membunuh orang yang tak bersalah. Diujung penanya ada kebenaran tapi pena itu juga bisa menyesatkan (kecerobohanya), itulah wartawan. 

Dalam buku diary-nya, seorang teman saya yang kebetulan juga seorang wartawan menulis seperti ini "Teman-temanku wartawan, kita bisa saja menggunakan kebohongan untuk menarik keluar kebenaran bukan sebaliknya menggunakan dalil kebenaran untuk menutupi kebohongan. Bukan juga menjadikan kertas-kertas itu, sebagai media untuk menunjukkan betapa kita begitu hebat dan perkasa sehingga setiap orang akan ketakutan melihat kita". 

Wartawan adalah mata, telinga, hidung, kaki, tangan dan hati dari orang-orang yang mencintai kejujuran dan kebenaran. Mungkin saya keliru mendefenisikannya, tapi itulah anggapan orang-orang yang buta jurnalistik (terutama orang-orang kampung). Kata-kata (tulisan) wartawan itu dianggap seperti sabda yang jujur dan tak terbantahkan. Hukumnya fardu'ain (wajib), sehingga mampu mempengaruhi seluruh opini masyarakat (grassroots) untuk langsung percaya. Tidakkah itu sebuah dosa besar jika apa yang dikatakan (tulis) adalah sebuah kebohongan? 

Pena seorang wartawan itu seperti sebuah pedang bermata dua. Dua sisinya sama-sama dipakai untuk "mengiris". Satu sisi dipakai untuk mengiris kebohongan supaya kebenaran bisa muncul dan sisi yang lainnya dipakai untuk mengiris kebenaran supaya tampak lebih jelas. Dan saya punya sedikit cerita tentang pena itu, yang kadang begitu menyakitkan.

Pada tahun 2013 yang lalu, seorang teman saya mengeluh karena istrinya dikorankan dengan judul besar "Bidan di Desa A Meninggalkan Tugas". Pemberitaan ini membuat pasangan suami-istri stress berkepanjangan. Usut punya usut ternyata istrinya cuma bidan sukarela. Selama satu tahun lebih mengabdi, dia tidak dibayar tapi tetap menjalankan tugasnya. Hari dimana si-wartawan itu datang adalah hari dimana dia harus ke kota kabupaten untuk mendampingi ibunya yang sedang sakit keras. Di tahun yang sama ini juga, seorang kepala sekolah mengeluh karena institusinya dikorankan dengan judul besar "Guru-Guru Di Sekolah A Meninggalkan Tugas". Pencitraan buruk yang digambarkan akhirnya membuat orang-orang menilai miring dan mencibir seisi sekolah. Usut punya usut ternyata hari dimana si-wartawan itu datang adalah hari semua siswa diliburkan karena semua guru mengikuti kegiatan MGMP di tingkat kecamatan.Dan masih banyak kisah pedih lain, yang sama-sama digoreskan oleh pena itu.  Tidakkah pemberitaan ini menggambarkan sebuah kesalahan fatal? 

Saya akhirnya bingung sendiri, "pena" apa yang dia pakai? Ataukah karena ada ruang "klarifikasi" atau "hak jawab" bagi siapa saja yang keberatan dengan isi tulisan itu,maka wartawan bisa seenaknya "menggigit"? Bukankah paku yang sudah dicabut tetap akan memberi bekas abadi pada kayu itu? Bukankah ilmu kedokteran sudah menjelaskan bahwa luka psikis adalah luka yang paling sulit disembuhkan? Ataukah karena alasan bahwa wartawan juga "manusia biasa", sehingga berhak untuk melakukan kesalahan? Tidakkah itu berlebihan? Kenapa tidak melakukan cek dan recek? Cek lagi dan recek lagi untuk memastikan kebenaran itu?

Sekali turun kemudian membuat berita layaknya sebuah "cerita roman",tidakkah itu berbahaya? Saya cuma takut dan kuatir bahwa istilah yang sering saya dengar ditepi jalan "Tak ada ikan kakap,ikan teri pun jadi", diamini hanya supaya bisa tetap "makan". Tidakkah ini bertentangan dengan kode etik jurnalistik? Wartawan dalam wajah Pinokio adalah impian saya supaya para wartawan lebih berhati-hati, lebih mengerti, lebih jujur dan lebih bernurani dalam menggoreskan penanya, hingga suatu saat bisa menjadi "wartawan yang sesungguhnya".

Wartawan Dalam Jaring Politik 

Sebuah kebiasaan yang mentradisi bahwa menjelang hajatan politik seperti pileg, pilbub, pilgub, dan pilpres, adalah bahwa semua media massa, baik itu media cetak ataupun media elekronik turut serta dalam isu pemberitaan. Para politisi, para caleg, para cabub, para cagub dan para capres, kemudian menjadikan mediamassa sebagai alat untuk memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan programnya.

Entah sebuah kekuatan besar darimana, tiba-tiba saja mediamassa itu "terbelah" menjadi  beberapa 'bagian' (kubu-kubu). Idealisme indepedensi para wartawan pun ikut "terbelah" karena terlanjur terikat "kontrak politik". Akibatnya langsung berdampak pada isi pemberitaan yang terkesan saling serang, saling sikut, dan saling jegal menjegal. Para wartawan inipun akhirnya, mulai berat sebelah, dan trik-trik sarkas pun mulai disertakan, seperti gambar yang agak lucu dan mengejek, judul yang profokatif, sampai pada isi berita yang nampak seperti "silet" yang bisa melukai siapa saja yang salah tangkap atau salah perhitungan. Kode etik jurnalistik yang menjadi garis panduan bagi wartawan, berubah menjadi garis samar-samar yang begitu mudah "dipolitisir". Media massa yang dulunya menentang status quo dan benci kekuasaan seakan melempem tak berdaya seolah kehilangan giginya.

Lebih anehnya lagi, entah siapa yang memulai, secara tiba-tiba muncul koran, majalah dan tabloid dadakan. Tugasnya cuma itu-itu saja dan mudah ditebak; menjaga elektabilitas orang yang didukung, menutupi semua keburukanya dan mengontrol isu publik. Loyalitas buta dan prinsip asal bapa senang-pun terpaksa dilakukan walau bertentangan dengan nurani. Coba saja kita lihat hajatan pilpres kemarin. Sungguh lucu, masing-masing stasiun TV memenangkan capres yang berbeda dengan pembuktian yang sama-sama akurat. Pertanyaan-nya, siapa yang berbohong? Andaikan "berkat Pinokio" itu ada, maka orang tidak perlu berdebat ria hanya untuk mencari kebenaran itu. Cukup lihat "hidungnya", maka kebohongan dan kebenaran akan terpampang dengan jelas.

Sialnya, pengaruh inipun merambah sampai pada tingkat "akar-rumput" (masyarakat kecil). Malah jarak atau jurang yang dibuat jauh lebih besar dan bisa menimbulkan masalah hukum. Fakta membuktikan bahwa persoalan politik ini bisa memicu lahirnya konflik-konflik horizontal dan konflik-konflik 'spontanitas' yang bisa berbuntut pada persoalan SARA.
Lebih sialnya lagi, dengan segala kepolosan dan keluguan, masyarakat yang awam politik ini, akhirnya berhasil memilih pemimpin hasil 'iklan' dan 'rayuan' para wartawan yang menyembunyikan dengan rapi keburukanya lewat ulasan berita di media cetak ataupun media elektronik yang begitu indah dan logis. Kenapa harus seperti itu? Tidakkah itu bertentangan dengan prinsip dan kode etik?  Bukankah kebenaran harus diungkapkan secara terang benderang? Apalagi jika itu menyangkut seseorang yang akan memimpin negeri ini? Lagi-lagi oknum wartawan ataupun reporter melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal.

Seandainya para wartawan itu menjadi seperti Pinokio, saya yakin endingnya akan menjadi berbeda. Sekuat apapun presure politik, tetap saja mereka harus bertahan pada prinsip dan kode etiknya. Bertahan layaknya seperti seekor ikan dilaut yang tak pernah menjadi asin hanya karena hidup dilautan yang begitu asin. Idealisme dan prinsip hidup para wartawan sebenarnya menjadi kekuatan besar yang mampu merubah atau membuat tatanan dunia menjadi lebih baik. Seandainya wartawan menjadi pinokio maka dia pasti bisa bertahan pada idealisme, kode etik dan prinsip hidup yang kemudian  memampukanya untuk menentang, menelajangi, memerangi semua kejahatan, kebobrokan dan keegoisan dunia dan pemimpin negri ini. Dan impian tentang wartawan yang selalu berkata (tulis) jujur dan tulus seperti Pinokio adalah harapan setiap orang yang mencintai kebenaran. Itulah impianku tentang wartawan, berlebihankah?

Sabtu, 12 September 2015

Kisah Delon dan Rossi yang menjadi buruh pelabuhan


Adalah Delon, sapaan Onesimus Delon Naisoko seorang anak laki-laki berdarah Kefamenanu ibu kota kabupaten Timor Tengah Utara dan sahabat karibnya Rossi Fatin. Keduanya duduk di bangku kelas VI SDN Tenau Kupang. Alkisah keduanya selalu bersama baik dalam keseharian di rumah sebagai tetangga dan juga di sekolah sebagai teman kelas. 

Keduanya kelihatan gugup dengan kehadiran saya di samping mereka yang mendekati dan berusaha mengetahui aktivitas mereka saat mencoba menawarkan jasanya pada seorang calon penumpang KM. Bukit Siguntang, yang siang itu akan diberangkatkan dari pelabuhan Tenau Kupang tujuan Lewoleba Lembata.

Saya berusaha menghilangkan keluguhan dan gerogi yang terlihat diwajah kedua siswa itu. Dengan perlahan saya melontarkan beberapa pertanyaan yang bertujuan mengakrabkan kami sekaligus dapat mengetahui latar belakang kehidupan keluarga.

Delon terlahir dari kedua orang tua yang telah berangkat ke perantauan sejak setahun yang lalu. Dimana ayahnya merantau ke Bali, sedangkan ibunya ke Marauke. Kini Delon hidup bersama nenek. Keseharian mereka berdua ketika pulang sekolah, selalu diisi dengan membantu kedua orang tua seperti anak-anak pada umumnya.

Namun ada perbedaan dengan yang lainnya, ketika ada jadwal kapal-kapal pelni yang akan bersandar di pelabuhan Tenau Kupang. Hari itu akan menjadi hari ekonomis bagi keduanya, dimana mereka akan mengadu nasib selama kurang lebih 2 jam, bersaing dengan para buruh pelabuhan untuk mendapatkan beberapa rupiah.

Dari pengakuan keduanya, hasil yang diperoleh pada hari-hari tersebut bisa mencapai Rp20.000,00 tergantung ramainya penumpang dan rejekinya masing-masing. Dari hasil tersebut, akan ditabungkan setengah bagian untuk keperluan sekolah, dan sisanya diberikan kepada orang tua. Delon mengungkapkan bahwa hasil yang diberikan kepada neneknya, akan digunakan untuk membeli keperluan makan-minum dalam rumah.

Tentara. Itulah cita-cita kedua siswa ini. Dan keduanya berharap dengan apa yang dilakukannya itu, dapat meringankan beban orang tua, terutama untuk menggapai cita-citanya. Ketika ditanya mengapa ingin menjadi tentara bukan polisi? Delon menjawab biar bisa amankan Tenau yang selalu terkenal dengan kejahatan, karena polisi saja, orang sonde takut.

Ibu Maria yang saat itu sedang menawarkan jasa kedua anak itu, ketika saya tanya mengapa lebih memilih mereka ketimbang buruh pelabuhan mengakui bahwa, buruh pelabuhan dalam menawarkan jasanya selalu tidak dengan cara sopan santun bahkan lebih cenderung memaksa.

Lebih lanjut Ia menyatakan, terkadang tanpa ada kata sepakat langsung dibawanya barang bawaan kita hingga tempat tujuan. Namun sayangnya ketika tiba di sana, kita akan diberi harga yang sangat tidak wajar, dengan kisaran yang mencapai Rp500.000,00, walaupun jaraknya hanya sejauh ruang tunggu menuju ke dalam kapal.

Menurut Delon, Ia beberapa kali membantu ibu-ibu yang kesulitan membawa barang karena menggendong bayinya, dengan tanpa meminta imbalan. Dengan harapan Bunda Maria dan Tuhan Yesus mau mendengarkan doanya untuk dapat menggapai cita-citanya tersebut.

Ketika ditanyakan apakah kegiatan yang dilakukan ini mengganggu aktifitas belajarnya di sekolah? Kata Delon yang lebih aktif dalam diskusi itu "sonde karena kapal biasa maso, saat jam pulang sekolah". Dengan demikian Ia dan temannya lebih leluasa untuk mencari pelanggan.

Keduanya bahkan mengakui jika memiliki beberapa pelanggan tetap, yang sering menjajahkan belanjaannya di atas kapal. 

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya gali dari keduanya, namun stom kapal berbunyi yang menandakan penumpang segerah masuk ke dalam kapal, membuat diskusi kami harus diakhiri. Pada akhir diskusi itu, sayapun tidak lupa memberikan motivasi dan dukungan untuk keduanya agar dapat menggapai cita-citanya, sambil mendoakan agar Tuhan mau memberikan jalan bagi mereka berdua.

Rabu, 26 Agustus 2015

Sambut baru di stasi St. Yosep Ilewutung


Oleh: Jemmy Leumara

"Bersatu dalam kristus", tema singkat yang  mendasari serangkayan perayaan ekaristi komonio suci (sambut baru) di stasi santo Yosep Ilewutung. Perayaan ekaristi yang begitu sakral menitik beratkan pada peneguhan iman katolik anak. 

Perayaan ekaristi suci ini dipimpin langsung oleh pastor paroki Hadakewa Romo Krisrian Uran, pr. Dalam kotbahnya sekitar 30 menit itu, Romo Tian sapaan akrabnya ini, beliau berpesan agar setiap orang tua bisa menjadi teladan yang baik bagi anaknya. Romo Tian tak lupa meyentil peran aktif kepala keluarga dalam membimbing keluarga katolik kecil yang telah dititip Tuhan padanya. 

Perayaan ekaristi ini  lebih terasa hikmat dengan adanya koor yang begitu meriah  dari stasi di daerah terpencil ini. Di akhir perayaan itu, terlihat orang tua dan ke 8 anak yang menerima komunio pertama hari itu sangat bahagia setelah Romo Tian meberikan ucapan terima kasih  bagi mereka satu persatu.

Rangkaiyan komunio pertama ini dilanjutkan dengan kegiatan ramah tama dengan ke 8 anak yang menerima sakramen maha kudus ini. Rangkayan kegiatan yang sangat terasa nuansa kekeluargaan ini di laksanakan di kapela kecil di tengah kampung ilewutung.

Adapun para guru yang menjadi dasar pembentukan iman anak di sekolah ini, turut diundang dalam acara ramah tama tersebut. Kegiatan yang dimotori oleh keluarga anak sambut baru dan aparat desa ini sangat bermakna dan meninggalkan begitu banyak kesan.

Sambutan-sambutan, acara makan minum sampai pada Pembagian rosario oleh Romo Tian menjadi rangakayan kegiatan yang begitu berkesan. Pada akirnya berjabat tangganlah  menjadi puncak dari semua rangkayan kegiatan ini.

Selasa, 18 Agustus 2015

Nasionalisme Ala "Orang Kampung"


APEL HUT KEMERDEKAAN RI KE-70

Dalam rangka memperingati HUT kemerdekaan RI yang ke-70 tingkat desa Lamalela dihadiri oleh barisan siswa/i SDI Ilowutung, barisan siswa/i SMPN Satap Ilewutung, barisan Linmas, Masyarkat, dan juga Undangan.

Bertindak selaku komandan upacara saat itu adalah Gaspar Laga yang juga merupakan guru olahraga SMPN Satap Ilewutung, inspektur upacara adalah kepala desa Lamalela, bapak Paskalis Lili Lengari. Paskibraka masih yang sama dibawah pimpinan saudara Ako yang telah mensukseskan HUT pramuka ke-54 gugus Paehati di Hidalabi desa Banitobo.

Sebagai penutup sambutan Bupati Lembata dalam rangka memperingati HUT kemerdekaan RI KE-70 yang dibacakan di seluruh desa se kabupaten Lembata, sebuah kutipan dari St. Jhon "orang-orang sukses mencintai pekerjaan mereka; .... mereka terus mengembangkan diri ... dan mereka tahan banting menghadapi waktu, kegagalan, dan kemalangan"

Selain membacakan sambutan tersebut, Paskalis Lili Lengari selaku inspektur upacara menyampaikan beberapa hal strategis berkaitan tema kemerdekaan "ayo kerja". Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat agar melaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab antara lain: 1) penetapan dan penegasan batas desa, 2) pembangunan posyandu, dan 3) rabat jalan. 

Selanjutnya ia mengharapkan setiap warga mulai dari, aparat desa, para guru, dan warga masyarakat secara keseluruhan untuk mengisi kemerdekaan dengan caranya sendiri-sendiri dengan tulus ikhlas. Sebab kita bukan berjuang untuk kemerdekaan ini tetapi hanya mengisi kemerdekaan. Sebagai desa yang menyandang status wilayah terpencil, terisolir, dan terpinggirkan (3T) maka mari kita membangun desa ini dengan "hug'e tou-mat'ge tou" yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya "satu hati-satu pikiran"


SEMANGAT NASIONALISME ALA "ORANG KAMPUNG"

Semangat nasionalisme masyarakat desa Lamalela sangat luar biasa walaupun terbilang masih jauh dari kemajuan baik sumber daya manusianya juga pembangunan. Hal ini terlihat saat dikumandangkan pekik kemerdekaan oleh inspektur upacara diikuti seluruh peserta "merdeka...merdeka....merdeka". Begitu pekikan dan semangat semangatnya balasan dari para hadirin dalam upacara tersebut.

Suatu budaya dalam menyambut hari raya keagamaan, hari raya kebangsaan, dan juga hari-hari raya lainnya, selalu didahului dengan berburu bersama oleh para kaum adam (bapak-bapak dan juga pemuda) dalam desa. Ada bagian tertentu dari hasil buruannya akan dikumpulkan pada panitia penyelenggara sebagai lauk pada hari H. 

Selain kegiatan olahraga tradisonal seperti: engran, balap karung, gangsing, dll, turut mewarnai kegiatan ini tos kenegaraan yang di wakili beberapa aparat desa, toko adat, dan tokoh masyarakat. Sebagai penutup dalam setiap kebersamaan, selalu di akhiri dengan makan dan minum bersama (makanan lokal) yang disediakan oleh masyarakat setempat.



HARAPAN KEMERDEKAAN

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 5 pulau besar dan ribuan pulau kecil. Walaupun telah merdeka sejak 70 tahun yang lalu, tetapi pembangunan untuk daerah pelosok memang masih jauh dari sentuhan pemerintah.

Seperti yang disampaikan
bapak Rafael Kupang selaku pemangku adat suku lengari yang juga salah satu staf pengajar SMPN Satap Ilewutung. Terkesan penduduk setempat masih kaku dengan adat istiadat yang tidak seharusnya dipertahankan. Pola pikir masyarakat kita memang perlu diubah misalnya, kekayaan keluarga atau hal lain yang lebih dimanfaatkan untuk kepentingan urusan adat dibanding pendidikan anak. 

Sebab tujuannya untuk merubah wajah desa yang lebih baik dari sekarang. Hal itu dapat terwujud ketika setiap orang memperoleh pendidikan yang layak. Lebih lanjut ia menyatakan "ketika orang berpendidikan, tradisi termasuk sejarah tidak hanya diceritakan saja tetapi dituangkan dalam bentuk tulisan, dengan tetap menghargai tradisi yang telah diwarisi nenek moyang kita"

Sementara bapak Melky Toran, selaku Kepala SMPN Satap Ilewutung dalam kaitan dengan HUT RI KE-70 mengharapkan dukungan dari pemerintah baik dari pusat hingga tingkat desa dalam menyukseskan pendidikan di wilayah terpencil sebagai wujud dari program pendidikan, penuntasan wajib belajar 9 tahun dengan hadirnya lembaga pendidikan SMP di desa Lamalela. Selanjutnya ia mengharapkan agar anak yang tamat dari SD langsung melanjutkan di SMP tanpa harus keluar dari kampung (mencari sekolah yang lain)

Mewakili masyarakat secara keseluruhan, bapak Thomas Pira mengharapkan pada pemerintah pusat dan daerah agar memperhatikan harga komoditi seperti kemiri, biji mete, dan kopra sebagai tumpuan hidup masyarakat setempat. Sebab komoditi merupakan satu-satunya tumpuan masyarakat untuk menunjang ekonomi dalam keluarga termasuk di dalamnya pendidikan anak seperti yang disampaikan bapak Rafael Kupang.

Sabtu, 15 Agustus 2015

HUT PRAMUKA KE-54 GUGUS PAEHATI




NAPAKTILAS PRAMUKA GUGUS PAEHATI

“Pramuka adalah persaudaraan, persahabatan, dan kesetiakawanan. Dalam pramuka kita akan belajar untuk saling peduli, saling menolong, menjadikan alam sebagai ibu kita”. Demikian kata Melkior Toran, A.Ma.Pd selaku Majelis Pembina Gugus (Mabigus) Paehati (Persatuan Sehati) dalam apel pembukaan kegiatan pramuka. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari dengan menjadikan Hidalabi (sebuah desa terpencil di Kabupaten Lembata) sebagai bumi perkemahan.

Kegiatan ini melibatkan sekolah-sekolah yang berada di gugus Paehati antara lain, SMPN Satap Ilewutung, SDI Ilowutung, SDK Nuba Lamatuka, dan SDK Lamatuka, juga adalah sekolah-sekolah yang menjadi bagian dari Siaga dan Penggalang. Semuanya terlibat aktif. Hal ini menciptakan tali-persaudaraan yang begitu hangat.

Kaka Stefanus Pito Dalo selaku koordinator pembina siaga merasa bahwa kegiatan pramuka sangat penting untuk membentuk kemandirian anak. “pramuka adalah kekuatan yang harus dimanfaatkan untuk membentuk karakter siaga dan pengggalang menjadi pribadi yang mandiri”. Spirit ini, begitu antusias ditanggapi oleh para siaga dan penggalang dengan menyanyikan yel-yel pramuka.

Para siaga dan penggalang kemudian dipisahkan ke dalam tujuh kelompok dengan didampingi kakak-kakak pembina antara lain; kakak Katarina Liban, kakak Antonia Bura, kakak Antonia Uak, kakak Agustina Loman, kakak Helena Abon, kakak Niko Lowai, kakak Don Bosko Tobe, kakak Jemy Leumara, kakak Hyronimus Lado, kakak Ferdi Keor, kakak Kanisius Tome, kakak Stefanus Pito Dalo, kakak Gaspar Laga, kakak Edigius Kedawu, kakak Gabriel Gawi, kakak Antonius Da Silva. Mereka dengan tulus dan tegas mendampingi para siaga dan penggalang.

Aneka kegiatan seperti; hiking, mencari jejak, membaca tanda, menterjemahkan kode, menyanyikan yel-yel pramuka, menjadi penyemangat. Terlebih lagi masyarakat setempat turut serta dalam kegiatan pramuka kali ini dengan menyumbangkan makanan dan minuman sebagai bekal perjalanan Lintas Alam ke Wae Bla’ang.

Sesudah menempati kelompok masing-masing, kegiatan selanjutnya adalah mencari jejak. Kegiatan ini menjadikan Wae Bla’ang sebagai tujuan dari para siaga dan penggalang. Dalam konteks masyarakat setempat “Wae” yang artinya “Air”, dan “Bla’ang” yang artinya “Besar” adalah suatu tempat unik berupa aliran sungai yang berada di tengah hutan. Untuk mencapai tempat ini, para siaga dan penggalang harus melewati hutan, mendaki, dan menurun terjalnya bukit, dengan jarak kurang lebih 4,5 km dari bumi perkemahan Hidalabi.

Sebelum tiba di Wae Bla’ang, para siaga dan penggalang harus melewati “duang” suatu tempat yang dikeramatkan masyarakat setempat. Duang yang dalam konteks orang-orang setempat artinya “hutan yang penuhi pohon-pohon besar” ini dipenuhi hutan enau. Konon dikisahkan bahwa ada seorang leluhur (Bapak Alo namanya), yang pertama kali datang, tinggal, dan kemudian meninggal di sana. Rohnya akan murka, jika kita datang atau melewati tempat itu dengan tujuan atau niat yang jahat. Oleh karena itu, kita harus menyucikan niat kita sebelum melewati area itu dengan cara diperciki air (yang ada di tempat itu) oleh salah seorang penduduk setempat.

Selama perjalanan itu, para pembina memberi motivasi dan menjelaskan tentang cara-cara yang harus dilakukan untuk menemukan “kotak rahasia”. Kotak rahasia merupakan sebuah permainan mencari harta karun yang menuntut kreativitas dan kekritisan para siaga dan penggalang.

Tak terasa para siaga dan penggalang menghabiskan waktu kurang lebih 4 jam untuk tiba di lokasi. Sungguh sebuah pemandangan mempesona mata, karena di tengah hutan kelapa terdapat sungai yang mengalir, menjadikan tempat ini indah untuk melepaskan kepenatan. Wajah-wajah puas dan kebahagiaan begitu nampak. Para siaga dan penggalang kemudian diberi kesempatan untuk menikmati indahnya alam Wae Bla’ang.

Para pembina begitu bersemangat untuk menunjukkan tekad bahwa mereka juga bagian dari Praja Muda Karana. Mencari kayu api, menyusuri sungai untuk menangkap ikan, udang, kepiting, dan katak (sebagai lauk untuk santapan siang), bakar ubi dan pisang, semuanya mereka lakukan dengan penuh semangat.

Tampak jelas bahwa para siaga, para penggalang dan pembina menyatu dalam satu raga, satu roh, dan satu cinta yakni pramuka. Menjadi bagian dari pramuka ternyata mengubah dan menciptakan sebuah persatuan dari sekian banyak perbedaan. Dan Wae Bla’ang menjadi saksi atas semua itu.

MALAM API UNGGUN

Cerita indah seorang siaga atau penggalang tak akan lengkap tanpa malam api unggun. Mengapa? “karena api unggun adalah simbol semangat para siaga dan penggalang yang akan membakar segala keburukan masa lalu mereka, dan membentuk kepribadian yang lebih baik” demikian kata Gaspar Laga selaku koordinator pembina penggalang.

Api unggun itu Pancasila. Api unggun itu Dasa Darma yang akan memberi kekuatan sekaligus menjadi pedoman hidup bagi Praja Muda Karana untuk bisa mengabdi pada tanah air dan bangsa. Dalam pesan singkatnya sebagai salah satu Mabigus, Yohanes Pito Lenny mengatakan bahwa “pramuka adalah pemersatu. Pramuka adalah sebuah rantai yang mengikat kita dengan cinta persaudaraan. Jagalah dan simpanlah itu dalam hati kita masing-masing”.

Kegiatan malam api unggun ini menjadi begitu hikmad ketika kakak Jemy Leumara membacakan puisi buah karyanya “aku siaga, kamu penggalang, semangat cinta tanah air kami, jangan kau tanyakan, panasnya akan membakar, setiap niat yang akan menghalang, jangankan kamu, dia atau pun mereka”. Itulah sepenggal puisi yang begitu menyentuh setiap hati malam itu. Malam yang penuh cinta akan kenangan persaudaraan yang diwujudkan dalam nyanyian-nyanyian indah para Praja Muda Karana. Kami pramuka gugus paehati mencintai alam yang adalah ibu kami, mencintai sesama yang adalah saudara kami.

HUT PRAMUKA KE-54 GUGUS PAEHATI

Berkat kerja keras dan buah kesabaran Gaspar Laga selaku koordinator pembina penggalang yang juga menangani khusus para pasukan pengibar bendera, apel HUT Pramuka ke-54 gugus Paehati tahun ini di Hidalabi memberi warna yang berbeda. Dibawa pimpinan Ako (sapaan Mikhael Naran) salah satu penggalang yang kini duduk di kelas 9 SMPN Satap Ilewutung, begitu tegap dan rapih seoalah-olah kita sedang mengikuti upacara apel bendera di istana negara.

Dengan diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dipimpin langsung oleh kakak Tina (sapaan Agustina Loma) salah satu guru SDI Ilowutung, bendera dengan ukuran panjang 2,5 m dan lebar 1,4 m dikibarkan dengan sempurnah di atas tiang bambu oleh pasukan pengibar bendera yang berdampingan langsung dengan bendera Pramuka. Selain siaga dan penggalang, peserta apel bendera juga dihadiri oleh masyarakat setempat. Yang hadir saat itu berjumlah sekitar 30 orang, terdiri dari anak yang belum berusia sekolah, orang dewasa dan juga lansia.

Dalam sambutannya selaku pembina pada upacara apel bendera memperingati HUT Pramuka ke-54 tanggal 14 Agustus 2015 kali ini, Melki Toran mengajak para peserta terutama para siaga dan penggalang untuk belajar hidup dari cermin. Lebih lanjut Ia mengatakan cermin adalah diri kita, dan banyangan dalam cermin adalah jiwa kita. Sebab cermin selalu memberikan bayangan apa adanya, walaupun pada dasarnya bayangan dalam cermin terkesan terbalik (kiri menjadi kanan dan sebaliknya). Oleh karena itu, cermin perlu dijaga agar tidak retak, sebab cermin yang retak akan menujukkan bayangan yang tidak sempurnah.

Selepas upacara tersebut, semua peserta termasuk masyarakat yang hadir saat itu saling berjabatan tangan dan membagi senyuman. Dipenghujung sebelum perpisahan, semua yang hadir saat itu diajak untuk makan dan minum bersama oleh Melki Toran selaku Mabigus yang juga merupakan salah satu putera dusun itu. Ini suatu budaya yang masih dijaga dengan baik sejak dahulu kala. Tetapi jangan bertanya “dari mana anggarannya?”, sebab semuanya lokal. Mulai dari kebaku (kacang hutan), jagung titi, daging (hasil buruan masyarakat setempat), dan dilengkapi dengan tuak (aren hasil sadapan dari pohon lontar). Semua disuguhkan dengan tulus oleh masyarakat setempat. Terimakasih Hidalabi, terimaksih untuk kebersamaan ini.