Asosiasi Guru Penulis Lembata
Hadiah Buku Pendidikan Matematika Realistik yang diberikan oleh Arie Wibowo, M.Pd guru matematika asal Kalimantas Selatan dalam momen Olimpiade Guru Nasional Tahun 2018 di Hotel D'Max, Praya, Lombok, Nusa Tenggara Barat tanggal 4 - 8 Mei 2018
Perwakilan NTT
Lima perwakilan NTT dalam ajang olimpiade guru nasional tahun 2018 yang terdiri dari guru mata pelajaran Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, dan guru kelas SD bersama para petinggi Kesharlindung Dikdas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Busana Daerah Papua
Bersama perwakilan guru asal Papua dalam ajang olimpiade guru nasional tahun 2018 saat malam penutupan, yang diwarnai dengan kekaragaman busana daerah masing-masing
Display Inovasi Pembelajaran
Menyanggahi pertanyaan para juri pada tahapan display dalam ajang Inovasi Pembelajaran tahun 2017 di Hotel Mercure Harvestland, Kuta, Bali, tanggal 4 - 8 September 2017
Wisata ke Pandawa
Diberikan kesempatan oleh panitia inobel untuk wisata bersama kelompok MIPA. Ini adalah salah satu destinasi wisata di Bali yang saya senangi
Kamis, 15 Juni 2023
Jumat, 21 Januari 2022
Desain Pembelajaran Berorientasi AKM
Mungkin akan muncul di benak para pembaca sekalian, mengapa harus AKM? Bukankah AKM itu hanya pemetaan mutu? Ya, demikian dugaan saya ketika para pembaca melihat sepintas judul dari tulisan ini. Namun tidak dapat dipungkiri jika masih ada banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang dapat saja dimunculkan ketika mulai membaca tulisan ini.
Perlu kita ketahui bersama bahwa pendidikan di Indonesia saat ini memang masih dalam tahapan pengembangan, dimana pengembangannya selalu mengarah pada penyempurnaan, bukan memulai sesuatu yang baru ya. Apalagi punya pandangan miring bahwa setiap ganti menteri pendidikan, ganti kurikulum. Bukankah melakukan hal yang sama secara berulang-ulang dan berharap hasil yang berbeda adalah gila menurut Albert Einstein.
Demikianlah pandangan yang sama dari ke-6 pimpinan satuan pendidikan tingkat SMP yang tergabung dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Kecamatan Lebatukan. Semula dengan pola menggabungkan para guru melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) masing-masing untuk “merancang” rencana pembelajaran, namun kali ini agak agak sedikit berbeda karena didahului dengan berbagi pengalaman pembelajaran pada semester sebelumnya, atau lebih dikenal dengan istilah refleksi atau Mulai Dari Diri dalam alur MERRDEKA pada program pendidikan guru penggerak.
Dalam berbagi pengalaman yang dilakukan bersama para pengawas sekolah, yang juga turut diundang dalam MKKS dan MGMP tersebut ternyata lebih banyak bersifat curhat yang mengacu pada paradigma lama yaitu menghabiskan materi pembelajaran, siswa sebagai subjek yang harus disalahkan, modul adalah satu-satunya sumber pembelajaran yang cocok di daerah 3T, praktik tidak dapat dilakukan dan minimnya waktu. Pada intinya pandemi covid19 adalah faktor penyebabnya.
Kenyataan sudah jelas bahwa Ujian Nasional (UN) sudah ditiadakan dan diganti dengan Asesmen Nasional (AN), yang mana hanya diambil sampel siswa seperti dalam pengisian angket Pemetaan Mutu Pendidikan (PMP) sebagai Evaluasi Diri Sekolah (EDS) yang selama mungkin sudah terbaca oleh menteri, jika hal itu hanya dilakukan oleh operator sekolah berdasarkan Internet Protocol (IP) Address yang tampil. Sehingga hasilnya selalu berbentuk segi-8 sempurna yang menggambarkan pemenuhan atas 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang ditetapkan.
Padahal jika dilihat hasil EDS dan kenyataan di lapangan itu berbanding terbalik. Dimana tujuannya untuk melihat mutu pendidikan di setiap satuan pendidikan mulai dari kompetensi guru, hingga pada pengelolaan keuangan. Namun karena selalu diabaikan, maka tidak heran jika mutu pendidikan kita selalu berada di tempat dan tidak menunjukkan adanya peningkatan. Ko saya jadi tukang kritis ya? Ya sudah, mari kita kembali ke kegiatan MKKS dan MGMP ya!
Berdasarkan pengalaman yang dibagikan teman-teman dalam MGMP, maka selaku Duta Rumah Belajar Nusa Tenggara Timur (DRB NTT) tahun 2021, dan juga pengajar praktik program guru penggerak yang diundang sebagai pemateri saat itu, tentunya harus ada sesuatu yang dapat menggugah atau setidaknya menginspirasi agar adanya perubahan seperti yang diharapkan ke-6 pimpinan di sana. Selain yang diharapkan para pimpinan, tentunya tidak terlewatkan untuk mensosialisasikan rumah belajar. Seperti kata rekan-rekan DRB, apa pun pelatihannya kemasannya harus memuat sosialisasi rumah belajar. Oleh karenanya dalam kegiatan ini atribut rumah belajar menjadi pilihan saya selaku DRB NTT 2021.
Saya awali dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggugah atau dikenal dengan pertanyaan pemantik seperti dalam program pendidikan guru penggerak antara lain; bukankah setiap tantangan harus dihadapi, bukankah hasil AKM yang dinilai adalah guru, bukankah kita sudah berada pada zaman modern, bukankah kita punya budaya dan sumber daya alam yang kaya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti menggugah dan membangkitkan semangat baru bagi 60an guru yang hadir saat itu.
Seperti mengalami pembaharuan, atau diinstall ulang dalam ilmu komputer menurut salah satu Calon Guru Penggerak (CGP) dampingan saya. Mereka kemudian memiliki komitmen yang kuat untuk memulai sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Itulah yang terjadi di hari pertama. Pada paruh waktu pertama di hari kedua, saya menyajikan teori sekaligus pengalaman saya dalam mendesain pembelajaran yang tentunya berorientasi Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) sesuai permintaan panitia pelaksana.
Desain pembelajaran yang berorientasi AKM harus memenuhi tiga komponen utama yaitu, konten, proses kognitif dan konteks yang bermuara pada kecakapan yang paling mendasar, yang harus dimiliki seseorang untuk berkontribusi dalam lingkungan masyarakat yaitu literasi dan numerasi. Dimana sesuai pengalaman saya dalam pembelajaran matematika yang mengangkat konteks dari sosial budaya tentang kasus penyebaran covid19. Sedangkan proses kognitif pada bidang literasi tentang menginterpretasikan sebuah gambar grafik yang adalah kontennya, dan penalaran pada bidang numerasi dimana dijelaskan secara saintifik mengapa kita harus melakukan phisical distancing.
Pada paruh waktu kedua, mereka diminta untuk mendesain sebuah perencanaan pembelajaran yang tentunya kontennya disesuaikan dengan permendikbud nomor 37 tahun 2018 tentang Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran kurikulum 2013 pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah, dan Surat Edaran (SE) mendikbud nomor 14 tahun 2019 tentang penyederhanaan perencanaan pembelajaran. Dimana didahului dengan pemilihan KD yang tentunya disesuaikan dengan karakteristik siswa berdasarkan pengalaman yang telah dibagikan sebelumnya.
Setelah menentukan KD, langkah selanjutnya adalah memikirkan atau mencari konteks dari berbagai sumber yang cocok untuk diangkat dalam pembelajaran yang tentunya disesuaikan dengan karakteristik dan budaya masyarakat setempat. Setelah menentukan konteks, langkah selanjutnya adalah memilih model-model pembelajaran yang langkah-langkahnya cocok dengan konteks yang dipilih dan tentunya sesuai yang disarankan dari kemdikbud ristek selama masa pandemi seperti; discovery learning, inquiry learning, problem-based learning, dan project-based learning.
Rencana pembelajaran yang didesain memuat 3 komponen utama sesuai SE yaitu; tujuan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran sesuai model yang dipilih dan yang terpenting adalah asesmen. Hingga menjelang waktu usai sesuai yang terjadwal, rata-rata masing-masing MGMP telah menyelesaikan rencana pembelajaran. Namun asesmen sepertinya hanya sekedar sebagai pelengkap dan masih menitikberatkan pada aspek pengetahuan yang dapat dilakukan melalui assessment of learning, dan mengabaikan aspek sikap dan keterampilan pada assessment as learning dan assessment for learning.
Berdasarkan evaluasi dari capaian yang telah diperoleh masing-masing MGMP, maka pada penghujung hari kedua kita membuat komitmen untuk menambah waktu dihari ketiga mengenai asesmen. Dan pada satu jam pertama dihari ketiga menjadi penentuan pemahaman mereka mengenai assessment as learning dan assessment for learning. Sehingga satu jam berikutnya digunakan untuk mendesain asesmen sesuai tujuan pembelajaran masing-masing yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan, atau lebih sering dikenal dengan afektif, kognitif, dan psikomotorik. Berikut rancangan pembelajaran yang dihasilkan kelompok MGMP Pendidikan Agama Katolik yang akan berperan dalam peer teaching.
Sebelum berakhir, ada kesempatan peer teaching berdasarkan undian yang telah disiapkan oleh MKKS, sehingga semua kelompok MGMP memiliki peluang yang sama. Benar saja, mereka kelihatan begitu percaya diri ketika undian jatuh pada kelompoknya. Dengan sesegera mungkin perwakilan dari masing-masing anggota kelompok MGMP tampil sebagai guru, dan yang lainnya menempatkan diri sebagai siswa tanpa memandang jabatan dan usia. Berikut adalah penampilan yang luar biasa dari kelompok MGMP Pendidikan Agama Katolik yang diperankan oleh Kasimirus Tepi, S.Ag guru dari SMP Negeri 5 Lebatukan. Berikut video yang menggambarkan kegiatan peer teaching yang dimaksud. Mohon maaf jika masih belajar menggunakan gimbal ya.
Sebagai akhir dari kegiatan ini, saya diberikan kesempatan untuk memberikan masukan dan juga kesimpulan yang mana saya manfaatkan untuk menggugah mereka, bahwa dunia pendidikan saat ini sudah mengalami perubahan yang sangat pesat dengan menayangkan dua slide power poin. Slide pertama berisi tentang perkembangan revolusi industri mulai dari 1.0 hingga society 5.0 yang turut mempengaruhi dunia pendidikan saat ini. Dan slide kedua berisi apa yang dilakukan seorang guru untuk menghadapi perubahan saat ini dengan istilah MaRKiRid sebagai akronim dari Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif, dan Berpihak pada murid.
Jumat, 12 November 2021
Optimalisasi Sumber Belajar di Daerah 3T
Upgrade diri
Melahirkan pembelajaran yang terintegrasi dengan ICT merupakan suatu kewajiban seorang guru di era ini. Dimana ICT merupakan salah satu komponen penting dalam literasi sebagai bagian dari kecakapan abad 21. Berdasarkan hal tersebut, pemerintah Indonesia melalui kementerian pendidikan kebudayaan ristek dan teknologi selalu mendorong guru di seluruh Nusantara untuk melakukan pembelajaran yang demikian, dengan memberikan bantuan peralatan TIK melalui BOS afirmasi dan BOS kinerja sejak tahun 2019.
Walau demikian tidak bisa kita pungkiri, bahwa di lapangan masih banyak peralatan tersebut tidak dimanfaatkan pihak sekolah dan terkesan mubasir. Padahal semuanya sudah cukup lengkap mulai dari komputer server, laptop, tablet, chrome book, dan routher/wifi. Lalu apa yang menjadi kendala sehingga tidak digunakan? Ternyata jawabannya sudah dapat ditebak, bahwa kelengkapan peralatan tersebut tidak disertai dengan tenaga teknis dalam pengelolaannya. Lantas apakah guru dapat menjadi tenaga teknisnya?
Memang demikian yang diinginkan kementerian, bahwa pengetahuan guru tentang ICT perlu ditingkatkan dan terkesan sedikit dipaksakan untuk melahirkan generasi yang lebih melek ICT sesuai tuntutan zaman. Sehingga guru perlu mengupgrade dirinya melalui pelatihan-pelatihan secara online yang lebih fleksibel dalam hal manajemen waktu melalui SSO sim pkb, atau juga dapat berkolaborasi dengan rekan guru melalui MGMP atau KKG.
Bagi seorang guru yang sudah familiar dengan dunia jaringan lokal, maka ketika melihat peralatan yang disumbangkan kementerian tentunya akan disambut dengan gembira. Namun sebaliknya tentu dianggap mubazir dengan alasan jaringan internet yang tidak memadai, bahkan tidak ada jaringan sekalipun hanya berupa jaringan telepon. Karena bekerja secara lokal tentunya tidak membutuhkan jaringan internet bahkan jaringan telepon sekalipun. Karena yang dibutuhkan hanyalah sumber arus listrik. Dimana di daerah 3T, dapat diatasi dengan genset atau listrik tenaga surya.
Sebagai guru, kita hanya membutuhkan pengetahuan tambahan mengenai topologi jaringan lokal. Tidak perlu berpikir seperti laboratorium komputer yang dipenuhi dengan kabel-kabel LAN, sebab diera ini teknologi sudah dikembangkan secara nirkabel atau tanpa kabel. Bahkan kita dapat menjalankan sebuah jaringan lokal hanya bermodalkan laptop dan smartphone. Karena pada smartphone telah disematkan fitur hotspot yang fungsinya sama dengan routher. Hanya saja jumlah koneksinya masih sangat terbatas.
Berbicara mengenai topologi jaringan secara nirkabel di daerah 3T, maka yang dibutuhkan hanyalah komputer/laptop yang dijadikan server, dan routher sebagai jembatan. Karena routher secara default telah diberikan IP dan juga password wifinya, maka fokus kita hanya membuat setingan tambahan pada server kita agar dapat diakses oleh komputer/laptop/chromebook/tablet/smartphone client. Caranya cukup simple, hanya menonaktifkan windows defender firewall melalui control panel. Agar lebih mudah memahaminya, telah saya sediakan video tutorial untuk membantu Anda melakukannya dari awal. Dalam video juga dijelaskan bagaimana setting mesin VHD rumah belajar. Silahkan klik play untuk menonton
Contoh pemanfaatan rumah belajar secara offline
Setelah disetting seperti tayang dalam video di atas, maka harapannya rumah belajar sudah dapat dimanfaatkan secara lokal area bersama siswa di kelas Anda. Walau hanya terbatas untuk fitur sumber belajar, tetapi setidaknya sudah memberikan kesan tersendiri terhadap siswa Anda bahwa, tidak ada kemustahilan dalam digitalisasi sekolah sekalipun berada di daerah 3T. Sumber belajar yang tersemat melalui VHD rumah belajar, sudah memuat konten berbasis web yang memuat teks, gambar, video, bahkan media interaktif yang dapat menuntun siswa untuk memahami suatu konsep yang abstrak.
Dalam pembelajaran IPA khususnya materi tumbuhan misalnya, terdapat konten video yang menjelaskan tentang struktur tumbuhan monokotil dan dikotil, dan juga media interkatif yang dapat menuntun siswa kita untuk membedakan bagian-bagian tumbuhan. Atau dalam pembelajaran matematika mengenai aritmetika social misalnya, ada media interaktif yang disematkan sehingga siswa kita dapat memanfaatkannya dalam kegiatan belajar dengan konsep belajar sambil bermain.
Mengenai pemanfaatan rumah belajar dalam proses pembelajaran secara offline, terutama dalam pembelajaran matematika sudah saya lakukan dalam kelas saya sendiri. Dan untuk meyakinkan pembaca sekalian, berikut saya sematkan vlog mengenai pemanfaatan fitur sumber belajar secara oflline dalam pembelajaran matematika di SMP Negeri 2 Nubatukan dengan model pembelajaran project-based learning pada tahapan monitor kemajuan proyek dalam kegiatan PTMT.
Adapun proyek dalam vlog tersebut dikerjakan secara berkelompok berdasarkan masalah yang diamati pada lingkungan sekitar siswa. Pembelajarannya berdiferensiasi dengan menekankan pada alternatif solusi yang berbeda untuk mengatasi masalah yang diangkat. Sehingga yang nampak dalam vlog ini adalah kelompok yang membahas tentang permasalahan pemasaran yaitu strategi menjangkau pelanggan dengan menerapkan promosi melalui pemberian diskon yang merupakan bagian dari aritmetika sosial.
Collaboration is key
Rasanya tidak cukup bagi seorang pendidik, bila ilmu yang dimilikinya hanya dikonsumsi secara pribadi. Oleh karenanya berbagi menjadi bagian terpenting dalam sebuah proses. Karena dengan berbagi ilmu kita semakin bertambah dengan cara berefleksi, menemukan kendala dan memikirkan alternatif solusi yang lain. Sebagai Sahabat Rumah Belajar (SRB) yang menjadi juru kampanye rumah belajar di masing-masing daerah adalah tugas yang mulia. Dan modal terbesar untuk mewujudkan membuminya rumah belajar adalah kolaborasi. Karena tanpa kolaborasi kita tak akan memiliki pengikut. Hal itu searah dengan semboyan rumah belajar yaitu belajar di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja.
Dan saat ini, fokus para SRB adalah berkolaborasi untuk membumikan rumah belajar melalui kegiatan sosialisi. Dalam melakukan sosialisasi untuk daerah-daerah yang fasilitasnya serba ada, mungkin tidak ada tantangan yang berarti. Tetapi akan sangat menantang bagi daerah-daerah yang masih serba terbatas failitasnya. Dan disanalah butuh kreatifitas dari seorang SRB, dengan menempatkan keterbatasan itu sebagai tantangan utama. Mulai dari akses menuju ke lokasi yang jauh dan sulit dijangkau sampai pada terisolir dari jaringan telepon yang menyebakan sulitnya komunikasi yang dibangun. Video berikut menunjukkan sosialisasi pemanfaatan fitur-fitur rumah belajar secara daring rumah berkat kolaborasi antara SRB NTT, Sulteng dan Gorontalo
Tantangan-tangan tersebut dijadikan mozaik untuk mewujudkan seyum pada wajah para generasi emas Lembata. Dan benar saja bahwa dari sejumlah sekolah yang disinggahi SRB selalu memberi warna dan semangat tersendiri bagi mereka generasi di pelosok. Dan berikut adalah beberapa momen yang diabadikan dalam upaya membumikan rumah belajar di pelosok Lembata. Silahkan play untuk menjalankannya
Selasa, 28 Juli 2020
The MAth Comic dalam PJJ Luring
Minggu, 28 April 2019
Soal & Pembahasan Ujian Nasional Matematika SMP/MTs Tahun 2019
Kamis, 04 April 2019
Soal dan Pembahasan USBN Matematika SMP/MTs Tahun 2019
Note: share bila merasa artikel ini bermanfaat
Rabu, 27 Februari 2019
Kisah Laba Hadung dan Awololong
| sumber: Naskah Asli Sejarah Asal Usul Laba Hadung |
- Moo Ona (disebelah milik dari orang gunung api)
- Keroko Wolo idem
- Heker One idem
- Keneraj Wewang (berbatasan dengan suku Leworonga)
- Paga Wora Wolowutung idem
- Ketatar Wuwung (berbatasan dengan tanah milik suku Pukalolon)
- Wato Mita idem
- Liang Bura idem
- Lapaj Kotek (Berbatasan dengan tanah milik susku Lamalerek)
- Eto Haum idem
- Wato Golot idem
- Kajo Pukang (Berbatsan dengan tanah milik suku Ataudjan)
- Kima Epu idem
- Benakap Liang idem
- Koli Ubuaja idem
- Wato Kerbau idem
- Baok Raget idem
- Emi Horopeti (Berbatasan dengan tanah milik orang dari Udek)
- Ledo Knering idem
- Wai Bao idem
- 1Wato Keluli idem
- Lehem Baring idem
- 1Wuka Krengar (Berbatasan dengan tanah milik orang dari Kawela/Belang)
| Sumber: Naskah Asli Sedjarah Asal Usul Laba Hadung |
Selasa, 22 Januari 2019
Buang Sial
Senin, 21 Januari 2019
JENGGER ternyata sangat mujarab (traditional medicine)
Senin, 07 Januari 2019
tutorial membuat akun di kesharlindung
Hanya saja nomor unik pendidik dan tenaga kependidikan (NUPTK) menjadi syarat mutlak untuk mengikuti berbagai kegiatan perlombaan yang diadakan kemdikbud seperti olimpiade guru nasional (OGN), inovasi pembelajaran (Inobel), dan anugerah konstitusi, atau pun kegiatan pengembangan diri seperti bimbingan teknis perlindungan profesi, seminar nasional, dan literasi.
Bagi anda yang masih belum memiliki NUPTK silahkan hubungi operator sekolah anda untuk melakukan proses pengusulan. Selain NUPTK yang menjadi syarat mutlak dalam melakukan pendaftaran syarat wajib lainnya adalah email yang masih aktif. Hal ini untuk konfirmasi akun dari system sebelum anda login.
Baik NUPTK maupun email, keduanya dapat digunakan sebagai username atau nama pengguna. Sehingga dalam pengajuannya anda hanya perlu mengususlkan password tidak untuk username. Untuk memulainya silahkan ikuti langkah-langkah berikut:
- Buka mesin browser anda misalnya chrome dan ketikkan alamat https://kesharlindungdikdas.id untuk guru SD/MI dan SMP/MTs sedangkan https://kesharlindungdikmen.id bagi guru SMA/MA dan SMK
- Klik pada menu Daftar
- Langsung pada kolom NUPTK, isikan NUPTK anda dan klik pada tombol cek, maka secara otomatis nama dan NIK anda akan terbaca oleh system
- Isikan semua kolom wajib yang bertanda bintang (*) yang tanpa tanda bintang boleh diabaikan
Apabila memasukkan NPSN sekolah anda, dan belum terbaca oleh system, maka tugasmu adalah menambahkan data sekolah dengan cara klik pada tombol tambah sekolah maka akan tampil sebuah halaman baru untuk anda bekerja. Setelah mengisi semua data secara lengkap dan benar, klik pada tombol simpan maka secara otomatis data sekolah anda sudah masuk ke dalam system.
Untuk lebih jelas silahkan simak video tutorial berikut ini
Semoga bermanfaat. Salam
Selasa, 05 Juni 2018
Tutorial Mendaftar ke LMS Schoology untuk Pemula
- Silahkan pilih mesin brows Anda misalnya google chrome dan ketikkan alamat situs berikut ini https://www.schoology.com/ dan klik pada sign up seperti gambar berikut
- Secara otomatis Anda akan diarahkan ke halaman register dengan tiga pilihan. Silahkan klik pada button Instructor seperti gambar berikut
- Ketika Anda memilih button instructor maka akan tampil suatu formulir yang harus diisi seperti gambar berikut
- Silahkan entri sesuai dengan data diri Anda. Nama Depan untuk kolom First Name, Nama Belakang untuk kolom Last Name, alamat email untuk kolom Email Address, sandi yang mudah diingat untuk kolom Password, ulangi sandi untuk kolom Confirm Password. Jangan lupa untuk memberi tanda centang pada tulisan i'm not a robot, dan pada tulisan By clicking Register, you are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use
- Pastikan semua kolom telah terisi dengan benar sesuai data diri Anda dan klik pada tombol Register maka akan tampil suatu formulir baru untuk menentukan sekolah seperti pada gambar berikut
- Klik pada United States untuk menentukan Negara Anda, scrol untuk mencari serta memilih negara Indonesia. Secara bersamaan pilihan Select Sstate akan hilang. Silahkan tulis nama kota/kabupaten And pada kolom City misalnya Lembata. Pada kolom School silahkan isi nama sekolah Anda misalnya SMA Negeri 1 Lebatukan, dan klik pada gambar search (seperti kaca pembesar) untuk mencari sekolah Anda. Jika tidak terdapat dalam pencarian, maka teruskan scrol ke bawah menggunakan mouse hingga menemukan tulisan Request to Add Your School seperti pada gambar berikut
- Silahkan klik pada tulisan Request to Add Your School, maka akan tampil suatu formulir sekolah baru yang perlu diisi seperti gambar berikut
- Pada kolom Select a category pilih Primary/Secondary (K-12). Pada kolom Street Address isi alamat sekolah Anda misalnya Jl.Trans Lembata, Hadakewa. Pada kolom ZIP/Postal Code silahkan isi kode pos misalnya 86681. Pada kolom School Website/Directory silahkan isi situs sekolah Anda misalnya www.sman1lebatukan.sch.id. Jika sekolah belum memiliki situs resmi, maka beri tanda centang pada tulisan My school does not have a website.
- Pastikan semua data yang diisi seudah benar dan klik pada button Submit Your Request maka secara otomatis Anda dibawa ke dalam sistem LMS schoology dengan keterangan berhasil seperti gambar berikut
- Selamat Anda telah sukses masuk ke dalam sistem LMS schoology
Selasa, 29 Mei 2018
Petunjuk
- Klik pada Menu E-LEARNING dan pilih Register, maka secara otomatis Anda diarahkan ke dalam sistem yang telah kami sediakan
- Silahkan klik pada sign up dan pilih sebagai student, masukkan kode akses NX95P-5TWWB, dan klik continu
- Maka akan tampil kotak dialog yang perlu diisi seperti Nama Depan pada kolom First Name, Nama Belakang pada kolom Last Name, Email atau Nama Pengguna pada kolom Email or Username, Sandi pada kolom Password, dan ulangi sandi pada kolom Confirm Password, Tanggal Lahir pada kolom Birthday
- Klik pada kotak By clicking Register, you are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use
- Klik pada tombol Register
- Jika berhasil, klik pada Courses dan pilih Aljabar: Bagian 1
Senin, 28 Mei 2018
Kisah Inspiratif Sang Natali
Jumat, 25 Mei 2018
Download Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah
- Wali kelas (2 Jam Tatap Muka)
- Pembina Osis (2 Jam Tatap Muka)
- Pembina Ekstrakurikuler (2 Jam Tatap Muka)
- Koordinator Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)/Penilaian Kinerja Guru (PKG) (2 Jam Tatap Muka)
- Koordinator Bursa Kerja Khusus (BKK) (2 Jam Tatap Muka)
- Guru Piket (1 Jam Tatap Muka)
- Ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSP-P1) (1 Jam Tatap Muka)
- Penilai Kinerja Guru (2 Jam Tatap Muka)
- Pengurus Organisasi/Asosiasi Profesi Guru tingkat:
- nasional (ketua umum, sekretaris jenderal, ketua, wakil ketua, dan sekretaris) (3 Jam Tatap Muka untuk guru mata pelajaran)
- provinsi (ketua dan wakil) (2 Jam Tatap Muka untuk guru mata pelajaran)
- kabupaten/kota (ketua) (1 Jam Tatap Muka untuk guru mata pelajaran)








